TikTok AS Alami Gangguan, Muncul Tuduhan Sensor Kritik ke Donald Trump

TikTok AS mengalami gangguan teknis dan memicu tudingan adanya sensor terhadap konten kritik Donald Trump.

oleh Syifa SausanDiterbitkan 29 Januari 2026, 20:00 WIB
Layanan TikTok AS bermasalah di tengah kepemilikan baru yang disetujui Donald Trump, isu sensor pun mencuat. Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok. Kredit: antonbe via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Bisnis TikTok di Amerika Serikat (AS) yang baru, yang dipimpin konsorsium investor mayoritas asal AS dan telah disetujui Presiden Donald Trump, mengawali perjalanannya dengan masalah. Aplikasi video pendek yang sangat populer itu dilaporkan mengalami gangguan selama beberapa hari terakhir.

Di tengah ramainya spekulasi di media sosial bahwa usaha patungan yang berafiliasi dengan Trump sengaja menekan konten kritik terhadap presiden tersebut, TikTok membantah tuduhan itu. Perusahaan menyatakan gangguan disebabkan oleh pemadaman listrik di pusat data milik Oracle, salah satu investor utama dalam entitas TikTok AS.

TikTok menyampaikan pada Selasa pagi bahwa pihaknya telah membuat “kemajuan signifikan” dalam memulihkan layanan. Namun, pengguna masih mungkin menghadapi kendala teknis.

“Pengguna mungkin masih mengalami beberapa masalah teknis, termasuk saat mengunggah konten baru,” tulis TikTok dalam keterangannya, dikutip dari CNN, Kamis (29/1/2026).

Pada hari yang sama, juru bicara Oracle mengonfirmasi bahwa gangguan tersebut memang terjadi.

“Selama akhir pekan, sebuah pusat data Oracle mengalami pemadaman listrik sementara akibat cuaca, yang berdampak pada TikTok,” ujar juru bicara Oracle.

 

Bukan Faktor Non-Teknis

wanita sedang membuka TikTok (created by AI)

Oracle menegaskan bahwa kendala yang dialami pengguna TikTok di AS bukan disebabkan faktor non-teknis.

“Tantangan yang mungkin dialami pengguna TikTok di AS merupakan hasil dari masalah teknis yang terjadi setelah pemadaman listrik tersebut, yang saat ini sedang kami tangani bersama TikTok agar segera teratasi,” lanjut juru bicara Oracle.

Meski demikian, sejumlah politisi Partai Demokrat memanfaatkan kecurigaan publik terkait dugaan campur tangan politik. Gubernur California Gavin Newsom bahkan menyerukan penyelidikan.

“Sudah saatnya dilakukan investigasi,” kata Newsom pada Senin malam.

“Saya meluncurkan peninjauan apakah TikTok melanggar hukum negara bagian dengan menyensor konten yang mengkritik Presiden Trump.”

Kantor pers Newsom mengklaim telah “menerima laporan—dan secara independen mengonfirmasi—adanya konten kritik terhadap Presiden Trump yang ditekan.” Karena itu, Newsom meminta Jaksa Agung California Rob Bonta menilai apakah praktik tersebut melanggar hukum negara bagian.

Keberpihakan Politik

Kontroversi ini mencuat tak lama setelah perubahan struktur kepemilikan TikTok di AS. Dalam kesepakatan yang diwajibkan Kongres dan dimediasi oleh Donald Trump, konsorsium investor mengambil alih data pengguna dan sebagian besar operasional TikTok di AS.

Investor non-China, termasuk Oracle yang dipimpin Larry Ellison, menguasai sekitar 80 persen entitas baru tersebut, sementara ByteDance yang berbasis di Beijing mempertahankan sisanya.

Kritikus khawatir kepemilikan baru ini akan mengubah TikTok menjadi lebih berpihak secara politik, serupa dengan perubahan yang dilakukan Elon Musk saat mengakuisisi Twitter dan menggantinya menjadi X.

Kecurigaan itu diperkuat oleh laporan pengguna dan selebritas, termasuk Billie Eilish, yang mengklaim video kritik terhadap kebijakan imigrasi Trump tertahan dalam proses peninjauan atau mendapatkan jumlah penayangan yang sangat rendah.

Menanggapi hal ini, TikTok kembali menegaskan komitmennya.

“Kami berkomitmen untuk mengembalikan TikTok ke kapasitas penuh secepat mungkin. Kami akan terus memberikan pembaruan. Terima kasih atas kesabaran Anda,” tulis perusahaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya