Iran Jatuhi Hukuman Tambahan 7,5 Tahun Penjara kepada Peraih Nobel Narges Mohammadi

Apa yang membuat Iran menghukum Narge? Berikut penjelasannya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 09 Februari 2026, 10:00 WIB
Peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi pada 3 Juli 2008. (Dok. AP/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Teheran - Pemerintah Iran menjatuhkan hukuman tambahan lebih dari tujuh tahun penjara kepada peraih Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi, setelah ia melakukan mogok makan. Informasi tersebut disampaikan para pendukungnya pada Minggu (8/2/2026).

Para pendukung Narges mengutip pernyataan pengacaranya, Mostafa Nili, yang mengonfirmasi vonis tersebut melalui platform X. Nili menyatakan bahwa putusan dijatuhkan pada Sabtu (7/2) oleh Pengadilan Revolusi di Kota Mashhad. 

Dalam pernyataannya seperti dikutip dari Associated Press, Nili mengatakan Narges dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas tuduhan "berkumpul dan bersekongkol", satu setengah tahun penjara atas tuduhan propaganda, serta larangan bepergian ke luar negeri selama dua tahun. Selain itu, Narges juga dijatuhi hukuman dua tahun pengasingan internal ke Kota Khosf, yang terletak sekitar 740 kilometer di tenggara Teheran.

Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard menulis di X bahwa hukuman terhadap Narges merupakan cerminan dari meningkat tajamnya represi mematikan terhadap perbedaan pendapat dan aksi protes yang dilakukan oleh pihak berwenang.

Pemerintah Iran tidak memberikan pengakuan atau pernyataan resmi terkait vonis tersebut. Para pendukung Narges menyatakan bahwa ia telah melakukan mogok makan sejak 2 Februari dan mengakhiri aksinya pada Minggu setelah vonis dijatuhkan, menyusul kondisi kesehatannya yang memburuk.

Narges sebelumnya ditangkap pada Desember saat menghadiri sebuah acara untuk menghormati Khosrow Alikordi, seorang pengacara dan aktivis hak asasi manusia Iran berusia 46 tahun yang berbasis di Mashhad. Rekaman dari demonstrasi tersebut memperlihatkan Narges berteriak dan menuntut keadilan bagi Alikordi dan lainnya.

Simbol Perlawanan

Peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi setelah dibebaskan sementara karena alasan medis di Teheran, Iran, Rabu (4/12/2024). (Dok. Arsip Yayasan Narges via AP)

Para pendukung telah berbulan-bulan memperingatkan sebelum penangkapan Desember bahwa Narges, yang kini berusia 53 tahun, berisiko kembali dipenjara setelah memperoleh pembebasan sementara pada Desember 2024 karena alasan medis.

Meskipun cuti tersebut awalnya hanya dijadwalkan selama tiga minggu, masa bebas Narges kemudian diperpanjang, kemungkinan akibat tekanan dari para aktivis dan negara-negara Barat agar Iran tetap membiarkannya berada di luar penjara. Ia bahkan tetap berada di luar tahanan selama perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu.

Selama masa kebebasannya, Narges terus menjalankan aktivitas advokasi melalui aksi protes terbuka dan wawancara dengan media internasional. Ia bahkan sempat melakukan demonstrasi di depan Penjara Evin di Teheran, tempat ia sebelumnya ditahan.

Sebelumnya, Narges tengah menjalani hukuman 13 tahun sembilan bulan penjara atas tuduhan bersekongkol melawan keamanan negara dan propaganda terhadap pemerintah Iran. Ia juga secara terbuka mendukung protes nasional yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini pada 2022, yang mendorong banyak perempuan menentang pemerintah dengan tidak mengenakan hijab.

Para pendukung menyebutkan bahwa Narges mengalami beberapa serangan jantung selama masa pemenjaraannya sebelum menjalani operasi darurat pada 2022. Pengacaranya pada akhir 2024 mengungkapkan bahwa dokter menemukan lesi tulang yang dikhawatirkan bersifat kanker, yang kemudian berhasil diangkat.

"Dengan mempertimbangkan penyakit yang dideritanya, diharapkan ia dapat dibebaskan sementara dengan jaminan agar dapat menjalani perawatan medis," tulis Nili.

Namun demikian, para pejabat Iran belakangan memberi sinyal akan mengambil sikap yang lebih keras terhadap segala bentuk pembangkangan. Pada Minggu, Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni-Ejei, menyampaikan pernyataan yang mengisyaratkan hukuman penjara berat bagi banyak pihak.

"Lihatlah beberapa individu yang dahulu bersama revolusi dan mendukung revolusi," ujarnya. "Hari ini, apa yang mereka katakan, apa yang mereka tulis, pernyataan yang mereka keluarkan—semua itu memprihatinkan, menyedihkan, dan mereka akan menghadapi konsekuensinya."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya