Moody's Revisi Outlook Indonesia, Pengamat: Penyesuaian Ekspektasi Makro

Analis menilai, langkah Moody's mengubah outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari stabil pada awalnya berdampak sementara.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 08 Februari 2026, 10:37 WIB
Analis menilai Moody's mengubah outlook atau prospek utang Indonesia menjadi negatif dari stabil sebagai penyesuaian ekspektasi makro. (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Penurunan prospek atau outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings dari stabil menjadi negatif dinilai memberi dampak psikologis terhadap pergerakan pasar saham domestik.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai perubahan outlook tersebut lebih merupakan penyesuaian ekspektasi makro ketimbang sinyal melemahnya fundamental ekonomi secara mendasar.

"Penurunan outlook lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi makro, bukan alarm penurunan fundamental," kata Reydi kepada Liputan6.com, Minggu (8/2/2026).

Menurut Reydi, selama peringkat kredit Indonesia masih berada pada level investment grade, risiko yang terbaca oleh investor cenderung bersifat jangka pendek. Reaksi pasar yang muncul pun lebih didorong oleh sentimen dan persepsi dibanding perubahan signifikan pada kondisi ekonomi.

"Selama rating tetap investment grade, risiko yang dibaca investor cenderung jangka pendek dan psikologis," ujarnya.

Ia menambahkan, investor global umumnya merespons cepat setiap perubahan pandangan lembaga pemeringkat. Namun, dalam banyak kasus, dampak awal seringkali bersifat sementara, sebelum pasar kembali menilai kondisi fundamental secara lebih rasional.

Dampak Psikologis ke Pasar Saham

Reydi menjelaskan, penurunan outlook lebih mencerminkan penyesuaian terhadap ekspektasi ekonomi makro ke depan, bukan alarm atas penurunan kinerja fundamental Indonesia. Hal ini penting untuk dipahami investor agar tidak langsung mengaitkannya dengan risiko struktural yang lebih besar.

Meski begitu, sektor tertentu dinilai lebih sensitif terhadap sentimen tersebut. Saham perbankan misalnya, cenderung paling terdampak karena perubahan outlook dapat mempengaruhi persepsi risiko yang berkaitan dengan biaya pendanaan dan akses likuiditas.

"Yang paling sensitif biasanya perbankan karena dengan outlook negatif dapat mempengaruhi persepsi risiko yang mempengaruhi pendanaan," ujarnya.

 

Peluang Akumulasi di Tengah Volatilitas

Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain itu, emiten yang memiliki eksposur utang dalam mata uang asing juga berpotensi mengalami tekanan. Perubahan persepsi risiko global dapat mendorong pelemahan nilai tukar dan meningkatkan beban pembayaran utang, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan investor.

"Saham dengan eksposur utang dengan kurs mata uang asing juga rentan tertekan, sementara emiten berfundamental kuat relatif lebih tahan," kata dia.

Di sisi lain, Reydi melihat bahwa selama peringkat Indonesia tetap berada di level investment grade, peluang terjadinya reaksi berlebihan atau overreact di pasar cukup besar dalam jangka pendek. Kondisi ini justru bisa dimanfaatkan investor yang berorientasi jangka panjang.

"Ya, dengan rating tetap investment grade. Ada peluang market overreact dalam jangka pendek. Ini justru berpotensi terjadi akumulasi pada saham big cap dan defensif yang valuasinya terdiskon, selama tidak ada sentimen negatif lanjutan," pungkasnya.

 

Moody's Pangkas Outlook Indonesia jadi Negatif, Begini Respons BI

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif dari stabil pada Kamis, 5 Februari 2026.  Dalam laporannya, Moody's menyatakan afirmasi rating Indonesia pada Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil dan solid, serta didukung oleh kekuatan struktural termasuk sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, yang menopang prospek pertumbuhan jangka menengah. Afirmasi rating Indonesia juga didukung oleh kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal yang terjaga, yang mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Sementara itu, revisi outlook dipengaruhi oleh pandangan Moody's akan risiko dari penurunan kepastian kebijakan, yang apabila berlanjut dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian.

Menanggapi keputusan Moody's tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menuturkan, penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia.

“Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%,” ujar Perry dikutip dari laman BI, Kamis (5/2/2026).

 

Inflasi Terjaga

Sementara cabai rawit, sawi putih, serta tarif ojek daring turut memberi sumbangan inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, inflasi tetap terjaga pada 2,92%, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia.

“Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah,” kata Perry.

Perry menambahkan, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi.

 

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi

Dari sisi domestik, aktivitas konsumsi diperkirakan akan menguat pada 2024. Hal itu sejalan dengan terjaganya daya beli masyarakat, inflasi yang terkendali, dan meningkatnya penciptaan lapangan kerja. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Moody's memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga. Moody's menilai, defisit fiskal diperkirakan tetap akan berada di bawah 3% Produk Domestik Bruto (PDB), sementara kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi.

Moody's juga memperkirakan, rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers.

Namun demikian, menurut Moody's, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan basis penerimaan, yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan. Dalam hal ini, Moody's mengapresiasi upaya Pemerintah untuk mendorong penerimaan antara lain melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan.

Ke depan, Bank Indonesia memprediksi, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tetap solid dengan tren meningkat, didukung oleh inflasi yang terkendali.

“Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diprakirakan meningkat di kisaran  4,9-5,7% ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan berbagai kebijakan Pemerintah dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan Bank Indonesia,” ujar Perry.

Kinerja positif tersebut akan terus meningkat pada 2027, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,1-5,9%, serta inflasi yang akan tetap terkendali.

 

Ketahanan Ekonomi

Investasi, khususnya non-bangunan, tetap menopang pertumbuhan ekonomi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kuat di tengah gejolak global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat, ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid. Neraca perdagangan pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar USD 2,51 miliar, didukung oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam maupun manufaktur.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar USD 156,5 miliar, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. NPI pada 2026 diperkirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran defisit 0,9-0,1% PDB. 

Nilai tukar Rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah. Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjut di tengah ketidakpastian global yang meningkat, bersinergi erat dengan KSSK dan Program Asta Cita Pemerintah, serta terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar,” kata Perry.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya