Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) mengambil langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri kerajinan nasional dengan menjajaki kolaborasi penyediaan bahan baku lintas negara.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan industri handicraft Indonesia terhadap impor bahan baku dari India dan China, yang selama ini masih mendominasi rantai pasok sektor tersebut.
Advertisement
Di tengah meningkatnya tantangan global, mulai dari fluktuasi harga bahan baku, gangguan rantai pasok internasional, hingga tingginya biaya logistik, ASEPHI menilai diversifikasi sumber bahan baku menjadi kebutuhan mendesak. Ketergantungan pada negara pemasok tertentu dinilai berisiko terhadap keberlanjutan industri kerajinan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung sektor ini.
Penjajakan kerja sama tersebut disampaikan ASEPHI dalam pameran INACRAFT 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC). Melalui ajang ini, ASEPHI membuka peluang kolaborasi dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan Afrika, tidak hanya dalam penyediaan material, tetapi juga melalui skema saling dukung antar asosiasi, termasuk barter partisipasi pameran internasional dan kolaborasi desain produk.
Strategi ini diharapkan mampu menekan biaya, memperluas jaringan pasar, serta mendorong ekspor produk kerajinan Indonesia ke pasar global.
Wakil Ketua Umum II ASEPHI Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional, Baby Jurmawati, mengatakan penjajakan kerja sama dilakukan melalui konsep saling mendukung antarnegara. Skema ini mencakup kolaborasi bahan baku hingga partisipasi bersama dalam pameran internasional.
“Kita diundang Jepang dan beberapa negara lain dengan konsep saling support. Biaya kargo dan penginapan di pameran internasional sangat besar, jadi kami mencoba kolaborasi lewat asosiasi,” ujar Baby saat ditemui di INACRAFT 2026, Rabu, 4 Februari 2026, dikutip Kamis, (5/2/2026).
Uzbekistan Jadi Alternatif Bahan Baku Kerajinan
ASEPHI menilai Uzbekistan sebagai salah satu negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif pemasok bahan baku. Negara Asia Tengah tersebut dikenal sebagai produsen katun, kapas, dan sutra dengan kualitas baik serta harga yang relatif terjangkau.
“Tahun lalu kami sudah mencoba kolaborasi material Uzbekistan untuk batik. Hasilnya bagus dan harga bahan bakunya lebih rendah dibandingkan yang biasa kita impor,” kata Baby.
Kendala Logistik Masih Jadi Tantangan
Meski menjanjikan dari sisi kualitas dan harga, kerja sama dengan Uzbekistan masih menghadapi tantangan besar pada aspek logistik. Uzbekistan merupakan negara double landlocked yang tidak memiliki akses laut, sehingga pengiriman harus dilakukan melalui jalur udara dengan biaya tinggi.
"Pengirimannya mahal karena harus lewat udara. Ini yang sedang kami cari solusinya,” ujar Baby.
INACRAFT 2026 Dorong Daya Saing dan Ekspor Kerajinan
Selain penjajakan bahan baku, ASEPHI juga mendorong kolaborasi desain dan produksi agar produk kerajinan Indonesia semakin diterima di pasar global. INACRAFT 2026 mengusung tema Womenpreneurs dengan pendekatan human-centered, menempatkan perempuan sebagai ikon utama industri kerajinan nasional.
“Banyak negara ingin belajar dari Indonesia yang budayanya beragam dan didukung perempuan kreatif. Di sisi lain, kita juga bisa memanfaatkan bahan baku mereka untuk produk yang lebih global,” kata Baby.
ASEPHI juga membuka peluang ekspansi ke pasar baru seperti Afrika dan Amerika dengan menyesuaikan desain, harga, dan ukuran produk sesuai kebutuhan pasar internasional.