Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) jatuh ke level terendah sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih lebih dari setahun lalu. Harga bitcoin yang melemah ini menghapus keuntungan yang dicatat oleh aset digital ini sejak kemenangan pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) yang ramah terhadap kripto.
Mengutip Yahoo Finance, Rabu (4/2/2026), bitcoin (BTC) memperpanjang koreksi hampir empat bulan. Harga bitcoin jatuh di bawah USD 74.424,95 atau Rp 1,24 miliar (asumsi kurs dolar Amerikat terhadap rupiah di kisaran 16.770), harga terendah pada 2025.
Advertisement
Level itu terlihat pada 7 April setelah rencana tarif awal Trump mengguncang pasar keuangan global.
“Banyak pelaku pasar mencoba membeli saat harga turun, bertaruh pada pemulihan di atas USD 80.000,” ujar Senior Derivatives Trader FalconX, Bohan Jiang.
Ia menambahkan, saat harga bitcoin terus turun, banyak posisi itu telah dilikuidasi sehingga menekan harga.
Pada Selasa pekan ini, harga bitcoin jatuh hingga 7% menjadi USD 72.877, level terendah sejak 6 November 2024, sebelum kembali naik ke USD 76.000 pada pukul 15:35 di New York. Saat artikel ini ditulis, harga bitcoin turun 3,88% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin melemah 15,16%. Kini, harga BTC berada di posisi USD 75.586 atau Rp 1,26 miliar.
Pemerintahan Amerika Serikat meski pro kripto dan adopsi institusional meningkat, bitcoin telah anjlok sekitar 40% sejak melonjak ke rekor tertinggi pada awal Oktober. Penurunan ini terjadi setelah serangkaian likuidasi yang melumpuhkan pada 10 Oktober, dipicu oleh komentar tambahan Trump tentang tarif yang menghapus USD 19 miliar dalam taruhan leverage token yang hingga kini belum pulih di pasar kripto secara keseluruhan.
Gejolak Pasar Kripto
Penurunan Bitcoin terbaru terjadi di tengah gejolak pasar yang lebih luas, khususnya penurunan historis pada logam mulia pada akhir pekan lalu setelah reli spekulatif. S&P 500 pada Selasa mundur dari rekor mendekati tertinggi karena aksi jual saham teknologi, sementara emas dan perak pulih dan minyak melonjak karena risiko geopolitik yang kembali meningkat. Bagi Bitcoin, pasar derivatif kripto menunjukkan pelemahan lebih lanjut tanpa katalis positif yang signifikan terlihat.
Open interest, yaitu jumlah kontrak yang beredar, untuk kontrak berjangka kripto anjlok selama akhir pekan, menurut data dari CME dan Coinglass. Tingkat pendanaan untuk kontrak berjangka perpetual, yang mencakup sebagian besar volume perdagangan aset digital, telah menjadi negatif, yang berarti ada lebih banyak permintaan untuk taruhan bearish.
Opsi put, kontrak yang melindungi terhadap risiko penurunan — telah mereda, tetapi konsentrasi harga strike menunjukkan pasar belum sepenuhnya pulih dari kegelisahannya.
"Sentimen kripto mencapai titik terendah,” ujar Mitra di platform opsi kripto SignalPlus yang berbasis di Hong Kong, Augustine Fan.
"Volatilitas akhirnya meningkat setelah penurunan selama setahun karena para trader berebut perlindungan, dengan pasar yang diperdagangkan dalam mode pasar bearish.”
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
El Salvador Beli Bitcoin dan Emas saat Harga Turun
Sebelumnya, El Salvador membeli bitcoin (BTC) dan emas saat harga turun pada Kamis, 29 Januari 2026. Dengan aksi beli emas dan bitcoin memperkuat strategi unik untuk membangun cadangan di kedua aset itu secara bersamaan.
Mengutip Yahoo Finance, Minggu (1/2/2026), Bank Sentral El Salvador mengatakan telah membeli 9.298 ounce emas senilai USD 50 juta atau Rp 838,70 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.770), meningkatkan total cadangan menjadi 67.403 ounce senilai USD 360 juta atau Rp 6,03 triliun.
Banco Central de Reserve mengatakan, akuisisi itu mengkonsolidasikan ekuitas jangka panjang dan membantu menjaga keseimbangan yang bijaksana dalam kompoii cadangan devisa.
Presiden El Salvador menyambut baik pembelian itu. “Kita baru saja membeli saat harga turun lagi,” tulis dia.
Pembelian Bitcoin Berlanjut Tanpa Henti
Pembelian emas itu bertepatan dengan akumulasi bitcoin yang sedang berlangsung di negara itu. Data dari Kantor Bitcoin Nasional El Salvador menunjukkan satu BTC ditambahkan ke cadangan pada Kamis, dan total tujuh BTC selama sepekan terakhir,s esuai dengan kebijakan satu bitcoin per hari.
Cadangan Bitcoin nasional negara tersebut telah tumbuh menjadi 7.547,37 BTC, senilai USD 624,24 juta atau Rp 10,47 triliun dengan harga saat ini. Hingga saat penulisan ini, negara tersebut merupakan pemegang Bitcoin pemerintah terbesar kelima, menurut bitcointreasuries.net, setelah Amerika Serikat (AS), China, dan Inggris.