Tahan Suku Bunga, The Fed Kembali Pasang Badan soal Independensi

Bank Sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga dan membela independensinya. Berikut penjelasannya.

oleh Syifa SausanDiterbitkan 29 Januari 2026, 19:00 WIB
Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu, 17 September 2025, di Gedung Dewan Federal Reserve di Washington. (Foto AP/Jacquelyn Martin)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan setelah Ketua The Fed Jerome Powell kembali menegaskan pentingnya independensi bank sentral. Keputusan ini diambil di tengah tekanan politik dan dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

The Fed menyatakan suku bunga pinjaman acuan tetap berada di kisaran 3,5%–3,75%, dengan pertimbangan bahwa aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih tumbuh pada laju yang solid. Konsumsi rumah tangga dan pasar tenaga kerja dinilai tetap kuat, meskipun tekanan inflasi dan risiko global masih membayangi.

Dengan kondisi tersebut, bank sentral memilih bersikap hati-hati sambil terus memantau perkembangan data ekonomi sebelum mengambil langkah kebijakan lanjutan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kerap melontarkan kritik terhadap Powell, yang dinilai terlalu lamban menurunkan suku bunga. Tekanan politik ini muncul bersamaan dengan laporan bahwa jaksa federal membuka penyelidikan kriminal terkait kesaksian Powell di hadapan Senat mengenai proyek renovasi gedung-gedung Federal Reserve.

Dilansir dari BBC, Kamis (29/1/2026), Powell menolak berkomentar mengenai penyelidikan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa hilangnya independensi bank sentral akan berdampak serius pada kredibilitas The Fed.

Powell memahami bahwa penyelidikan tersebut bermula dari kemarahan Trump atas lambannya penurunan suku bunga. Ia menolak jika The Fed dijadikan alat politik, karena hal itu dapat merusak kepercayaan publik terhadap kebijakan suku bunga dan pengendalian inflasi, serta menyulitkan upaya menjaga stabilitas ekonomi.

 

Respon Powell di Konferensi Pers

Masih dilansir dari BBC, dalam konferensi pers pertamanya pada Rabu (28/1/2026), Powell mengecam penyelidikan Departemen Kehakiman (DoJ) dan kembali menegaskan bahwa independensi bank sentral merupakan elemen krusial agar kebijakan moneter tetap berbasis kepentingan ekonomi, bukan politik.

"Ini hanyalah pengaturan kelembagaan yang telah melayani rakyat dengan baik—untuk tidak memiliki kendali langsung dari pejabat terpilih atas penetapan kebijakan moneter," katanya."Jika Anda kehilangan itu, pertama-tama akan sulit untuk memulihkan kredibilitas lembaga tersebut," kata Powell.Powell menegaskan komitmennya untuk menjaga kredibilitas dan independensi The Fed agar tetap dipercaya oleh pasar global.

Sementara itu, Trump disebut akan menunjuk pengganti Powell yang dijadwalkan mengundurkan diri pada Mei mendatang. Sejumlah mantan pejabat tinggi The Fed menilai penyelidikan DoJ berisiko melemahkan independensi bank sentral dan mengganggu kebebasan dalam pengambilan kebijakan moneter.

 

Kekhawatiran Powell, Bukan Sekadar Inflasi

Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu, 17 September 2025, di Gedung Dewan Federal Reserve di Washington. (Foto AP/Jacquelyn Martin)

Powell juga menyoroti kondisi ekonomi terkini. Menurutnya, ekonomi Amerika Serikat kembali menunjukkan ketahanan.

“Ekonomi sekali lagi mengejutkan kita dengan kekuatannya,” ujar Powell, merujuk pada keputusan mempertahankan suku bunga.Meski sempat terjadi guncangan, terdapat tanda-tanda stabilisasi pasar. Tingkat pengangguran menurun meskipun pertumbuhan lapangan kerja masih melambat. Para pembuat kebijakan terus memantau perkembangan ekonomi dari waktu ke waktu.

“Kita masih memiliki beberapa ketegangan antara lapangan kerja dan inflasi, tetapi itu lebih rendah daripada sebelumnya,” kata Powell.

“Prospek aktivitas ekonomi jelas membaik sejak pertemuan terakhir,” tambahnya.Pada paruh kedua 2025, kekhawatiran terhadap perlambatan pasar tenaga kerja dinilai lebih besar dibandingkan inflasi, meskipun laju inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan The Fed. Pemangkasan suku bunga dipandang sebagai instrumen untuk merangsang pasar kerja dengan menurunkan biaya pinjaman bagi dunia usaha.

Ellen Zentner, Kepala Ahli Strategi Ekonomi Morgan Stanley Wealth, menilai sinyal The Fed masih konsisten.

“Nada yang disampaikan The Fed tetap sama, suku bunga yang lebih rendah mungkin akan segera datang, tetapi investor harus tetap bersabar,” ujarnya.“Meskipun penundaan kebijakan The Fed mungkin tidak memuaskan semua orang, hal itu tetap membuka jalan bagi pemangkasan suku bunga di akhir tahun ini,” tambah Zentner.

 

Apa yang Trump Lakukan?

Presiden Donald Trump saat berbicara kepada para wartawan di Ruang James Brady Press Briefing di Gedung Putih, Washington, DC pada Senin (11/8/2025). (Dok. AP/Alex Brandon)

 

Secara terbuka, Trump terus mendesak Powell memangkas suku bunga untuk menekan biaya pinjaman pemerintah AS serta mempermudah akses masyarakat terhadap hipotek dan kredit. Ia bahkan secara pribadi menyebut Powell sebagai “bodoh” dan “pecundang hebat”.

Trump juga ingin menyingkirkan Gubernur The Fed Lisa Cook, yang dituduh terlibat penipuan. Hingga kini, Mahkamah Agung masih mempertimbangkan kasus tersebut.

Keputusan Trump untuk menggantikan Powell dinilai berpotensi menimbulkan tantangan baru. Siapa pun yang menduduki posisi Ketua The Fed selanjutnya diperkirakan akan menghadapi persoalan kredibilitas, mengingat tekanan politik yang telah menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana independensi bank sentral dapat dipertahankan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya