Liputan6.com, Jakarta - Di jantung Kota Makassar, ada sebuah kanal yang perlahan kehilangan nyawanya. Bukan karena kekeringan, melain karena ulah tangan-tangan yang tak bertuan.
Kanal Pasar Terong, yang semestinya menjadi urat nadi air kota, kini berubah menjadi kubangan panjang yang penuh sesak oleh plastik, styrofoam, dan sisa-sisa kehidupan urban.
Advertisement
Potret Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk
Pukul sembilan pagi, Matahari Makassar sudah terik menyengat. Di Pasar Terong, aktivitas jual beli sayur mayur dan ikan masih ramai. Namun, di belakang lapak-lapak kayu yang lapuk, tepat di bibir kanal, seorang pedagang perempuan dengan sarung lusuh menuntaskan rutinitas paginya.
Tanpa ragu, ia menuangkan sisa air cucian ikan yang bercampur plastik kemasan ke dalam aliran air hitam pekat di bawahnya. Plak! Suara benda jatuh ke air terdengar berat, seperti batu yang diikat rasa bersalah, namun tak ada raut bersalah di wajahnya.
Dari kejauhan, kanal itu tampak seperti permadani raksasa bermotif warna-warni. Merah dari kantong kresek, putih dari sterofoam bekas wadah makanan, hijau dari daun pembungkus yang mulai lapuk. Tapi saat didekati, keindahan semu itu sirna. Bau menyengat bercampur amonia dan sampah busuk langsung menyerang indra penciuman, membuat siapa pun yang mendekat terpaksa menahan napas.
“Sudah biasa mi’ itu,” ucap Dg Ali, seorang tukang becak yang mangkal di pinggir jembatan kecil, Jumat (13/2/2024).
Ia menunjuk ke arah tumpukan sampah yang menggunung di sudut kanal, tepat di bawah plang larangan membuang sampah yang sudah pudar tulisannya.
“Kalau hujan besar, airnya naik sampai ke jalan. Sampah-sampah ini yang bawa. Tapi besoknya, orang buang lagi. Terus begitu.”
Perjalanan Sampah yang Tak Pernah Selesai
Sore harinya, awan gelap mulai menggumpal di langit Makassar. Beberapa tetes air jatuh, lalu menjadi deras. Hujan tropis yang biasa. Kanal yang tersumbat itu mulai meluap. Air berwarna coklat keruh naik perlahan, merendam aspal Jalan Pasar Terong. Kemacetan terjadi. Anak-anak sekolah terpaksa menaikkan kaki ke atas jok sepeda motor orang tua mereka, melewati genangan yang membawa berbagai macam sampah.
Sementara itu, di bagian hilir, arus deras hasil luapan hujan mendorong tumpukan sampah yang tadinya diam di kanal. Ribuan potongan plastik, kemasan mi instan, dan popok bekas hanyut terbawa arus. Mereka memulai perjalanan panjang dari Kanal Pasar Terong menuju Sungai Tallo, lalu berlabuh di muara, dan akhirnya terbawa ombak ke Laut Makassar.
Di pesisir, seorang nelayan tua bernama Pak Saliim sedang menarik jaringnya. Wajahnya yang keriput mengeras saat melihat hasil tangkapannya. Tak banyak ikan, yang ada malah sampah-sampah dari kota.
“Dulu kami cari ikan, sekarang kami ‘memanen’ sampah,” gerutunya lirih, matanya menerawang jauh ke laut yang mulai kehilangan cahaya senjanya.
Suara dari Tepi Kanal
Keesokan harinya, setelah hujan reda dan air surut, seorang lelaki paruh baya dengan baju hijau berdiri di tepi Kanal Pasar Terong. Ia adalah Afif, tangannya memegang tongkat kayu, mengaduk-aduk tumpukan sampah yang baru saja tersisa setelah banjir berlalu. Ia bukan sedang mencari sesuatu, melainkan mencoba memahami.
"Ini bukan sekadar soal moral atau karakter warga. Ini adalah potret dari kegagalan kita semua," ujar Afif pelan, suaranya hampir tertelan deru mesin kendaraan di belakangnya.
Matanya menatap sedih plang larangan yang seolah tak berarti.
"Di atas sana ada imbauan untuk tidak buang sampah. Di bawah sini, tidak ada satu pun tempat sampah yang memadai. Malam hari, gelap gulita. Mau buang ke mana? Ya, ke kanal, karena lebih dekat dan gampang."
Afif bercerita panjang lebar. Ia bercerita tentang anak-anak sekolah yang teori kebersihannya hanya dihafal di kelas, tapi tak pernah dipraktikkan di rumah. Ia bercerita tentang dinas-dinas yang saling lempar tanggung jawab.
Tentang pasar yang sibuk dengan omzet, tapi lupa dengan limbah. Tentang aturan yang tertulis tebal di kertas, tapi tak berdaya di lapangan.
"Ini bukan hanya persoalan Kanal Pasar Terong," tegasnya, suaranya mulai mengeras di tengah hiruk pikuk pasar.
"Ini adalah jalur distribusi sampah menuju laut kita. Setiap tetes air hujan yang melewati kanal ini adalah kurir yang mengantar racun ke rumah ikan-ikan kita. Dan pada akhirnya, racun itu akan kembali ke piring makan kita sendiri."
Muara Perubahan yang Masih Gelap
Sore mulai merambat senja. Lampu-lampu pasar mulai menyala satu per satu. Aktivitas kembali normal, seolah banjir pagi tadi tak pernah terjadi. Seorang pedagang muda mengeluarkan gerobaknya, bersiap untuk memulai dagangan malam. Tanpa berpikir panjang, ia melempar bungkus rokok kosong ke kanal. Suara benda kecil jatuh ke air nyaris tak terdengar di tengah kebisingan kota.
Di kejauhan, Afif masih berdiri. Ia menyaksikan adegan kecil itu. Ada rasa putus asa, tapi juga ada api perjuangan yang tak kunjung padam.
LSM Lingkungan Hidul Forum Komunitas Hijau telah menyusun rencana. Bukan sekadar kerja bakti bersih-bersih yang hasilnya hanya bertahan seminggu. Mereka ingin mengubah sistem. Mereka akan menggugat, mengedukasi dengan cara baru, dan memaksa semua pihak, pemerintah, pasar, sekolah, dan warga untuk duduk bersama.
“Kami tidak akan menyerah pada kanal ini,” bisiknya nyaris dalam hati.
“Karena jika kanal mati, maka kota ini kehilangan satu nadinya. Jika laut tercemar, maka masa depan anak cucu kita yang akan menanggungnya,"kata Yusran.
Malam pun tiba. Kanal Pasar Terong kembali sunyi. Di bawah permukaan airnya yang hitam pekat, di sela-sela tumpukan plastik yang tak terhitung jumlahnya, seekor ikan kecil berjuang untuk bernapas. Ia adalah saksi bisu dari sebuah kota yang lupa bahwa kanal adalah kehidupan, bukan kuburan.
Selain itu di Makassar, persoalan kanal bukan hanya tentang infrastruktur, melainkan tentang kesadaran kolektif yang tersumbat. Dan selama sumbatan itu tak juga diurai, air mata kota akan terus mengalir, berwarna hitam, dan berbau sampah.