Israel Terus Melanggar Genjatan Senjata, Serangan pada 4 Februari 2026 Tewaskan 24 Orang

Korban tewas dalam serangan terbaru Israel termasuk dua orang bayi.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 05 Februari 2026, 12:00 WIB
Warga Palestina menggambarkan rangkaian serangan ini sebagai yang paling intens sejak fase kedua gencatan senjata mulai berlaku awal bulan ini. Tampak dalam foto, asap mengepul dari tempat penampungan Gath, yang menampung pengungsi Palestina, setelah serangan udara Israel di sebelah barat Khan Yunis, Jalur Gaza selatan pada 31 Januari 2026. (Bashar Taleb/AFP)

Liputan6.com, Gaza - Serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Rabu (4/2/2026), menewaskan sedikitnya 24 warga Palestina di sejumlah lokasi. Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang kian berada dalam tekanan.

Israel menyatakan telah menewaskan tiga pemimpin militan dan sejumlah orang lain yang dinilai mengancam pasukannya.

Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan mematikan Israel berulang kali mengganggu kesepakatan tersebut. Jumlah korban Palestina yang terus meningkat membuat banyak warga Gaza merasa bahwa perang masih berlangsung tanpa henti.

Di antara korban tewas pada Rabu, menurut pejabat rumah sakit seperti dikutip dari laporan Associated Press, terdapat sedikitnya lima anak-anak termasuk dua bayi masing-masing usia lima bulan dan 10 hari, tujuh perempuan, dan seorang paramedis yang sedang bertugas.

"Di mana gencatan senjata? Di mana para mediator?" tulis Direktur Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Mohamed Abu Selmiya, melalui unggahan di Facebook.

Serangan Mematikan Terus Terjadi Meski Ada Gencatan Senjata

Gencatan senjata itu dimaksudkan untuk menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, yang bermula dari serangan mematikan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Meski pertempuran besar telah mereda, kesepakatan tersebut terus diwarnai oleh kekerasan yang kembali pecah.

Menurut pejabat kesehatan Gaza, total 556 warga Palestina—setengahnya perempuan dan anak-anak—telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan. Sementara itu, militer Israel menyatakan empat tentaranya tewas dalam periode yang sama.

Israel mengatakan serangannya merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas atau serangan militan terhadap pasukannya. Delapan negara Arab dan muslim, termasuk mediator Mesir dan Qatar, baru-baru ini mengecam apa yang mereka sebut sebagai "pelanggaran berulang" Israel terhadap kesepakatan tersebut.

Seorang pejabat militer Israel, yang berbicara dengan syarat anonim sesuai kebijakan militer, mengaku kepada Associated Press bahwa serangan terbaru dilakukan sebagai tanggapan atas tembakan militan yang melukai parah seorang tentara cadangan pada Rabu pagi.

Penyeberangan Rafah Masih Terbatas

Untuk diketahui, perlintasan Rafah ditutup sejak Mei 2024 saat dikuasai Israel. Tampak dalam foto, pasien Palestina dan korban luka perang, didampingi kerabat, bersiap meninggalkan Jalur Gaza untuk perawatan di luar negeri melalui perlintasan Rafah antara Gaza dan Mesir, di Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan pada Selasa 3 Februari 2026. (Bashar Taleb/AFP)

Pembukaan kembali penyeberangan Rafah pada Senin (2/2) dipuji sebagai langkah maju bagi gencatan senjata yang rapuh. Namun sejak itu, pergerakan warga Palestina melalui penyeberangan tersebut diwarnai oleh penundaan, interogasi, dan ketidakpastian mengenai siapa yang diizinkan melintas.

Pada Selasa (3/2), dibutuhkan waktu seharian penuh bagi 40 warga Palestina untuk memasuki Gaza.

"Pada Rabu, sebanyak 15 pasien dari Gaza dan 31 anggota keluarga mereka dijadwalkan menyeberang ke Mesir, namun lebih dari setengah rombongan ditolak," kata Raed al-Nims, juru bicara Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina.

Pemerintah Sinai Utara mengonfirmasi bahwa sebagian diizinkan masuk ke Mesir, tetapi tidak memberikan angka pasti. Hingga Rabu malam, belum jelas apakah ada warga Palestina yang diizinkan kembali ke Gaza dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum memberikan tanggapan atas permintaan pembaruan.

Gencatan Senjata Berjalan Lambat

Meski pertempuran belum sepenuhnya berhenti, sebagian kesepakatan gencatan senjata tetap berjalan. Hamas telah membebaskan seluruh sandera yang ditahannya, sementara Israel sebagai imbalannya membebaskan beberapa ribu warga Palestina. Pada saat yang sama, aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza meningkat dan sebuah komite teknokratik baru dibentuk untuk mengelola urusan sehari-hari wilayah tersebut.

Di bidang kemanusiaan, Palang Merah menyatakan pada Rabu bahwa pihaknya menjadi perantara dalam penyerahan 54 jenazah warga Palestina yang dikembalikan ke Gaza. Rumah Sakit Shifa melaporkan telah menerima lebih dari 60 kotak berisi sisa-sisa jenazah lainnya. Menurut Palang Merah, para ahli forensik akan mulai mengidentifikasi jenazah-jenazah tersebut di wilayah yang hingga kini masih mencatat ribuan orang hilang.

Namun, sejumlah elemen penting dari gencatan senjata belum menunjukkan kemajuan. Beberapa di antaranya adalah rencana pengerahan pasukan keamanan internasional, pelucutan senjata Hamas, serta upaya rekonstruksi Gaza.

Perang di Gaza bermula dari serangan pada tahun 2023, ketika ribuan militan yang dipimpin Hamas menyerbu Israel selatan setelah melancarkan rentetan roket secara mendadak. Dalam serangan tersebut, Israel mengklaim 1.200 orang—sebagian besar warga sipil—tewas dan 251 orang diculik.

Sejak perang dimulai, lebih dari 71.800 warga Palestina telah tewas, menurut otoritas kesehatan Gaza, yang tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil. Otoritas tersebut menyatakan memiliki catatan korban yang terperinci dan dinilai secara umum dapat diandalkan oleh badan-badan PBB serta para pakar independen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya