Pemerintah Lewat Kemenpar Dorong Wisata Bahari Berkelanjutan bersama Aktivis

Pemerintah rangkul aktivis lingkungan wujudkan wisata bahari berkelanjutan, tekankan pentingnya sinergi jaga ekosistem laut dan ekonomi masyarakat pesisir.

oleh Ahmad KhuzaifiDiterbitkan 07 Februari 2026, 10:05 WIB
Pantai Pasut tidak menetapkan tarif tiket masuk. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir, yakni sekitar Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil. Tampak dalam foto, pengunjung beraktifitas menikmati waktu senja Pantai pasut di Tabanan, Bali. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak seluruh aktivis lingkungan untuk mewujudkan wisata bahari nasional yang tertata dan berkelanjutan.

"Indonesia memperkuat keselamatan dan keamanan pariwisata. Komitmen ini membutuhkan kekuatan kolektif untuk membentuk pariwisata bahari yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, memastikan lautan kita terus menginspirasi kemakmuran dan kebanggaan bagi generasi mendatang," ujar Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam keterangannya. Dikutip dari Antara, Selasa 3 Februari 2026.

Saat acara di Bali Ocean Days, Ni Luh mengatakan, sinergi yang kuat antarpihak menjadi hal yang sangat-sangat penting untuk mewujudkan wisata bahari Indonesia menjadi destinasi kelas dunia.

Ni Luh juga menekankan Indonesia tidak hanya menawarkan keindahan alamnya saja, tetapi juga berkomitmen nyata untuk menjaga lingkungannya yang indah.

Pemerintah masih terus memperkuat kebijakan-kebijakan yang mendorong keselamatan, keamanan, dan juga keberlanjutan pariwisata.

Aktivis lingkungan serta Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo menambahkan juga dalam mengatur wisata bahari, tentang masalah sampah menjadi tanggung jawab pribadi yang melekat pada setiap diri individu.

"Aktor pariwisata harus menyadari bahwa keindahan Bali yang luar biasa ini sebanding dengan usaha yang kita berikan. Kita harus mau repot dan berinvestasi untuk mengurus sampah," ucap Suzy.

Kolaborasi Menjaga Jantung Ekonomi Pariwisata

Pantai ini menjadi destinasi bagi wisatawan yang mencari ketenangan serta keindahan alam yang tak tertandingi. Tampak dalam foto, pemandangan udara menunjukkan para peselancar menunggangi ombak di pantai Lhoknga, provinsi Aceh, pada Senin 12 Januari 2026. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Suzy juga mengatakan pentingnya peran wisatawan dalam menjaga destinasi. Dalam hal tersebut, Suzy menilai bahwa operator wisata bahari tidak hanya melayani, tetapi juga membimbing dan mengajak wisatawan untuk berprilaku selaras dengan kelestarian alam.

"Ini membutuhkan kolaborasi dan struktur yang kuat untuk benar-benar mempertahankan keindahan alam Bali dan Indonesia," ucap dia.

CEO Wedoo Velerine Chanrakesuma mengatakan keberlanjutan lingkungan bahari meruapakan persoalan yang kompleks, harus dikerjakan secara gotong royong. Menurutnya, kesehatan laut adalah jantung dari ekonomi untuk pariwisata.

"Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air yang tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang. Koral dan laut kita adalah salah satu yang terindah di dunia. Menjaganya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk masa depan," kata Valerine.

Inovasi Teknologi dan Kisah Sukses Restorasi

Lokasinya berada dalam satu garis pantai dengan Jimbaran dan Kedonganan, menjadikannya pilihan tepat bagi wisatawan yang memiliki waktu singkat, termasuk mereka yang sedang transit dan ingin menikmati suasana pantai tanpa harus bepergian jauh. Tampak dalam foto, aktivitas wisatawan menikmati waktu senja di Pantai Kelan, Badung, Bali. (merdeka.com/Arie Basuki)

Velerine membocorkan Wdoo telah menghadirkan mesin pengelolaan sampah inovatif yang mampu mereduksi volume mencapai 95 persen. Inovasi tersebut dirancang untuk mematahkan hambatan logistik yang selama ini jadi tantangan daerah terpencil, sekaligus juga mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.

Velerine juga mendorong penguatan regulasi dan implementasi secara konsisten, agar destinasi tetap terlestasi dalam jangka panjang.

Sementara itu, Manajer Yayasan Karang Lestari, Komang Astika mengatakan juga bahwa pihaknya berupaya melindungi terumbu karang, dan telah mendapatkan pengakuan internasional melalui Desa Pemuteran, Bali.

Komang bercerita di desa tersebut sebelumnya menghadapi kerusakan ekosistem karang. Melalui berbagai inisiatig, termasuk penerapan metode biorock, masyarakat bersama-sama memulihkan kehidupan laut.

"Dengan mengamankan dan merestorasi terumbu karang, pariwisata Desa Pemuteran berkembang lebih baik dan semakin berkualitas," kata Komang.

Reklamasi pantai utara Jakarta

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya