Liputan6.com, Jakarta - Bantuan untuk korban bencana di Sumatera Barat, Utara dan Aceh dari lintas sektor terkumpul Rp 17.094.300.275. Bantuan ini difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti sembako, water filter, solar panel, jaringan komunikasi hingga layanan kesehatan.
Bantuan ini merupakan hasil konser amal gerakan solidaritas 100 Musisi Heal Sumatra dan rangkaian kegiatan penggalangan dana yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan berbagai pihak.
Advertisement
“Ini membuktikan kesetiakawanan sosial antara artis musisi, alumni kampus, swadaya masyarakat, BUMN dan pemerintah pada saatnya dibutuhkan terasa hebat dampaknya. Kegiatan yang mengharukan dan membanggakan untuk Indonesia. Tak akan saya lupakan,” kata penggagas gerakan 100 Musisi Heal Sumatra Kadri Muhamad dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).
Selain itu juga bantuan didistribusikan untuk mendukung operasional rumah sakit dan pengadaan alat kesehatan di RS Langsa dan Tamiang.
Sebagaimana diketahui, usai banjir RSUD Aceh Tamiang telah kembali beroperasi secara bertahap dengan memprioritaskan layanan kegawatdaruratan dan pelayanan medis dasar.
Namun demikian, beberapa unit layanan penunjang, termasuk Poli Gigi, masih mengalami keterbatasan akibat kerusakan sarana dan prasarana, peralatan medis yang terdampak lumpur, serta terbatasnya sumber daya pendukung.
Di Langsa, RSUD Kota Langsa memiliki peran strategis sebagai rumah sakit rujukan bagi Kota Langsa dan wilayah sekitarnya, termasuk Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Namun, usai bencana banjir, layanan rumah sakit berpotensi mengalami gangguan akibat keterbatasan infrastruktur pendukung, terutama sistem kelistrikan yang sangat menentukan operasional layanan kritis seperti instalasi gawat darurat (IGD), intensive care unit (ICU) dan kamar operasi.
Dukungan Trauma Healing dan Layanan Pendidikan Dasar
Sebagai respons awal pada fase tanggap darurat, 100 Musisi Heal Sumatra akan menerjunkan relawan ke lokasi bencana yang telah dibekali keterampilan psychological first aid (PFA) untuk memberikan dukungan psikologis dasar kepada penyintas.
Dengan begitu, PFA dapat membantu masyarakat terdampak dalam memulihkan kondisi psikologis dan sosial akibat bencana, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, perempuan, lansia, difabel, serta keluarga yang terdampak secara langsung. Diharapkan program ini dapat mencegah meningkatnya kasus gangguan jiwa, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Dalam proses penyaluran bantuan, juga melibatkan mitra nasional seperti Yayasan Matauli, Iluni UI, Iluni Fakultas dan Iluni UI Wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, serta jaringan mitra lokal di wilayah terdampak guna memastikan bantuan tersalurkan secara tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Iluni UI berterima kasih kepada seluruh mitra pelaksana serta unsur Universitas Indonesia, yang telah mendedikasikan tenaga dan sumber dayanya untuk turun langsung memastikan bahwa upaya penggalangan dana ini benar-benar membantu saudara-saudara kita di Sumatera,” ucap Kepala Bidang Sustainability dan Social Impact Iluni UI, Adhiyatni Putri.
Dia menambahkan bahwa upaya tanggap darurat dan pemulihan usai bencana merupakan tantangan besar yang membutuhkan kerja cepat dan kolaboratif. Dukungan berbagai pihak, termasuk Kantor Utusan Khusus Presiden, menjadi faktor penting dalam mempercepat proses bantuan dan pemulihan di lapangan.
“Masih banyak yang perlu diupayakan, dan tugas kita untuk membantu saudara-saudara kita di Sumatra belum selesai,” tambahnya.
Donasi yang dihimpun mencakup bantuan dalam bentuk dana tunai serta sebagian bantuan barang, termasuk dukungan masing-masing sebesar Rp 1 miliar dari sejumlah perusahaan BUMN, yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Pertamina (Persero), PT Mineral Industri Indonesia (Persero) dan PT PLN (Persero).
Seluruh donasi yang dihimpun disalurkan melalui model distribusi berbasis kebutuhan, dengan data lapangan sebagai landasan utama dalam menentukan prioritas bantuan. Cakupan bantuan meliputi penyediaan air bersih dan sanitasi, logistik pangan dan nonpangan, pelayanan kesehatan darurat, obat-obatan, hingga dukungan psikososial bagi para penyintas.