Liputan6.com, Jakarta - Saham Alphabet, perusahaan induk Google, bergerak stagnan setelah perusahaan melaporkan kinerja keuangan kuartal empat yang melampaui ekspektasi analis Wall Street. Meski pendapatan dan laba menunjukkan hasil positif, pasar justru merespons dengan hati-hati, terutama karena lonjakan besar rencana belanja modal perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Alphabet membukukan pendapatan kuartal keempat sebesar USD 113,83 miliar, lebih tinggi dari proyeksi analis sebesar USD 111,43 miliar. Kinerja ini mencerminkan tetap kuatnya lini bisnis utama Google, mulai dari layanan cloud hingga periklanan digital. Demikian dikutip dari CNBC,
Advertisement
Namun, saham Alphabet justru ditutup hampir 2% lebih rendah pada perdagangan Rabu, dan bergerak relatif stagnan pada sesi berikutnya, menandakan kekhawatiran investor terhadap strategi belanja jangka panjang perusahaan.
Cloud Tumbuh Kuat, YouTube Iklan Sedikit Tertahan
Dari sisi kinerja unit bisnis, Google Cloud mencatatkan pendapatan sebesar USD 17,66 miliar, dibandingkan dengan perkiraan yang berada di angka USD 16,18 miliar.
Sementara itu, YouTube Advertising mencatat pendapatan USD 11,38 miliar, sedikit di bawah ekspetasi sebesar US$11,84 miliar, menunjukkan adanya perlambatan ringan pada bisnis iklan digital.
Belanja AI Melonjak, Fokus ke DeepMind
Perhatian utama investor justru tertuju pada rencana belanja modal Alphabet yang sangat agresif. Perusahaan mengumumkan akan meningkatkan belanja modal pada 2026 ke kisaran USD 175 miliar hingga USD 185 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan pengeluaran tahun 2025.
Sebagian besar dana tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan kapasitas komputasi AI, khususnya untuk mendukung riset dan pengembangan di Google DeepMind, unit AI andalan Alphabet.
Peluang Besar, Risiko juga Tinggi
Analis Barclays menilai bahwa peningkatan biaya infrastruktur, DeepMind, dan Waymo berpotensi membebani profitabilitas Alphabet secara keseluruhan dalam jangka pendek. Namun, mereka juga melihat pertumbuhan cloud dan adopsi teknologi AI Google sebagai sinyal positif jangka panjang.
“Pertumbuhan cloud sangat luar biasa, baik dari sisi pendapatan, pesanan, hingga adopsi Gemini oleh perusahaan. Ini mulai membenarkan lonjakan belanja modal besar-besaran untuk AI,” tulis Barclays
Senada, analis Deutsche Bank menyebut langkah Alphabet sebagai sesuatu yang “mengejutkan dunia”, “Dengan kondisi sektor teknologi yang sedang bergejolak, belum jelas apakah itu hal yang baik atau buruk,” tulis Deutsche Bank.