Ketum Apindo: CCSEA 2026 Jadi Ajang Bangun Jejaring

China Conference South East Asia 2026 (CCSEA 2026) menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di mata pelaku usaha regional dan global

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 10 Februari 2026, 15:40 WIB
China Conference South East Asia 2026 (CCSEA 2026) menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di mata pelaku usaha regional dan global

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menilai kerja sama Indonesia-Cina dalam China Conference South East Asia 2026 (CCSEA 2026) menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di mata pelaku usaha regional dan global.

Pasalnya, forum ini selaras agenda pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebut saja industrialisasi, hilirisasi, digitalisasi, peningkatan partisipasi dalam rantai nilai global, transisi energi hijau, serta pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif dinilai memiliki peluang besar untuk menarik mitra dan investor asing. 

“Forum ini bukan hanya tempat mendengar pembicara, tapi juga kesempatan nyata untuk membangun jejaring dan kemitraan bisnis,” kata Shinta dalam acara CCSEA 2026, Selasa (10/2/2026).

Ia menambahkan, kehadiran pelaku usaha dari Tiongkok, Hong Kong, dan negara lain di kawasan membuka peluang besar bagi pengusaha Indonesia untuk menjajaki kerja sama baru, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Menurutnya, forum ini menjadi sarana strategis untuk memperkuat kepercayaan dan memperdalam hubungan ekonomi bilateral dengan Tiongkok.

Shinta juga menyoroti peran penting Hong Kong sebagai pusat keuangan regional. Berdasarkan data perdagangan dan investasi, Tiongkok dan Hong Kong merupakan investor terbesar ke-2 dan ke-3 bagi Indonesia, sementara Hong Kong masih menjadi salah satu tujuan ekspor utama Indonesia. 

“Ini menunjukkan betapa pentingnya kedua wilayah tersebut bagi peningkatan investasi dan perdagangan Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap keberadaan perjanjian perdagangan bebas Hong Kong–ASEAN, termasuk dengan Indonesia, dapat mendorong peningkatan arus perdagangan. Selain itu, penyelenggaraan World Summit di Hong Kong juga dinilai membuka peluang kerja sama lebih luas, khususnya di sektor infrastruktur dan integrasi rantai pasok regional serta global.

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,39%, Wamenkeu Juda Agung Ngaku Belum Puas

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung di Gedung Juanda I Kementerian Keuangan, Kamis (5/2/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengaku belum puas dengan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025. Menurut Wamenkeu baru tersebut, ekonomi nasional masih tumbuh di bawah potensi.

"Karena kalau kita lihat belum puasnya apa, karena dia masih di bawah potensialnya. Pertumbuhan 5,39 (persen) di kuartal IV (2025) itu masih di bawah potensinya. Artinya masih bisa didorong," kata Juda di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Kendati begitu, ia tetap mengapresiasi capaian itu. Lantaran pertumbuhan ekonomi 5,39 persen jadi yang tertinggi sejak 2022. "Setelah itu agak lemah di sekitar 5. Sekarang di 5,39 menurut saya itu sebuah achievement yang patut kita syukuri," imbuhnya.

Juda pun melihat, ekonomi Indonesia tumbuh lebih melesat dibanding negara-negara anggota G20. Ia mengambil contoh China dengan pertumbuhan ekonomi 4,5 persen di periode yang sama.

"Kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain. China misalnya, pertumbuhannya di kuartal IV itu sekitar 4,5 persen. Indonesia 5,4 lah. Belum dibandingkan dengan G20 lain, kita salah satu yang paling tinggi pertumbuhannya," bebernya.

"Jadi ini saya kira momentum yang sangat bagus, dan ini perlu kita dorong," dia menekankan.

 

Indeks Keyakinan Konsumen

Juda Agung, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, terlihat tiba di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/2/2026). (Foto: Liputan6.com/Lizsa Egeham).

Lebih lanjut, Juda turut melihat indeks keyakinan konsumen (IKK) yang naik cukup signifikan. Sehingga, kepercayaan konsumen terhadap ekonomi nasional dinilai cukup meyakinkan.

Selain itu, ia juga menyinggung dampak pertumbuhan ekonomi terhadap penciptaan lapangan kerja. Selama periode Agustus-November 2025, angka lapangan kerja tersedia di Indonesia tercatat bertambah hampir 1,4 juta.

"Biasanya, dalam 1 tahun itu pertambahannya sekitar 3 juta. Ini dalam satu kuartal kenaikannya 1,37 juta. Artinya memang pertambahan pertumbuhan ekonomi ini mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih baik di triwulan IV (2025)," tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya