BBNI Siapkan Rp 1,5 Triliun untuk Buyback Saham

BBNI akan menjalankan aksi korporasi buyback saham dengan nilai mencapai Rp 1,5 triliun. Seluruh dana untuk aksi korporasi ini berasal dari arus kas bebas.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 31 Januari 2026, 16:00 WIB
Gedung PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. (Dok BBNI)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai mencapai Rp 1,5 triliun. Langkah strategis ini diambil perseroan untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah kondisi pasar global dan domestik yang masih dibayangi ketidakpastian.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Sabtu (31/1/2026), manajemen BBNI menjelaskan bahwa anggaran Rp 1,5 triliun tersebut sudah termasuk biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee yang diperkirakan sebesar 0,32% dari nilai eksekusi.

Manajemen BBNI menyoroti bahwa sepanjang 2025, saham perbankan Indonesia mengalami tekanan hebat akibat risiko geopolitik global dan ancaman perang tarif. Per 31 Desember 2025, harga saham BNI tercatat hanya tumbuh tipis 0,5% (YoY), tertinggal dibandingkan dengan bank-bank di kawasan regional.

"Buyback ini dimaksudkan untuk membantu mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks sedang berfluktuasi, sekaligus memberikan sinyal kepada investor bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan fundamental perusahaan yang kuat," tulis manajemen dalam dokumen tersebut.

 

Sumber Dana dan Dampak Keuangan

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kini mencapai usianya yang ke-73 tahun. Sebuah ikon baru diresmikan sabagai salah satu kado istimewa pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) BNI tersebut, yaitu Gedung Menara BNI di kawasan Pejompongan, Jakarta, pada Jumat (5 Juli 2019).

Seluruh dana untuk aksi korporasi ini berasal dari arus kas bebas (free cash flow) yang merupakan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Perseroan menegaskan bahwa dana tersebut:

  • Bukan berasal dari dana hasil Penawaran Umum.
  • Bukan merupakan pinjaman atau utang dalam bentuk apa pun.

Secara proforma (per 30 November 2025), pelaksanaan buyback ini diperkirakan akan menurunkan total aset dan ekuitas masing-masing sebesar Rp 1,5 triliun. Meski demikian, indikator keuangan utama tetap terjaga kuat:

  • Capital Adequacy Ratio (CAR): Diprediksi hanya terkoreksi tipis dari 21,3% menjadi 21,1%.
  • Earnings per Share (EPS): Justru berpotensi naik dari Rp 499 menjadi Rp 504.

Jadwal dan Pengalihan Saham

Aksi korporasi ini terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 9 Maret 2026. Jika disetujui, periode buyback akan berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027.

Saham hasil buyback (saham tresuri) rencananya akan dialihkan kembali melalui dua cara:

  • Dijual kembali di Bursa Efek Indonesia dengan ketentuan harga tertentu.
  • Program Kepemilikan Saham bagi pegawai dan pengurus perseroan sebagai bagian dari kebijakan remunerasi berbasis kinerja.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya