Asa Ketahanan Pangan dari Tangan Kaum Ibu di Kota Kembang

Kebun mereka memang belum bisa memenuhi semua kebutuhan. Tapi, seperti kata Nengsih, menanam sayur setidaknya menjadi cara mempelajari ulang apa artinya kemandirian di tengah hidup kiwari yang penuh keterbatasan, yang serba pas-pasan.

oleh Dikdik RipaldiDiterbitkan 11 Februari 2026, 18:25 WIB
Nunung (kiri), Ivon (tengah), dan Nengsih (kanan), memegang sayur hasil panen dari kebun mereka dalam acara pameran Bibit ka Jati bagian dari kegiatan Urban Features di Bumi Sangkuriang, Bandung, Selasa, 10 Februari 2026. (Liputan6.com/Dikdik Ripaldi)

Liputan6.com, Jakarta - Kembang kol itu tampak begitu mekar. Khas berwarna kuning pasi. Beberapa ikat kangkung tak kalah menggoda. Menampilkan warna hijau dan menggiurkan. Merah gelap sambal stroberi tersaji pada wadah kecil di atas sebuah toples yang penuh berisi bawang hitam atawa black garlic.

Ada pula olahan keripik daun kembang kol dalam kemasan plastik, mirip sekali keripik bayam. Kudapan gurih itu serasi kala dimakan bersama sambal stroberi pedas-masam.

Semua itu berasal dari sebuah kebun perkotaan di kawasan Sarijadi. Ditanam dan diolah oleh warga di sana. Lahir dari tangan-tangan Nengsih (40), Ivon (56), Nunung (59) dan kaum ibu lainnya.

Ketiga perempuan ini bukan ahli pertanian. Hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi mereka memiliki komitmen besar untuk menanam. Hingga akhirnya merasakan bahwa menanam itu ternyata bermanfaat.

Mereka mulai belajar bertanam pada 2021. Awalnya, kebun itu adalah lahan tidur milik keluarga Ivon. Kegiatan urban farming mereka dimulai dengan kangkung dan pakcoy. Sayuran daun yang terbilang cukup mudah ditanam dan durasi panennya relatif singkat, sekitar sebulan.

Dalam perjalanannya, mereka mencoba menanam kembang kol, bawang, terong, timun, labu siam, hingga stroberi. Ketika panen tiba, sebagian hasilnya kembali dijadikan bibit. Sisanya, dijual dengan harga seikhlasnya bahkan diberikan cuma-cuma pada mereka yang butuh.

Kebun mereka memang belum bisa memenuhi semua kebutuhan. Tapi, seperti kata Nengsih, menanam sayur setidaknya menjadi cara mempelajari ulang apa artinya kemandirian di tengah hidup kiwari yang penuh keterbatasan, yang serba pas-pasan.

“Kalau kita mau menanam minimal jadi ada buat makan sendiri. Belanja keluar jadi berkurang,” katanya kepada Liputan6.com.

Selain menumbuhkan sayuran, kebun ternyata mampu menumbuhkan silaturahmi di antara mereka.

“Berkebun itu penting, kita jadi bertemu dan silaturahmi. Makanya, kalau ada warga yang minta, ya, dikasih. Kalau ada yang mau beli, ya, Alhamdulillah,” katanya.

Hasil kebun dan olahan dari kebun Sawargi di Sukajadi itu menjadi bagian dari pameran Bibit Ka Jati yang diselenggarakan Urban Futures di Bumi Sangkuriang, kawasan Ciumbuleuit, Bandung, 10 Februari 2026.

Nunung (kiri), Ivon (tengah), dan Nengsih (kanan), memegang sayur hasil panen dari kebun mereka dalam acara pameran Bibit ka Jati bagian dari kegiatan Urban Features di Bumi Sangkuriang, Bandung, Selasa, 10 Februari 2026. (Liputan6.com/Dikdik Ripaldi)

Isu Kedaulatan Pangan

Kesadaran dan upaya yang dilakukan Nengsih, Ivon, dan Nunung, menjadi krusial di tengah isu ketahanan pangan Kota Bandung. Sebagian besar kebutuhan pangan Kota Bandung bergantung dari pasokan luar daerah.

Pameran Bibit Ka Jati merupakan bagian dari kegiatan Urban Futures yang turut menyoroti isu kedaulatan pangan. Bandung menjadi salah satu kota yang menyelenggarakan kegiatan ini di samping kota-kota di negara lain seperti di Ekuador, Kolombia, Zambia hingga Zimbabwe.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketahanan dan keberlanjutan pangan dinilai telah bergeser dari sekadar isu akses dan penyediaan pangan, menjadi tantangan krusial bagi stabilitas perkotaan, khususnya di Kota Bandung. 

Sebagai wilayah perkotaan yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan dari luar daerah, maka Kota Bandung dinilai menghadapi dua problem yakni berkaitan dengan rantai pasok dan krisis pengelolaan sampah organik yang berujung pada degradasi lingkungan. 

“Panjangnya rantai pasok pangan ini meningkatkan emisi karbon,” kata Rahmad Efendi dari Yayasan AKATIGA.

Gerakan urban farming dinilai jadi salah satu bagian yang potensial dalam  sistem pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan perkotaan.

Penyediaan pangan seperti yang dilakukan Nengsih dan kawan-kawan adalah gerakan hulu yang akan berkelindan dengan aspek lainnya, seperti konsumsi yang berkesadaran, hingga pengelolaan sampah.

“Tidak hanya memandang pangan sebagai produk, tetapi sebagai sistem yang melibatkan proses rantai nilai, pelaku utama dan pendukung, regulasi hingga masalah lingkungan,” katanya.

Selain pameran, acara lainnya yakni forum diskusi yang berupaya membicarakan transformasi sistem pangan melalui keterlibatan bermakna orang muda, komunitas dan organisasi madani lokal, pelaku usaha, akademisi, hingga pemerintah.

Pameran Bibit Ka Jati yang diselenggarakan Urban Futures di Bumi Sangkuriang, kawasan Ciumbuleuit. (Liputan6.com/Dikdik Ripaldi)

Bandung Belum Mandiri Pangan

Dalam forum yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar tak menampik fakta, Kota Bandung memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi pada pasokan pangan luar daerah.

“Ketersedian pangan kita masih belum mandiri,” katanya.

Kondisi ini dinilai rawan terlebih ketika terjadi bencana.

“Sebesar 94,05 persen pangan kita masih bergantung dari luar kota. Di sisi lain, hampir 60 persen sampah Kota Bandung adalah sampah organik, dengan sekitar 20 persen berupa sisa makanan," jelasnya.

Salah satu upaya yang dilakukan di Kota Bandung untuk menekan tingkat ketergantungan itu melalui Buruan Sae. Inisiasi urban farming yang mengelola lahan-lahan di sekitar permukiman warga di Kota Bandung.

Saat ini, kata Gin Gin, ada sekitar 550 kelompok Buruan Sae yang tersebar di berbagai wilayah. Menurutnya, membangun ketahanan pangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, harus berkolaborasi.

“Awalnya kita ketergantungan itu 96,47 persen, catatan pada 2025 kemarin menurun menjadi 94,05 persen. Jadi ada penurunan salah satunya penurunan itu diakibatkan Buruan Sae,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya