Liputan6.com, Jakarta - Puluhan murid SDN Wargasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, mengalami keracunan massal hari ini, Selasa (27/1/2026). Hingga sore hari, ada 28 murid dilarikan ke Puskesmas Kadupandak dengan keluhan mual, pusing, hingga muntah-muntah. Gejala tersebut muncul setelah para siswa mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipasok dari dapur SPPG Gandasari pada Senin sore (26/1).
Kondisi penanganan saat kejadian sangat memprihatinkan lantaran minimnya ambulans desa. Terpaksa para siswa dievakuasi menggunakan sepeda motor dan mobil dinas Polsek Kadupandak.
Advertisement
Ayam di Menu MBG Berbau
Kualitas menu MBG ini menjadi sorotan setelah sejumlah wali murid buka suara. Indah (34), salah satu orang tua siswa kelas 6, menceritakan bahwa anaknya mengalami muntah hebat setibanya di rumah.
"Katanya di sekolah muntah, kemudian diantar pulang. Setelah sampai rumah, muntahnya makin sering," tutur Indah.
Ia lantas membeberkan fakta sajian menuh MBG hari itu. Pengakuan anaknya, tahu, sayur, dan ayam bumbu disajian berbau.
"Kata anak saya, ayamnya berbau. Bahkan di menu sebelumnya ditemukan belatung," ungkapnya.
Data Korban dan Tindakan Medis
Kepala Puskesmas Kadupandak, Suryana, menjelaskan bahwa dari 28 siswa yang ditangani, kondisi 11 orang di antaranya cukup mengkhawatirkan sehingga harus dirujuk ke RSUD Pagelaran.
"Pasien berdatangan sejak pukul 09.00 WIB. Bagi yang di puskesmas, kami tangani maksimal dan beberapa sudah ada yang diperbolehkan pulang," jelas Suryana.
Sementara itu, Kapolsek Kadupandak, AKP Deden Hermansyah, menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan ilmiah untuk mengungkap penyebab pasti insiden ini.
Sampel muntahan, darah korban, hingga sisa makanan telah diambil untuk uji laboratorium forensik.
“Kami belum bisa menentukan kenapa atau karena apa. Masih menunggu hasil laboratorium. Intinya ada siswa yang keracunan, dan penyebabnya masih kami selidiki,” ungkap AKP Deden.
Pihaknya mengimbau agar para orang tua segera melaporkan jika anak mereka menunjukkan gejala gangguan kesehatan mendadak untuk mencegah risiko yang lebih berat.