Pengamat Sebut IHSG Berpotensi Tertekan di Awal Pekan

IHSG diprediksi tertekan pada awal pekan ini menyusul mundurnya sejumlah petinggi OJK.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 01 Februari 2026, 15:15 WIB
Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14.950 triliun dengan frekuensi sebanyak 4.931.760 kali. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat pasar modal Indonesia Reydi Octa memperkirakan pasar saham yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami tekanan pada awal perdagangan pekan depan, menyusul pengunduran diri dan perubahan petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurut Reydi, mundurnya sejumlah figur kunci di sektor regulator dan penyelenggara pasar modal dalam waktu berdekatan dapat memunculkan tanda tanya di kalangan pelaku pasar, sehingga berpotensi memicu tekanan jual di awal perdagangan.

“kayaknya sih kalau menurut saya di awal market mungkin ada sedikit tekanan jual gitu ya, karena kelihatannya berturut-turut gitu, seperti maksudnya ada strategi apa sih, sampai petinggi jasa keuangan, petinggi regulator, sama penyelenggara harus diganti atau harus turun gitu,” ujar Reydi dalam keterangannya, dikutip Minggu (1/2/2026).

Meski demikian, ia menilai tekanan tersebut cenderung bersifat sementara. Pelaku pasar disebutnya akan lebih memilih bersikap menunggu dan melihat arah kebijakan selanjutnya, terutama terkait siapa yang akan mengisi posisi-posisi strategis yang ditinggalkan.

“Iya, karena kita kan menunggu, pasti ada menunggu kepastian, pasti akan wait and see sih, menunggu kepastian siapa penerus-penerusnya atau pengantin-pengantinnya, kalau misalkan ternyata lebih kredibel kan sebenarnya lebih baik gitu,” pungkas Reydi.

 

Guncangan Signifikan

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumya, Reydi Octa menanggapi pengunduran diri petinggi OJK dapat dilihat dalam konteks keberlanjutan pasar modal di tengah tekanan yang terjadi belakangan ini.

Reydi menyoroti situasi pasar yang sempat mengalami guncangan signifikan, termasuk terjadinya penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi pukulan berat bagi pasar dan memicu kepanikan di kalangan investor.

“Menurut saya kalau memang itu yang terbaik keputusannya untuk keberlanjutan pasar modal aja sih. Supaya kan dari segi, dari kemarin ada kejadian Halt yang sampai dua hari berturut-turut gitu kan, karena MSCI nge-freeze untuk kita ada rebalancing di Februari ini, itu pukulan yang sangat telak gitu buat market, kepanikan pasar gitu kan. Terus kepercayaan investor global juga mulai, mulai rentan mempertanyakan transparansi saham di IHSG gitu,” ujar Reydi dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026)

 

Transparansi Pasar Saham Indonesia

Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Ia juga menyinggung soal persepsi investor global yang mulai mempertanyakan transparansi di pasar saham Indonesia. Dalam situasi tersebut, menurutnya, diperlukan langkah-langkah yang dapat memulihkan kepercayaan, termasuk dari sisi regulator dan penyelenggara pasar.

Reydi menilai, perubahan kepemimpinan dapat menjadi bagian dari upaya penyegaran di sektor pengawasan dan regulasi pasar modal. Hal ini, kata dia, penting agar ke depan tata kelola dan kredibilitas pasar bisa diperkuat.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya