Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengembangkan pengelolaan bioetanol dengan pendekatan multifeedstock, yakni pemanfaatan beragam jenis bahan baku sebagai sumber energi terbarukan.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus mendukung percepatan transisi menuju energi hijau.
Advertisement
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan, mengatakan pengembangan bioetanol menjadi perhatian pemerintah daerah karena dinilai strategis dalam mendukung kemandirian energi nasional.
"Melalui teknologi ini dapat dilakukan percepatan transisi energi hijau, sekaligus mendukung kebijakan wajib pencampuran etanol pada bahan bakar bensin. Langkah ini sekaligus diarahkan untuk mengoptimalkan potensi komoditas pertanian lokal sebagai bahan baku energi terbarukan," ujar Mulyadi, melansir Antara, Selasa 3 Februari 2026.
Pemerintah daerah (Pemda) menaruh perhatian serius terhadap pengembangan bioetanol sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.
Hal tersebut diperkuat oleh posisi strategis Lampung yang ditunjang kondisi geografis serta ketersediaan bahan baku pertanian, khususnya produksi jagung.
"Lampung memiliki keunggulan strategis untuk pengembangan bioetanol, yakni dari sisi geografis maupun ketersediaan bahan baku. Sebab sekitar 29 persen struktur ekonomi Lampung ditopang oleh sektor pertanian, dengan produksi jagung mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun, serta berkontribusi hingga 70 persen produksi nasional," ucap Mulyadi.
Pengembangan bioetanol multifeedstock diharapkan memperkuat ketahanan energi sekaligus memberi nilai tambah bagi sektor pertanian dan petani daerah.
Pendekatan Multifeedstock Bioetanol
Pemprov Lampung dinilai memiliki keunggulan strategis karena berperan sebagai gerbang Pulau Sumatra dan berdekatan langsung dengan pasar utama di Pulau Jawa.
Posisi ini memberikan keuntungan dari sisi distribusi dan akses pasar, sehingga potensi komoditas pertanian yang besar di daerah tersebut dapat dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan bahan baku bioetanol secara berkelanjutan.
"Penerapan multifeedstock menjadi kunci agar produksi bioetanol tidak bergantung pada satu jenis komoditas. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan berbagai bahan baku seperti ubi kayu, tebu, nira, hingga biomassa lainnya secara fleksibel dan berkelanjutan," ucap Mulyadi.
Dengan memanfaatkan berbagai sumber bahan baku, produksi energi terbarukan dapat terus berjalan tanpa menekan satu komoditas tertentu.
Pendekatan ini dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan, sekaligus memberi ruang bagi optimalisasi komoditas pertanian lokal yang beragam.
Investasi Bioetanol di Lampung
Pertamina New and Renewable Energy menyiapkan pembangunan unit percontohan bioetanol generasi kedua di kawasan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, sebagai tahapan awal pengembangan.
Pada tahap awal tersebut, bahan baku yang dimanfaatkan antara lain limbah biomassa kelapa sawit serta uji tanam sorgum.
Pemanfaatan limbah biomassa diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi, sementara pengujian sorgum dilakukan sebagai upaya diversifikasi bahan baku yang berpotensi dikembangkan lebih luas di masa mendatang.
Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) diketahui menyiapkan rencana investasi dalam pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung.
Investasi tersebut dinilai sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam mendorong swasembada energi, penguatan ekonomi hijau, serta percepatan hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Sentra Bioetanol Nasional
Pemprov Lampung telah disiapkan sebagai salah satu sentra pengembangan industri bioetanol nasional berdasarkan Peta Jalan Strategi Hilirisasi Investasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Penetapan tersebut mencerminkan kesiapan daerah dari sisi sumber daya, infrastruktur, serta ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan untuk mendukung pengembangan industri energi terbarukan.
Dukungan bahan baku utama berupa tebu, singkong, dan sorgum menjadi modal penting dalam pengembangan industri bioetanol di Lampung.
Pengembangan industri bioetanol di daerah ini diproyeksikan tidak hanya memperkuat rantai pasok energi bersih nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Industri tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, serta mendorong peningkatan kesejahteraan petani lokal di wilayah penghasil bahan baku.
Selain itu, keberadaan industri bioetanol juga berpotensi memperkuat perekonomian daerah melalui pengembangan hilirisasi dan investasi berkelanjutan.