Liputan6.com, Abuja - Jumlah korban tewas akibat serangan bersenjata di Negara Bagian Kwara, Nigeria bagian tengah utara, terus bertambah dan kini mencapai sedikitnya 170 orang. Angka terbaru itu disampaikan seorang anggota parlemen setempat pada Kamis (5/2/2026) di tengah masih berlangsungnya pencarian korban di kawasan hutan.
Sebelumnya, pemerintah Negara Bagian Kwara mengonfirmasi 75 jenazah telah dimakamkan dalam satu pemakaman massal pada Rabu. Namun, anggota Majelis Legislatif Negara Bagian Kwara, Saidu Baba Ahmed, mengatakan jumlah korban yang ditemukan jauh lebih besar.
Advertisement
“Informasi yang saya terima menunjukkan korban tewas telah mencapai 170 orang. Pencarian masih dilakukan di hutan untuk menemukan kemungkinan jenazah lainnya,” kata Ahmed, yang mewakili daerah pemilihan Gwanabe/Gwaria di Distrik Pemerintahan Lokal Kaiama, dikutip dari laman Anadolu Agency, Sabtu (7/2).
Menurut Ahmed, selain korban tewas, sedikitnya 35 perempuan dilaporkan diculik dalam serangan tersebut. Sejumlah warga yang selamat terpaksa mengungsi dan bersembunyi di kawasan hutan demi menghindari kekerasan lanjutan.
Serangan yang terjadi pada Rabu malam itu menuai kecaman luas. Mantan Gubernur Kwara sekaligus mantan Presiden Senat Nigeria, Bukola Saraki, menyebut peristiwa tersebut sebagai bencana nasional. Ia menilai skala kekerasan yang terjadi telah melampaui kapasitas pemerintah negara bagian.
“Ini membutuhkan intervensi federal yang tegas dan langsung,” kata Saraki dalam pernyataannya.
Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Kwara AbdulRahman AbdulRazaq menyatakan Presiden Nigeria Bola Tinubu telah menyetujui pengerahan segera satu batalyon tentara di bawah operasi keamanan bertajuk Operation Savannah Shield. Pasukan tersebut akan melakukan operasi balasan untuk memburu dan melumpuhkan para pelaku.
Dalam beberapa bulan terakhir, Negara Bagian Kwara—terutama wilayah yang berbatasan dengan kawasan hutan—menghadapi peningkatan ancaman keamanan. Aksi perampokan bersenjata, penculikan, serta pergerakan kelompok bersenjata dilaporkan meningkat, seiring tekanan militer di negara-negara bagian tetangga di wilayah barat laut dan tengah utara Nigeria.