Menelisik Kerja Sama Indonesia-Malaysia di Sektor Semikonduktor

Kerja sama Indonesia dan Malaysia di sektor semikonduktor di tengah meningkatnya ketergantungan di kecerdasan buatan atau AI.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 07 Februari 2026, 22:46 WIB
Asisten Profesor Universitas Nottingham, Bagus Muljadi melihat kerja sama Indonesia–Malaysia di sektor semikonduktor dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. (Brian Kostiuk/Unsplash).

Liputan6.com, Jakarta - Asisten Profesor Universitas Nottingham, Bagus Muljadi melihat kerja sama IndonesiaMalaysia di sektor semikonduktor dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Terutama di tengah meningkatnya ketergantungan global terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ia menyebut penguasaan desain chip dan foundry semikonduktor akan sangat menentukan posisi suatu negara dalam perekonomian global. 

"Siapapun yang menguasai design chip dan foundry semikonduktor itu akan sangat merajai dunia, mengingat over reliance on AI di hampir semua sektor ekonomi,” ujar Bagus kepada Liputan6.com, dikutip Sabtu (7/2/2026).

Meski demikian, Bagus menegaskan, membangun kapabilitas semikonduktor bukan perkara mudah. Berdasarkan pengalamannya menempuh studi di Taiwan, ia menilai industri semikonduktor Taiwan berada jauh di atas negara lain. 

“Taiwan semikonduktor manufacturing itu head and shoulders above any other countries ketika bicara chip design dan foundry,” katanya.

Menurut Bagus, tantangan pertama adalah sulitnya mentranslasikan kemampuan teknologi dari negara yang sudah mapan ke negara yang baru memulai. Tantangan kedua berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Di Taiwan, mahasiswa terbaik justru memilih masuk ke bidang semikonduktor. 

The best talents go to semikonduktor research. Di Indonesia, kita harus bertanya, ke mana talenta terbaik pergi? Jawabannya, bukan ke semikonduktor,” ujar dia.

Ia juga menekankan bahwa semikonduktor bukan sekadar soal desain chip, tetapi membutuhkan keterlibatan banyak disiplin ilmu. Mulai dari matematika, fisika, hingga riset pada skala nanoscopic dan kuantum.

 "Semikonduktor itu bermain di domain nanoscopic, di mana continuum approximation dalam fisika sudah breakdown dan masuk ke zona kuantum,” ungkap Bagus.

 

 

 

Pendanaan Riset Belum Mendukung

sebutkan tujuan melakukan riset pasar ©Ilustrasi dibuat AI

Sayangnya, Indonesia dinilai belum kuat di area tersebut. Bagus menyoroti minimnya publikasi ilmiah nasional di bidang nanoscopic dan semikonduktor. 

Selain itu, arah pendanaan riset juga dinilai belum mendukung pengembangan semikonduktor secara serius. Bagus menilai pemerintah masih sering berhenti di level jargon kebijakan.

“Kalau dilihat dari jurnal-jurnal kita, baik jumlah paper maupun jurnalnya, itu sangat-sangat sedikit. Artinya, research expertise kita memang belum main jauh di sana,” katanya.

 

 

Butuh Keberanian

Menurut Bagus, jika Indonesia ingin serius berbicara di dunia semikonduktor, termasuk melalui potensi kerja sama dengan Malaysia, negara harus hadir lebih aktif. Lembaga seperti BRIN atau unit desain medis dan teknologi perlu mengartikulasikan pertanyaan riset yang jelas dan spesifik.

Langkah tersebut, kata dia, membutuhkan keberanian politik agar visi besar pengembangan semikonduktor tidak berhenti sebagai slogan semata. 

“Tidak cukup hanya menggelontorkan jargon high level. Itu butuh keberanian politik supaya riset dan pendanaan benar-benar bergerak ke arah semikonduktor,” pungkas Bagus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya