Nelayan Asal Banten Hilang di Perairan Kuala Penet, Cuaca Buruk Hambat Pencarian

Tim SAR melakukan pencarian terhadap Santika (37), nelayan asal Pandeglang, Banten, yang dilaporkan hilang usai terjatuh dari KM Doa Ibu di per

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 29 Januari 2026, 18:01 WIB
Tim SAR masih berupaya mencari nelayan asal Pandeglang, Banten, yang terjatuh dari kapal KM Doa Ibu di perairan Sekopong, Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur. (Dok. Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap Santika (37), nelayan asal Pandeglang, Banten, yang dilaporkan hilang usai terjatuh dari KM Doa Ibu di perairan Sekopong, Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur. Upaya pencarian tersebut terus dilakukan hingga Kamis (29/1/2026).

Peristiwa itu terjadi pada Selasa 27 Januari 2026 dan dilaporkan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung sekitar pukul 15.30 WIB oleh pembina nelayan setempat.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Pos SAR Bakauheni langsung mengerahkan personel menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 menuju lokasi kejadian yang berjarak sekitar 59,7 mil laut.

Dantim Pos SAR Bakauheni, Restu Abdila mengatakan setibanya di lokasi, tim SAR segera berkoordinasi dengan unsur potensi SAR yang sudah berada di lokasi untuk melakukan asesmen serta pencarian awal.

“Pada hari pertama hingga malam hari korban belum ditemukan. Pencarian kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya oleh tim SAR gabungan,” kata Restu, Kamis (29/1/2026).

Operasi pencarian melibatkan Pos SAR Bakauheni, Polairud Polda Lampung, Polairud Polres Lampung Timur, TNI AL melalui Babinpotmar, serta nelayan dan keluarga korban.

"Area pencarian dibagi menjadi tiga sektor berdasarkan perhitungan SAR Map Prediction untuk memperluas jangkauan penyisiran," ungkap dia.

 

Kendala Pencarian

Menurut Restu, hingga sore hari ini korban masih belum ditemukan dan operasi akan kembali dilanjutkan pada Jumat (30/1/2026) pagi.

"Dalam proses pencarian, tim di lapangan menghadapi sejumlah kendala seperti cuaca buruk, angin kencang, gelombang tinggi, serta keterbatasan sinyal komunikasi di lokasi perairan," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya