Liputan6.com, Jakarta - Alat berat dipandang Industri alat konstruksi PT Multicrane Perkasa (MCP) sebagai posisi penting dalam mendukung keberhasilan proyek waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik yang tengah didorong pemerintah.
Presiden Direktur MCP Adrianus Hadiwinata menyampaikan bahwa percepatan pengembangan WtE sebagai solusi atas tingginya volume sampah nasional harus diiringi dengan kesiapan sistem kerja di lapangan. Efektivitas pengelolaan limbah harian akan sangat menentukan keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.
Advertisement
"Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek waste to energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," kata Adrianus melansir Antara, Kamis 5 Februari 2026.
Ia menjelaskan, alat berat berperan penting mulai dari proses pemindahan, penataan, hingga pengolahan awal limbah sebelum masuk ke sistem pembangkit.
Saat ini, pemerintah terus mendorong pengembangan WtE dan Refuse Derived Fuel (RDF) di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah terpadu sekaligus penguatan bauran energi nasional.
Keberhasilan proyek tersebut tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi pembakaran maupun instalasi pembangkit listrik.
"Sistem penanganan dan pergerakan limbah yang konsisten dan efisien menjadi faktor penopang utama agar fasilitas WtE dapat beroperasi secara berkelanjutan setiap hari," ucap Adrianus.
Dukungan Operasional Proyek WtE
Dalam operasional fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik membutuhkan dukungan alat berat dan sistem feeding sampah yang tepat.
Tanpa dukungan tersebut, aliran sampah ke fasilitas pengolahan berisiko tidak stabil, waktu henti operasional meningkat, dan biaya harian menjadi lebih tinggi sehingga memengaruhi keberlanjutan proyek.
Salah satu proyek yang didukung MCP yakni WtE di Sukabumi, Jawa Barat, serta RDF yang telah berjalan sejak Juli 2025.
Dalam proyek tersebut, MCP menghadirkan crane Hiab 19000 yang digunakan sebagai electric waste feeder untuk menggantikan metode konvensional berbasis excavator diesel. Sistem ini dinilai lebih efisien dan sejalan dengan upaya pengurangan emisi.
Sistem feeding sampah berbasis listrik tersebut membantu menjaga pasokan limbah tetap stabil ke fasilitas WtE maupun RDF. Selain itu, biaya operasional harian dapat ditekan dan potensi gangguan teknis yang menyebabkan downtime dapat diminimalkan.
Investasi Waste to Energy Kian Dilirik
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan bahwa beberapa sektor diproyeksikan menjadi penopang utama pencapaian target investasi pada 2026.
Sektor tersebut mencakup energi baru terbarukan, ekonomi digital, pengembangan kawasan industri, serta pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy.
Ia menyebutkan, program pengolahan sampah menjadi energi listrik kini telah memasuki tahapan tender dan mulai berjalan.
Proses tersebut, mendapat respons yang cukup positif dari kalangan investor, menandakan meningkatnya ketertarikan terhadap proyek berbasis lingkungan dan energi.
Proyek WtE akan diwujudkan melalui pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di 33 kota yang tersebar di seluruh Indonesia.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, dibutuhkan investasi dengan nilai sekitar Rp91 triliun dan kapasitas pengolahan mencapai 1.000 ton sampah per hari.