IHSG Memerah, Analis Beberkan Penyebabnya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada Selasa (27/1/2926).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 27 Januari 2026, 14:36 WIB
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah. Pada Selasa (27/1/2926), IHSG dibuka melemah ke 8.974 dari penutupan sebelumnya di 8.975.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini terus mengalami tekanan. Pada pukul 09.40 WIB, IHSG turun 0,59% atau 55 poin ke level 8.920,13.

Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai pelemahan IHSG lebih disebabkan oleh aksi profit taking dan rotasi portofolio investor.

"Profit taking & rotasi, foreign outflow, antisipasi msci rebalancing, dan ada sentimen regional juga. Jadi, mode risk off dulu, valuasi IHSG sekarang juga sudah relatif merah," kata Wafi kepada Liputan6.com, Selasa (27/1/2026).

Setelah reli cukup panjang, sebagian pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan, terutama pada saham-saham yang sebelumnya mencatat kenaikan signifikan.

Selain itu, tekanan juga datang dari arus keluar dana asing (foreign outflow) serta antisipasi pelaku pasar terhadap penyesuaian indeks MSCI (MSCI rebalancing).

Di sisi lain, sentimen regional turut berkontribusi terhadap kondisi pasar yang memasuki fase risk off, terlebih valuasi IHSG saat ini dinilai sudah berada di level yang relatif mahal.

 

 

Saham Energi dan Perbankan Tekan Indeks  

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari sisi sektoral, pelemahan IHSG pada awal perdagangan terutama disumbang oleh sektor energi dan perbankan. Kedua sektor berkapitalisasi besar tersebut memiliki bobot signifikan dalam pergerakan indeks, sehingga tekanan jual yang terjadi langsung berdampak pada kinerja IHSG secara keseluruhan.

"Energi dan Bank," imbuhnya.

Menurut Muhammad Wafi, koreksi yang terjadi saat ini masih tergolong sehat dalam konteks tren jangka menengah. Ia memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan koreksi dalam jangka pendek, dengan area penurunan hingga level 8.800 yang masih dianggap wajar dan tidak mengubah tren bullish utama.

"Jangka pendek masih bisa koreksi, tapi koreksi sampai 8.800 masih wajar, trend bullish masih terjaga, ada potensi rebound di Februari, jadi koreksi sekarang bisa dipake untuk akumulasi, tapi tetap selektif di saham-sama yang secara fundamental bagus dan valuasi masih wajar," pungkasnya.

 

IHSG Berpeluang Melejit

Layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan kenaikan pada perdagangan saham Selasa, (27/1/2026). Lalu apa saja rekomendasi saham-nya?

Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, IHSG ditutup menguat 0,27% tetapi disertai dengan aksi jual saham oleh investor asing Rp 1,01 triliun pada perdagangan saham Senin, 26 Januari 2026. Saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing antara lain saham BBCA, BMRI, BUMI, BBNI dan MDKA.

"IHSG berpotensi melanjutkan penguatan hari ini, jika kuat bertahan di level support 8.880,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.

Ia menuturkan, IHSG akan bergerak di level support 8.880-8.900 dan level resistance 9.000-9.050 pada perdagangan saham Selasa pekan ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya