Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kerajaan Bhutan telah memindahkan bitcoin (BTC) lebih dari USD 22 juta atau Rp 370,33 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.830) dari dompet negara hanya dalam seminggu terakhir. Langkah Bhutan menarik perhatian komunitas kripto.
Mengutip Yahoo Finance, Kamis (5/2/2026), satu transaksi pada lima hari lalu dikirim langsung ke alamat yang terkait dengan market maker QCP Capital, menurut data Arkham. Pergerakan ini sejalan dengan penjualan berkala BTC oleh Bhutan sejak mulai menambang kripto pada 2019.
Advertisement
“Dari pengamatan kami, Bhutan secara berkala menjual BTC dalam jumlah sekitar USD 50 juta, dengan periode penjualan yang sangat besar sekitar pertengahan hingga akhir September 2025,” kata Arkham.
Selain itu, portofolio kripto Bhutan telah turun lebih dari 70% dari puncaknya sebesar USD 1,4 miliar menjadi USD 412 juta, menyusul depresiasi pasar.
Menurut Bitcoin Treasuries, Bhutan tetap menjadi pemegang Bitcoin pemerintah terbesar ketujuh. Bhutan telah menambang Bitcoin sejak 2019 dan memperoleh keuntungan lebih dari USD 765 juta dari BTC.
"Mereka menambang sebagian besar BTC mereka sebelum halving pada tahun 2024, dan kemudian mengurangi penambangan secara signifikan setelah itu,” kata laporan Arkham. “Ini karena biaya untuk menambang satu Bitcoin kira-kira berlipat ganda, yang membuat penambangan menjadi kurang efisien.”
Bhutan juga telah menambang 8.200 BTC hanya pada 2023, menjadikannya tahun penambangan terberat. Mereka menambang sekitar 1.800 BTC pada tahun 2022 dan 300 BTC pada 2024.
Transfer BTC dari dompet pemerintah dalam seminggu terakhir terjadi setelah Bitcoin merosot hingga USD 70.000. Aset kripto terbesar telah anjlok 7,36% dalam 24 jam terakhir, melampaui penurunan pasar kripto secara keseluruhan sebesar 6,39%.
Meskipun terjadi transfer besar-besaran, analis data blockchain mencatat bahwa transfer tersebut lebih cenderung berupa alokasi ulang internal atau pengaturan kustodian daripada likuidasi. Saldo dompet negara tersebut sebagian besar tetap tidak berubah. Bhutan telah melakukan perpindahan dompet massal serupa di masa lalu tanpa memicu penurunan pasar.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Bhutan Manfaatkan Kripto Ramah Lingkungan untuk Genjot Ekonomi
Sebelumnya, Bhutan, sebuah negara kecil di kawasan Himalaya, kini menjajaki peluang dari kripto ramah lingkungan yang biasa disebut kripto hijau untuk membantu pertumbuhan ekonominya dan menciptakan lapangan kerja, terutama guna mengurangi hilangnya tenaga kerja muda ke luar negeri (brain drain).
Melansir Yahoo Finance, Kamis (17/4/2025), hal ini disampaikan oleh CEO Druk Holding and Investments Ltd, Ujjwal Deep Dahal lembaga yang mengelola dana kekayaan negara Bhutan.
Kripto hijau adalah jenis mata uang digital yang ditambang menggunakan energi terbarukan seperti tenaga air, angin, atau matahari, sehingga tidak menghasilkan emisi karbon seperti penambangan kripto konvensional yang bergantung pada bahan bakar fosil.
Telah Meraup Jutaan Dolar AS
Sebagai negara yang berada di antara dua raksasa Asia, yaitu India dan Tiongkok, Bhutan telah meraup jutaan dolar AS dari investasinya di berbagai kripto global dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, menurut dua pejabat senior di ibu kota Thimphu, sebagian keuntungan dari investasi tersebut digunakan untuk membayar gaji pegawai negeri selama dua tahun.
"Kami adalah negara yang 100% mengandalkan tenaga air, dan setiap koin digital yang kami tambang di Bhutan menggunakan tenaga air mengimbangi koin yang ditambang menggunakan bahan bakar fosil. Jadi, koin yang ditambang di Bhutan akan berkontribusi pada ekonomi hijau," kata Ujjwal Deep Dahal.