Harga Emas Dunia Melejit Usai Suku Bunga The Fed Tetap

Harga emas dan perak menguat setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed mempertahankan suku bunga.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 29 Januari 2026, 06:54 WIB
Reli harga emas dunia makin tak terbendung sehingga sentuh rekor baru tertinggi. (Foto: DAVID GRAY | AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia tetap melesat pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Harga emas naik setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) mempertahankan suku bunga acuan seperti yang diperkirakan.

Mengutip CNBC, Kamis (29/1/2026), harga emas di pasar spot naik 1,7%  menjadi USD 5.276,53. Harga emas kontrak berjangka yang terkait dengan logam mulia itu diperdagangkan pada kisaran USD 5.276,60. Sebelumnya, harga emas diperdagangkan di atas USD 5.300, mencapai level rekor.

"Indikator yang tersedia menunjukkan aktivitas ekonomi lebih berkembang dengan kecepatan yang solid. Penambahan lapangan kerja tetap rendah dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi. Inflasi tetap agak tinggi,” demikian disampaikan the Fed usai rapat.

Sementara itu, mengutip Kitco, harga perak naik USD 5,59% menjadi USD 111,52.

Pasar emas dan perak tidak menunjukkan reaksi yang signifikan setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka atau the Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa-Rabu pekan ini.

CEO Mind Money, Julia Khandoshko menuturkan, emas meski rentan terhadap koreksi jangka pendek, tren yang lebih luas tetap utuh.

“Kami melihat percepatan de-dolarisasi, permintaan yang stabil dari negara-negara berkembang, dan penerbitan moneter global yang berkelanjutan,” ujar dia dikutip dari Kitco.

Ia menambahkan, masih ada masalah keberlanjutan utang AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik, seperti tarif baru atau pembelian Greenland.

“Tambahkan tekanan pada independensi Fed, dan kami memiliki dukungan untuk minat pada emas sebagai aset safe-haven,” ujar dia.

 

 

Sentimen Harga Emas

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Para analis juga mencatat emas dan perak terus diuntungkan dari gelombang sentimen "Jual Amerika" yang baru muncul pertama kali pada April 2025, ketika Trump menerapkan tarif global agresif yang bertujuan untuk mengurangi defisit perdagangan AS.

Analis Pasar di XS.com, Linh Tran mengatakan, meningkatnya emas yang semakin penting tercermin dalam komposisi cadangan global.

"Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas dari sistem keuangan global, menjadi jelas bahwa harga emas naik bukan hanya karena kecemasan pasar, tetapi juga karena kepercayaan pada tatanan moneter-fiskal global bergeser ke arah sikap yang lebih hati-hati. Ini tampaknya bukan guncangan jangka pendek, melainkan proses reposisi peran emas dalam sistem,” kata Tran dalam sebuah catatan.

"Menjadi jelas bahwa lintasan masa depan emas tidak akan bergantung pada satu variabel tunggal seperti suku bunga atau dolar AS, tetapi lebih pada stabilitas keseluruhan kerangka kerja moneter dan fiskal global.”

 

 

Dolar AS Melemah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dolar AS yang melemah sangat terasa. Pada 2025, indeks dolar AS mencatatkan salah satu kinerja terburuknya dalam lebih dari 50 tahun, turun sekitar 9,4% dari penutupan Desember 2024 di dekat 108,5 menjadi sekitar 98,3 pada akhir tahun.

Momentum penurunan tersebut berlanjut hingga tahun baru, dengan dolar turun hampir 2% pada Januari. Minggu ini, indeks tersebut merosot ke level terendah baru dalam beberapa tahun terakhir, yaitu 95,55 poin.

Penurunan ini terjadi ketika Trump mengindikasikan bahwa ia tidak khawatir tentang penurunan nilai mata uang tersebut.

“Saya pikir itu bagus,” kata Trump kepada wartawan di Iowa pada hari Selasa ketika ditanya apakah ia khawatir tentang penurunan nilai mata uang tersebut.

"Saya pikir nilai dolar AS—lihat bisnis yang kita lakukan. Dolar berkinerja sangat baik.”

Namun, para analis memperingatkan, implikasi dari dolar AS yang lebih lemah jauh dari sederhana dan terus memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi dan alat pelestarian kekayaan.

Analis FP Markets, Aaron Hill menuturkan, meskipun dolar AS yang lebih lemah menguntungkan eksportir, pembeli asing mengeluarkan biaya lebih sedikit untuk membeli dolar AS, hal itu dapat meningkatkan tekanan inflasi.

“Bayangkan seperti ini: masalahnya adalah ketika dolar AS melemah, jika Anda ingin membeli sesuatu di luar negeri, harganya akan lebih mahal karena daya beli dolar akan berkurang. Bagi bisnis, misalnya bagi mereka yang mengimpor bahan baku, mereka juga akan menghadapi biaya yang lebih tinggi, yang dapat mereka bebankan kepada pelanggan, sehingga menyebabkan inflasi,” kata Aaron Hill,

“Masalahnya saat ini adalah ketidakpastian Trump. Dari ancaman tarif hingga rencana di Greenland, tindakannya terus mengguncang pasar, mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset AS. Ini menambah bahan bakar bagi penurunan dolar AS dan pada akhirnya dapat meningkatkan inflasi.”

 

Dukung Harga Emas

Sebagai informasi, pergerakan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk permintaan dari industri perhiasan global, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta kebijakan bank sentral dalam mengelola cadangan emas. Tampak dalam foto, perhiasan emas dipajang di sebuah toko perhiasan di Banda Aceh pada Rabu 14 Januari 2026. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Di luar dolar AS, beberapa analis memperingatkan kepercayaan terhadap mata uang fiat secara lebih luas sedang terkikis. Pasar tetap sensitif terhadap gejolak baru-baru ini di pasar obligasi Jepang, yang telah menimbulkan kekhawatiran tentang risiko likuiditas di seluruh sistem keuangan global.

Kepala Analisis Pasar Global di Marex, Guy Wolf mengatakan, kekhawatiran akan penurunan nilai mata uang global dapat mendukung harga emas yang lebih tinggi selama bertahun-tahun, karena pengalokasian kembali portofolio ke logam mulia tersebut tetap merupakan proses bertahap.

"Investor swasta kembali ke emas sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang dan sebagai bentuk asuransi terhadap risiko geopolitik, valuasi pasar ekuitas yang berlebihan, dan ketidakpastian makro yang lebih luas. Kenaikan harga emas bukan hanya fungsi dari pelemahan dolar AS; melainkan, hal itu mencerminkan erosi kepercayaan yang lebih luas terhadap mata uang fiat secara global, dengan harga emas yang meningkat di hampir setiap mata uang.”

Ke depan,  Kepala Riset Komoditas & Makroekonomi di WisdomTree, Nitesh Shah mengatakan harga emas dapat melampaui level saat ini sebelum akhir tahun.

Ia mencatat modelnya terus menyarankan investor untuk mengalokasikan antara 15% dan 20% dari portofolio mereka ke emas. Mengingat besarnya pasar obligasi global, ia menambahkan, bahkan pergeseran kecil dalam alokasi aset dapat berdampak besar pada harga.

"Saya mengerti mengapa harga emas berada di level saat ini,” katanya.

"Ada ancaman besar terhadap status quo dan sistem moneter global jika dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan dunia.”

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya