Demutualisasi Bursa: Ini Daftar Negara yang Terapkan

Demutualisasi bukan konsep baru dalam industri pasar modal global.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 04 Februari 2026, 19:43 WIB
Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pengalaman internasional menunjukkan bahwa demutualisasi membawa manfaat nyata dan berulang bagi penguatan pasar modal.

Ia menegaskan bahwa demutualisasi bukanlah konsep baru dalam industri pasar modal global. Bahkan, sejumlah negara telah melakukannya sejak puluhan tahun lalu.

“Ini bukan konsep baru. Bursa Efek Australia melakukannya pada 1998, sementara National Stock Exchange (NSE) sudah lebih dulu pada 1992,” ujar Pandu di Indonesia Economic Summit, Rabu (4/2/2026). 

Menurut Pandu, fakta tersebut menunjukkan bahwa demutualisasi telah diterapkan lebih dari 25 tahun lalu dan bukan sesuatu yang bersifat eksperimen. Tinggal bagaimana setiap negara, termasuk Indonesia, mengambil keputusan untuk menerapkannya atau tidak.

“Banyak dari hal ini sudah dilakukan sejak lama. Ini bukan rahasia, tinggal apakah kita ingin melakukannya atau tidak,” katanya.

Saat ditanya soal efektivitas demutualisasi, Pandu menilai jawabannya sangat sederhana dan mudah dibuktikan. Siapa pun bisa melihat rekam jejaknya melalui berbagai sumber terbuka.

“Kalau ditanya apakah ini berhasil, sangat sederhana. Anda bisa meneliti sendiri, cari di internet, pakai aplikasi AI apa pun, hasilnya jelas,” ujarnya.

Ia menekankan satu kesimpulan utama dari berbagai studi kasus global, yakni bursa yang melakukan demutualisasi cenderung tumbuh lebih besar dan lebih kuat dari waktu ke waktu.

“Satu hal yang sangat nyata, perusahaan menjadi lebih besar, lebih dalam, dan lebih kuat seiring waktu setelah melakukan demutualisasi,” tegas Pandu.

 

Pendukung Kuat Demutualisasi Bursa Efek di Indonesia

Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Karena alasan itulah, Danantara menjadi pendukung kuat demutualisasi bursa efek di Indonesia. Pandu menyebut isu ini kini menjadi topik hangat dalam pengembangan pasar modal nasional.

“Itulah sebabnya kami di Danantara menjadi pendukung kuat demutualisasi bursa efek. Topik ini sekarang menjadi sangat relevan di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, pasar saham merupakan sarana tercepat bagi investor, khususnya dari luar negeri, untuk mengekspresikan kepercayaan terhadap suatu negara. Likuiditas pasar saham membuat aliran investasi dapat masuk dengan lebih cepat dan transparan.

“Menurut saya, pasar saham adalah cara tercepat, terutama bagi mitra asing, untuk mengekspresikan kepercayaan dan berinvestasi di negara kita, karena ini cara paling likuid untuk menunjukkan keyakinan tersebut,” pungkas Pandu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya