Danantara Susun Peta Industri R&D Pengembangan Produk, Ini Manfaat Pentingnya

Danantara tengah memetakan industri yang berpotensi terlibat dalam R&D berbasis pengembangan produk.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 04 Februari 2026, 18:15 WIB
Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa, membeberkan empat pilar pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Liputan6.com, Jakarta - Danantara tengah menyusun pemetaan industri yang berpotensi terlibat dalam research and development (R&D) berbasis pengembangan produk. 

Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa mengatakan, pemetaan itu diarahkan untuk mencocokkan riset industri dengan dukungan dari universitas dan lembaga riset.

“Kami sedang memetakan industri mana saja yang bisa masuk ke R&D (research and development) pengembangan produk, sekaligus mencocokkannya dengan riset yang didukung oleh universitas dan lembaga penelitian,” kata Sigit dalam Indonesia Economic Summit, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, efek dari pendekatan ini sangat besar. Ia mencontohkan satu proyek riset yang hanya didanai kurang dari USD 1 juta, namun mampu menghasilkan manfaat strategis bagi industri dan negara.

“Kami hanya mendanai riset itu tidak lebih dari USD 1 juta untuk pengembangan produk dan R&D industri. Tapi hasilnya luar biasa, karena tidak hanya menggantikan input impor, tapi juga memperkuat ketahanan keamanan nasional dari sisi produk,” ujarnya.

Sigit menambahkan, riset tersebut dimulai pada 2022 dengan dana sekitar USD 1 juta atau setara Rp17 miliar. Saat ini, hasil riset itu telah berkembang hingga tahap pembangunan pabrik dan peningkatan skala produksi massal dengan nilai mencapai Rp3,9 triliun.

“Ini menunjukkan bahwa riset kecil bisa menghasilkan dampak ekonomi yang sangat besar jika diarahkan ke pengembangan produk,” tegasnya.

 

Porsi Dana Riset Nasional

Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa saat acara Indonesia Economic Summit, Rabu (4/2/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Dengan porsi dana riset nasional saat ini baru mencapai 0,34% dari total belanja, kata dia, angka yang dinilai masih sangat kecil dan belum mencerminkan kontribusi sektor industri secara menyeluruh. Meski data ini dihitung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains serta Teknologi, juga Dewan Riset dan Inovasi Nasional.

Ia optimistis, jika model pengembangan produk berbasis riset ini dapat dipetakan dan diperluas, maka kontribusi dana riset nasional akan melampaui angka 0,34%.

Melihat hal itu, ia menjelaskan, pengembangan produk tidak bisa dilepaskan dari kegiatan riset dan pengembangan (R&D). Karena itu, semakin banyak industri yang terlibat dalam pengembangan produk, maka kebutuhan dan aktivitas R&D juga akan meningkat secara otomatis.

“Kuncinya adalah pengembangan produk pasti membutuhkan R&D. Jadi kalau industri semakin aktif mengembangkan produk, maka R&D di dalam industri juga akan ikut tumbuh,” jelasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya