Global Bergejolak, Bos BCA Pede Kredit Perbankan Tumbuh 2 Digit

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) optimis pertumbuhan kredit pada 2026 di kisaran bisa mencapai 8–10 persen.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 28 Januari 2026, 14:15 WIB
Kantor PT Bank Central Asia Tbk (BCA). saat ini transpormasi digital BCA melalui internet dan mobile banking, dan berbagai aplikasi, fitur, alat pembayaran nontunai.

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) optimis pertumbuhan kredit pada 2026 di kisaran bisa mencapai 8–10 persen.

Target tersebut didorong oleh masih besarnya peluang pembiayaan seiring berjalannya berbagai program pemerintah yang dinilai mampu menggerakkan aktivitas ekonomi.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menilai ruang ekspansi kredit masih terbuka lebar. Ia optimistis industri perbankan nasional berpeluang mencatatkan pertumbuhan dua digit, apabila momentum ekonomi dapat terjaga sepanjang tahun.

"Saya melihat potensi di dua digit ada, dengan begitu banyak program pemerintah yang berjalan, semoga kita di perbankan bisa berusaha mencapai double digit tahun 2026 ini," kata Hendra dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja FY 2025 PT Bank Central Asia (BBCA), ditulis Rabu (28/1/2026).

Di sisi lain, Hendra mengakui dinamika geopolitik global masih menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha menahan ekspansi dan bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Meski demikian, arus investasi asing ke Indonesia dinilai masih cukup solid. BCA mencatat masuknya investasi dari luar negeri, khususnya dari China, yang banyak bekerja sama dengan nasabah perseroan di berbagai sektor usaha.

"Kita lihat investasi dari luar negeri, terutama dari China masih cukup banyak yang masuk dan biasanya mereka partner dengan nasabah-nasabah kita. Ini semoga juga akan membantu pertumbuhan ekonomi dan juga kredit di perbankan," ujarnya.

 

 

 

 

Proyeksi NIM

ATM BCA (Dok: Istimewa)

 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengungkapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan telah menyesuaikan proyeksi pertumbuhan kredit menjadi 8–10 persen.

"Kita upgrade guidance kita untuk pertumbuhan kredit menjadi 8 persen sampai 10 persen. Kita lebih positif melihat perkembangan tahun ini, mudah-mudahan pertumbuhan kredit ini bisa lebih cepat dibanding tahun lalu, dari kuartal I dan seterusnya," ujar Vera.

Dari sisi profitabilitas, BCA memperkirakan Net Interest Margin (NIM) akan berada di kisaran 5,4–5,6 persen, sedikit turun dari posisi 2025 sebesar 5,7 persen.

"Kita perkirakan dengan penurunan bunga BI dari tahun lalu, dampaknya akan terasa di tahun ini. Sehingga guidance kita untuk NIM di tahun ini di kisaran 5,4 sampai 5,6 persen. Jadi menurun NIM-nya, memang kita ekspektasi dampaknya akan lebih terasa tahun ini," ujarnya.

Target NPL

Gedung BCA (Dok: BCA)

Adapun untuk kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) ditargetkan tetap terjaga di level 1,8–2 persen. Pada 2025, BCA berhasil membukukkan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% secara tahunan atau Year on Year menjadi Rp 57,5 triliun pada 2025.

"Rasio cost to income (CIR) membaik dan turut menopang kinerja dan pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% YoY menjadi Rp 57,5 triliun," ujar Hendra.

Lebih lanjut, BCA dan entitas anak mencatat pertumbuhan total kredit 7,7% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya