Anak SD Gantung Diri di NTT, Psikiater: Anak Tak Ingin Mati tapi Putus Asa

Kasus anak SD gantung diri di NTT membuka fakta kesehatan jiwa anak. Psikiater sebut putus asa jadi pemicu utama, bukan niat mati.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 04 Februari 2026, 11:28 WIB
Anak SD gantung diri di NTT mengungkap krisis kesehatan jiwa anak. Psikiater menilai aksi ini lahir dari putus asa, bukan keinginan mati. (Liputan6.com/ Ola Keda)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus anak SD gantung diri menggemparkan jagat media sosial. Peristiwa bunuh diri ini menimpa seorang bocah SD berumur 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Korban yang masih duduk di kelas IV sekolah dasar (SD) itu diduga nekat mengakhiri hidup akibat kecewa karena tidak dibelikan pulpen dan buku tulis untuk keperluan sekolah.

Kasus anak SD gantung diri di NTT ini menjadi viral setelah beredar kabar bahwa korban berinisial YBR sempat menulis surat untuk sang ibu. Surat tersebut disertai gambar seorang anak yang sedang menangis, yang semakin menggugah emosi publik.

Belajar dari kasus anak SD gantung diri ini, dokter spesialis kedokteran jiwa, Lahargo Kembaren, memberikan catatan penting dari sudut pandang kesehatan jiwa anak dan remaja.

"Anak tidak sedang ingin mati, dia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat," kata Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Health Liputan6.com pada Rabu, 4 Februari 2026.

Menjawab pertanyaan apakah anak usia 10 tahun sudah memahami konsep kematian dan bunuh diri, Lahargo menjelaskan bahwa pemahaman tersebut memang mulai terbentuk.

"Ya, anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, meski pemahamannya belum matang secara emosional dan kognitif," ujarnya.

Dari sudut pandang kesehatan jiwa, anak belum memiliki kemampuan menimbang konsekuensi jangka panjang. Pola pikir mereka masih bersifat konkret dan hitam-putih. Ketika berada dalam tekanan, anak bisa sampai pada kesimpulan ekstrem, seperti 'Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai'.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya isu orang dewasa. Risiko ini dapat muncul pada kelompok usia muda ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.

"Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa," ujar Lahargo.

Faktor Utama Risiko Bunuh Diri pada Anak

Lebih lanjut, Lahargo memaparkan sejumlah faktor risiko utama bunuh diri pada anak usia sekolah dasar. Berdasarkan kajian WHO dan laporan tren nasional Kementerian Kesehatan, faktor-faktor tersebut meliputi:

Faktor individu:

  • Depresi, kecemasan berat
  • Kesulitan regulasi emosi
  • Perasaan bersalah berlebihan, merasa  menjadi beban.

Faktor keluarga:

  • Tekanan ekonomi kronis
  • Konflik keluarga, kekerasan verbal/fisik
  • Orangtua mengalami stres berat atau gangguan mental.

Faktor lingkungan:

  • Perundungan (bullying)
  • Isolasi sosial
  • Paparan konten bunuh diri di media/digital tanpa pendampingan.

Tren Percobaan Bunuh Diri pada Anak

Anak SD gantung diri di NTT mengungkap krisis kesehatan jiwa anak. Psikiater menilai aksi ini lahir dari putus asa, bukan keinginan mati. (Liputan6.com/ Ola Keda)

Kemenkes menunjukkan tren peningkatan kasus percobaan bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya tekanan sosial-ekonomi dan digital.

"Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian," katanya.

Perubahan perilaku adalah alarm paling penting. Jangan dianggap sepele, tanda-tanda yang perlu diwaspadai yakni:

  • Menarik diri, menjadi sangat pendiam
  • Perubahan drastis emosi: murung, mudah menangis, cepat marah
  • Ucapan bernada putus asa: “Aku capek hidup”, “Aku cuma bikin repot”
  • Gangguan tidur, mimpi buruk berulang
  • Penurunan prestasi atau kehilangan minat bermain
  • WHO menekankan, mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, tapi sering tidak terbaca atau diabaikan.

"Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab, itu cara jiwa meminta tolong," tambahnya.

Peran Ekonomi Terhadap Kesehatan Mental Anak

Lahargo tak memungkiri, ekonomi memiliki peran dalam memberi beban sistemik terhadap kesehatan mental anak. Masalah ekonomi sangat berpengaruh secara tidak langsung namun mendalam, seperti:

  • Anak menyerap stres orangtua, meski tidak selalu dipahami
  • Anak sering merasa dirinya penyebab kesulitan keluarga
  • Muncul rasa bersalah dan tanggung jawab semu.
  • Secara sistemik, ini bukan semata kegagalan individu, tetapi juga:
  • Minimnya layanan kesehatan jiwa anak yang mudah diakses
  • Rendahnya literasi kesehatan mental
  • Lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan komunitas.

“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk.”

Langkah Pencegahan Bunuh Diri pada Anak

Langkah pencegahan adalah hal paling penting agar kejadian serupa tidak terulang. Pencegahan harus berlapis, tidak bisa satu pihak saja, yakni:

Di keluarga:

  • Bangun komunikasi emosional, bukan hanya disiplin
  • Validasi perasaan anak sebelum memberi nasihat
  • Orangtua perlu berani mencari bantuan, bukan menahan sendiri.

Di sekolah:

  • Guru dilatih mengenali tanda distres psikologis dan melakukan pertolongan pertama pada luka psikologis (P3LP / Psychological First Aid)
  • Sistem konseling aktif, bukan reaktif
  • Budaya anti-bullying yang nyata, bukan slogan.

Di masyarakat dan negara:

  • Akses layanan kesehatan jiwa anak diperluas
  • Literasi kesehatan mental sejak dini
  • Kebijakan yang sensitif terhadap dampak ekonomi pada keluarga.

WHO menegaskan bahwa bunuh diri dapat dicegah, dengan intervensi dini, sistem dukungan kuat, dan lingkungan yang aman secara emosional.

“Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian. Mari hadir bagi mereka di setiap musim hidupnya," pungkas psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) itu.

KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya