IHSG Sepekan Tergelincir 4,73%, Kapitalisasi Pasar Merosot jadi Rp 14.314 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau IHSG sepekan melemah 4,73%. Berikut sentimen yang menekan IHSG, salah satunya masih dari MSCI.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 07 Februari 2026, 10:25 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada perdagangan 2-6 Februari 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada perdagangan saham 2-6 Februari 2026. Koreksi IHSG sepekan masih didorong dari sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penurunan peringkat saham dan outlook peringkat utang Indonesia.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (7/2/2026), IHSG sepekan tersungkur 4,73% ke posisi 7.935,26. Koreksi IHSG ini lebih kecil dibandingkan pekan lalu. Pada pekan lalu, IHSG turun 6,94% ke posisi 8.329,60.

Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI merosot 4,69% menjadi Rp 14.314 triliun dari pekan lalu Rp 15.046 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 4,73% selama sepekan dipengaruhi sejumlah hal. Pertama, sentimen dari MSCI yang saat ini meminta beberapa persyaratan seperti free float dan transparan emiten-emiten di IHSG.

“Kedua, downgrade dari beberapa instituasi asing seperti UBS, Goldman Sachs dan Moody’s di mana dari sentimen-sentimen tersebut berimbas pada membesarnya outflow asing,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor ketiga, rilis data inflasi Indonesia yang masih berada di level 3,55% Year on Year (YoY) dan juga Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 5,39% YoY pada kuartal IV 2025.

Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian juga anjlok 28,62% menjadi 2,72 juta kali transaksi dari 3,82 juta kali transaksi. Data volume transaksi harian bursa terpangkas 31,75% menjadi 43,2 miliar saham dari 63,3 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian juga susut 43,45% menjadi Rp 24,75 triliun dari pekan sebelumnya Rp 43,76 triliun.

Sementara itu, investor asing melepas saham Rp 1,13 triliun. Aksi jual ini lebih rendah dari pekan lalu Rp 13,92 triliun.

IHSG Pekan Lalu Anjlok 6,9%

Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 6,94% pada perdagangan 26-30 Januari 2026. Sentimen pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendorong Goldman Sachs dan UBS menurunkan peringkat saham Indonesia membebani IHSG sepekan.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (31/1/2026), IHSG merosot 6,94% sehingga ditutup ke posisi 8.329,60. Pada pekan lalu, IHSG susut 1,3% menjadi 8.951,01. Selain itu, kapitalisasi pasar BEI terpangkas 7,37% menjadi Rp 15.046 triliun dari Rp 16.244 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, IHSG melemah 6,94% selama sepekan terdampak sentimen pengumuman MSCI pada Rabu, 28 Januari 2026. Hal itu mendorong aksi jual dan aliran dana investor asing yang keluar cukup besar. Selama sepekan, investor asing melepas saham Rp 13,92 triliun. Aksi jual ini lebih besar dari pekan lalu Rp 3,25 triliun.

“Setelah itu disusul oleh downgrade rating dari Goldman Sachs dan UBS terkait pengumuman MSCI tersebut,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

 

Transaksi Perdagangan

Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

MSCI mengumumkan membekukan sementara perubahan terkait indeks tertentu saham Indonesia dalam tinjauan indeks Februari 2026. Kebijakan pembekuan itu mencakup peningkatan pada faktor inklusi asing atau Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares atau jumlah saham (NOS).

Kemudian, MSCI juga tidak akan menerapkan penambahan saham baru pada MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan tidak akan menerapkan migrasi kenaikan saham di seluruh indeks termasuk dari Small Cap ke Standard.

“Perlakuan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan kemampuan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk memberikan peningkatan transparansi yang berarti,”

Selain itu, kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar 29,28% menjadi Rp 43,76 triliun dari Rp 33,85 triliun pada pekan lalu.

Rata-rata frekuensi transaksi harian meningka 1,59% menjadi 3,82 juta kali transaksi dari 3,76 juta kali transaksi pada pekan lalu. Sementara itu, data volume transaksi harian bursa merosot 3,69% menjadi 63,3 miliar saham dari 65,73 miliar saham pada pekan lalu

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya