Kisah Bayi Orangutan Yatim yang Diselamatkan dari Penahanan Ilegal di Kalimantan

Jack, seekor bayi orangutan yatim piatu berusia 18 bulan berhasil dibebaskan dari kondisi penahanan ilegal dan kini berada di pusat penyelamatan di Kalimantan

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 06 Februari 2026, 12:05 WIB
Anak orangutan ditempatkan di kandang ayam (Liputan6.com / Reza Efendi)

Liputan6.com, Jakarta - Jack, seekor bayi orangutan yatim piatu berusia 18 bulan berhasil dibebaskan dari kondisi penahanan tidak sah dan kini berada di pusat penyelamatan di Kalimantan Timur (Kaltim).

Berdasarkan laporan dari laman earth.org, pada saat penyelamatan di Desember 2025, The Orangutan Project bersama dengan para mitranya termasuk aliansi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), menemukan Jack dipenjara dalam kotak kayu kecil  dua meter di atas tanah dengan rantai  berat yang terikat di lehernya.

Rantai dan tali yang digunakan untuk menahan telah melukai lehernya, dan bekas luka terbuka semakin tampak ketika ia tergantung terbalik.

Jack ditemukan sendirian, ketakutan dan  jauh dari lingkungan hutan tempat orangutan seharusnya berada.  Ia dipisahkan dari induknya, yang biasanya akan merawatnya selama bertahun-tahun.

Di alam liar, biasanya induk orangutan akan mengajarkan anak-anaknya keterampilan penting seperti memanjat, mencari makan, membangun sarang, serta menavigasi tuntutan sosial dan ekologis yang kompleks lainnya dari kehidupan hutan. Namun sebaliknya, Jack dikurung dan tidak dapat mengekspresikan perilaku alami atau mengembangkan keterampilan untuk bertahan hidup di alam liar.

Orangutan adalah salah satu spesies paling cerdas di bumi, dengan kemampuan kognitif dan emosionalnya yang kuat. Oleh karenanya, mereka akan sangat merasakan kesedihan, stres, dan kehilangan.

Di usia yang sangat muda ini, Jack telah menderita trauma psikologis yyang signifikan dan kini sedang menghadapi pemulihan yang panjang dari dampak fisik dan emosional di kehidupannya.

Trauma dan Tantangan Rehabilitasi

bayi orangutan kalimantan. (Foto: Liputan6.com/IAR Indonesia/Aceng Mukaram)

Saat berada di pusat penyelamatan Kalimantan Timur,  Jack dalam keadaan yang aman dan menerima perawatan komprehensif. Luka di lehernya sembuh dan ia telah menjalani pemeriksaan media lengkap, dan makan secara teratur.

Namun, perjalanan Jack belum selesai, masih perlu menyelesaikan karantina dan dinyatakan sehat secara medis, ia akan diperkenalkan kepada anak-anak yatim piatu lainnya yang berada dalam proses rehabilitasi.

Tim perawat menggambarkan Jack sebagai hewan yang lembut, ingin tahu, dan suka bermain, yang menunjukkan perilaku khas bayi orangutan ketika diberi lingkungan yang aman.

Tahap selanjutnya, dalam beberapa bulan mendatang, Jack akan memulai proses rehabilitasi jangka panjang yang akan memakan waktu bertahun-tahun dengan memulai Sekolah Hutan, serta mempelajari semua hal yang diajarkan ibunya di alam liar.

Di lingkungan hutan yang aman, bayi seperti Jack dapat merasakan hutan, berinteraksi dengan orangutan lain, mempelajari keterampilan bertahan hidup yang penting, serta membangun kepercayaan diri sendiri.

Harapan untuk Masa Depan Orangutan

Orangutan.

Meskipun kisah Jack penuh dengan penderitaan awal, keberhasilannya diselamatkan dan dibawa ke pusat rehabilitasi memberikan harapan.

Namun kejadian seperti ini bukanlah hal yang jarang terjadi, karena perburuan liar dan perdagangan satwa liar ilegal tetap menjadi ancaman utama bagi spesies orangutan yang terancam punah. Induk orangutan seringkali menjadi rentan akibat penggundulan lahan, dan dibunuh untuk diambil bayinya.

Bayi-bayi tersebut dijual di pasar gelap sebagai hewan peliharaan keluarga yang “lucu.” Padahal dalam liar, bayi orangutan tetap bergantung pada induknya hingga usia lebih dari delapan tahun.

Di Pusat Penyelamatan BORA, Project Orangutan merehabilitasi orangutan yang diselamatkan, sehingga mereka akhirnya dapat kembali hidup di alam liar.

Dengan perawatan yang tepat dan lingkungan yang aman, orangutan yang sudah siap dan telah direhabilitasi akan dilepasliarkan ke kawasan hutan lindung, tempat di mana mereka hidup mandiri, bereproduksi, membesarkan anak-anaknya, serta mendapatkan kesempatan untuk kembali hidup bebas di hutan.

infografis Hutan Sebagai Habitat Satwa. (Liputan6.com/Abdillah).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya