Liputan6.com, Kabul - Gempa bumi pada 4 Februari 1998 mengguncang wilayah utara Afghanistan dan menewaskan ribuan orang, selain menyebabkan banyak warga terluka serta kehilangan tempat tinggal. Pusat gempa dilaporkan berada di kota Rostaq, Provinsi Takhar, daerah terpencil yang terletak dekat perbatasan Tajikistan.
Seorang juru bicara Aliansi Utara, yang menguasai wilayah tersebut, mengatakan kepada kantor berita Afghan Islamic Press yang berbasis di Pakistan bahwa lebih dari 3.500 jenazah telah ditemukan sejauh ini. Sementara itu, pemerintah Taliban di Kabul menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 3.230 orang.
Advertisement
Namun, sejumlah pakar Barat meragukan angka tersebut. Mereka menilai jumlah korban kemungkinan lebih rendah mengingat wilayah terdampak merupakan kawasan dengan kepadatan penduduk yang relatif rendah, dikutip dari laman BBC, Rabu (4/2/2026).
Selain korban jiwa, dampak gempa juga menyebabkan kerusakan luas. Kedutaan Besar Afghanistan anti-Taliban di Dushanbe, ibu kota Tajikistan, melaporkan sekitar 15.000 orang kehilangan tempat tinggal setelah puluhan desa hancur akibat gempa.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Palang Merah Internasional hingga kini masih berupaya memverifikasi jumlah korban dan kerusakan di lapangan. Tidak ada badan bantuan internasional yang berada langsung di lokasi bencana. Namun, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah telah mengirimkan tim bantuan dari Dushanbe, yang membutuhkan perjalanan darat setidaknya 36 jam untuk mencapai wilayah terdampak.
Bandara di sebelah barat Rostaq dilaporkan masih beroperasi dan dapat digunakan untuk menerima pasokan darurat.
Gempa tersebut tercatat berkekuatan 6,1 magnitudo menurut ahli seismologi Swedia. Meski digolongkan sebagai gempa “tidak ekstrem”, para ahli menegaskan bahwa dalam kondisi tertentu, terutama di daerah dengan infrastruktur rapuh, gempa dengan kekuatan tersebut dapat menimbulkan kerusakan besar.
Sebagian besar penduduk di wilayah Takhar tinggal di rumah-rumah yang dibangun dari tanah liat dan lumpur, sehingga rentan runtuh saat gempa terjadi. Kondisi cuaca juga memperburuk situasi. Duta Besar Afghanistan untuk PBB, Ravan Farhadi, mengatakan wilayah tersebut tertutup salju dan mengalami suhu sangat dingin pada malam hari.
Pemimpin Taliban, Mullah Mohammed Omar, menyampaikan belasungkawa atas bencana tersebut dan memerintahkan pasukan Taliban di wilayah itu—yang tengah berupaya merebut Takhar dari Aliansi Utara—untuk membantu proses penyelamatan.
Namun, upaya bantuan dikhawatirkan terkendala oleh konflik bersenjata yang masih berlangsung di kawasan tersebut, termasuk ketegangan di wilayah perbatasan Tajikistan, yang berpotensi menghambat jalur bantuan lintas negara.