Pakistan Diguncang Serangan Separatis, 21 Orang Tewas

Sudah ada kelompok separatis Pakistan yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini. Siapa mereka?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 01 Februari 2026, 07:00 WIB
Prajurit Angkatan Darat Pakistan dan aparat keamanan lainnya memeriksa lokasi setelah serangan bersenjata dan granat yang dilakukan militan di Quetta, Pakistan, Sabtu (31/1/ 2026). (Dok. AP/Arshad Butt)

Liputan6.com, Islamabad - Kelompok separatis melancarkan serangan terkoordinasi di Provinsi Balochistan, Pakistan, pada Sabtu (31/1/2026), yang menewaskan sedikitnya 10 personel keamanan dan 11 warga sipil. Demikian menurut seorang pejabat keamanan setempat.

Pakistan telah menghadapi pemberontakan separatis di Balochistan selama beberapa dekade. Provinsi di wilayah barat daya itu kerap menjadi sasaran serangan terhadap aparat negara, warga pendatang, dan warga asing, serta berbatasan langsung dengan Afghanistan dan Iran.

Seorang pejabat keamanan senior, yang berbicara kepada AFP dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media, mengatakan bahwa para teroris melancarkan serangan terkoordinasi sejak pagi hari di lebih dari 12 lokasi. Ia menyebutkan bahwa 10 personel keamanan gugur dalam serangan tersebut, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka. Menurutnya, sebanyak 67 militan tewas dalam bentrokan dengan aparat keamanan.

Pejabat yang sama menjelaskan bahwa korban sipil dalam rangkaian serangan tersebut merupakan warga etnis Baloch, termasuk tiga perempuan dan tiga anak-anak.

Kelompok separatis Baloch sebelumnya diketahui pernah menargetkan warga sipil yang diduga bekerja sama dengan aparat negara.

Seorang pejabat militer senior di Islamabad menyatakan bahwa serangan bersifat terkoordinasi, namun dieksekusi dengan buruk. Ia mengatakan serangan-serangan itu gagal akibat perencanaan yang lemah dan cepat runtuh di bawah respons keamanan yang efektif.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memuji pasukan keamanan karena berhasil menggagalkan serangan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Pakistan akan terus melanjutkan perang melawan terorisme hingga pemberantasannya secara menyeluruh, seraya menuduh India mendukung kelompok separatis.

Sementara itu, pejabat kepolisian di empat distrik menyatakan bahwa situasi keamanan belum sepenuhnya berada di bawah kendali aparat.

Di Quetta, ibu kota Provinsi Balochistan, seorang jurnalis AFP melaporkan terdengarnya sejumlah ledakan, sementara pasukan keamanan dikerahkan secara besar-besaran di berbagai titik kota. Jalan-jalan utama terlihat sepi dan sebagian besar kegiatan usaha ditutup.

"Sejak pagi, ledakan terjadi satu demi satu," ujar Abdul Wali, seorang pegawai swasta berusia 38 tahun, saat ia berupaya mencari darah untuk ibunya yang dirawat di rumah sakit.

Ia juga mengatakan bahwa polisi mengarahkan senjata kepada warga dan memerintahkan mereka untuk kembali, serta mengancam akan memukul mereka jika tidak mematuhi perintah.

Seorang pejabat senior di Quetta menuturkan kepada AFP bahwa para militan telah menculik seorang wakil kepala distrik.

Di Distrik Mastung, seorang pejabat pemerintah senior menyebutkan bahwa para militan telah membebaskan sedikitnya 30 narapidana dari sebuah penjara distrik dan menyita senjata api serta amunisi.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa para militan menyerang sebuah kantor polisi dan membawa pergi amunisi.

Akibat memburuknya situasi keamanan, layanan telepon seluler di distrik-distrik terdampak diblokir, lalu lintas terganggu, dan layanan kereta api di seluruh Provinsi Balochistan ditangguhkan.

BLA Klaim Bertanggung Jawab

Korban luka akibat serangan militan mendapat perawatan di sebuah rumah sakit di Quetta, Pakistan, Sabtu (31/1/2026). (Dok. AP/Arshad Butt)

Kelompok separatis Baloch Liberation Army (BLA), yang merupakan kelompok militan paling aktif di provinsi tersebut, mengklaim bertanggung jawab atas serangan-serangan itu dalam pernyataan yang dikirimkan kepada AFP.

Dalam pernyataannya, BLA menyebutkan bahwa mereka menargetkan instalasi militer, aparat kepolisian, serta pejabat administrasi sipil melalui serangan bersenjata dan bom bunuh diri. Mereka mengklaim pula telah memblokade jalan-jalan raya utama guna mengganggu operasi militer.

Menurut pernyataan dan video yang dirilis kelompok tersebut, sejumlah perempuan turut terlibat dalam rangkaian serangan.

Serangan pada Sabtu ini terjadi sehari setelah militer Pakistan mengumumkan bahwa pihaknya telah menewaskan 41 pemberontak dalam dua operasi terpisah di Balochistan.

"Dalam 12 bulan terakhir, pasukan keamanan di Balochistan telah mengirim lebih dari 700 teroris ke neraka, dengan sekitar 70 teroris dieliminasi hanya dalam dua hari terakhir," kata Kepala Menteri Provinsi Balochistan Sarfraz Bugti.

Ia menegaskan bahwa serangan-serangan tersebut tidak akan melemahkan tekad pemerintah dan aparat keamanan dalam memerangi terorisme.

Balochistan merupakan provinsi termiskin di Pakistan meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan belum tergarap. Wilayah ini tertinggal dibandingkan provinsi lain dalam bidang pendidikan, lapangan kerja, dan pembangunan ekonomi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok separatis Baloch telah meningkatkan serangan terhadap warga Pakistan dari provinsi lain yang bekerja di wilayah tersebut, serta terhadap perusahaan energi asing yang mereka tuduh mengeksploitasi kekayaan alam Balochistan.

Pada tahun lalu, separatis etnis Baloch menyerang sebuah kereta api yang membawa 450 penumpang, yang memicu pengepungan selama dua hari dan menewaskan puluhan orang.

Sementara itu, pada Agustus 2024, para militan meledakkan jembatan, menyerbu hotel, dan menargetkan instalasi keamanan dalam serangan-serangan di seluruh provinsi yang menewaskan puluhan orang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya