Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia kini memasuki babak baru dengan dominasi investor ritel yang berhasil mengambil alih aktivitas perdagangan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga penghujung 2025, jumlah investor telah menembus angka 20 juta, di mana lebih dari separuhnya merupakan generasi muda berusia di bawah 30 tahun.
Direktur Keuangan PT Super Bank Indonesia Tbk atau Superbank, Melisa Hendrawati melihat prospek positif dari investor ritel di pasar modal Indonesia. Menurutnya, investor ritel saat ini telah mengambil alih pasar modal di tengah ketidakpastian global.
Advertisement
Dia merujuk pada data investor pasar modal Indonesia yang telah menembus 20,36 juta single investor identification (SID) hingga penghujung 2025 lalu. Angka ini didominasi oleh investor dengan usia 30-an tahun.
"Jumlah investor pasar modal Indonesia telah melampaui 20 juta SID, dan lebih dari 50 persen diantaranya berada di usia 30 tahun," kata Melisa dalam International Capital Market Seminar 2026, di FEB Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (6/2/2026).
"Itu bukan sekadar angka, itu menunjukkan bahwa semakin banyak generasi muda, teman-teman semua, yang memilih untuk terlibat di pasar modal dan mengambil peran di capital market," sambungnya.
Dia menerangkan, hal ini terjadi di tengah kondisi ketidakpastian global yang meningkat. Bertambahnya investor ritel berbanding terbalik dengan bergesernya investor institusional, baik domestik maupun asing. Melisa memandang, kini investor ritel yang mengambil alih.
"Jadi sekarang, investor domestik terutama investor ritel bukan lagi sebagai pelengkap. Mereka menyumbang porsi yang sangat signifikan dalam aktivitas perdagangan harian. Jadi kalau dilihat daily turnover itu banyak dikuasai oleh investor retail, dan juga menjadi penopang stabilitas pasar ketika terjadi tekanan eksternal seperti sekarang," beber Melisa.
Superbank Siap Gaet Bank Digital
Sebelumnya, Presiden Direktur PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), Tigor M. Siahaan, memandang ruang pertumbuhan bank digital di Indonesia masih terbuka lebar. Menurutnya, porsi pasar bank digital secara keseluruhan masih relatif kecil dibandingkan industri perbankan nasional, sehingga peluang ekspansi ke depan masih sangat besar.
“Kalau kita lihat seluruh bank yang berfokus kepada digital, bank digital di Indonesia ini, kita totalkan semuanya, market sharenya itu mungkin masih sekitar 1%,” ujar Tigor dalam konferensi pers usai IPO, Rabu (17/12/2025).
Ia menjelaskan, Superbank menempatkan strategi berbasis ekosistem sebagai pembeda utama dalam persaingan memperebutkan pangsa pasar. Salah satu strateginya adalah dukungan ekosistem Grab.
Ekosistem Jadi Pembeda
Keberadaan ekosistem Grab yang didukung puluhan juta pengguna dari layanan pengantaran, transportasi, hingga OVO, menurutnya, membuat Superbank memiliki posisi sebagai mitra yang semakin terintegrasi dengan ekosistem Grab.
“Jadi kami merasa pendekatan ekosistem ini akan menjadi pembeda besar ke depannya,” kata Tigor.
Pengembangan Produk
Sejalan dengan strategi tersebut, Direktur Keuangan Superbank, Melisa Hendrawati, menekankan peran sumber daya manusia dan budaya perusahaan dalam pengembangan produk yang berkelanjutan.
“Jadi kami sangat bersyukur dan kedepannya dengan kekuatan human capital yang kami punya, dengan culture value superbank, kami ingin terus memberikan produk-produk yang relevan dan sangat-sangat berguna untuk masyarakat,” pungkas Melisa.
Melisa menambahkan, meski Superbank masih relatif baru beroperasi, kehadiran perseroan di Indonesia tidak hanya berfokus pada penyediaan produk perbankan semata, tetapi juga membawa misi kuat dalam mendorong inklusi keuangan sebagai bagian dari nilai utama Superbank.