AC Milan dan Risiko Besar dari Pertahanan yang Terlalu Dalam

Analisis masalah pertahanan AC Milan musim ini, penalti yang terlalu sering terjadi, serta dampaknya pada peluang Scudetto di Liga Italia.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 27 Januari 2026, 08:58 WIB
Mike Maignan berusaha menghalau usaha Zeki Celik mengancam gawangnya di laga AS Roma vs AC Milan di pekan ke-22 Liga Italia 2025/2026 di Olimpico, Senin (26/01/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Gregorio Borgia)

Liputan6.com, Jakarta - AC Milan menghadapi persoalan serius di lini belakang meski masih berada dalam kelompok tim terbaik Liga Italia musim ini. Masalah tersebut muncul dari cara bertahan yang terlalu dalam hingga memberi ruang berbahaya di kotak penalti.

Dalam 22 pertandingan liga, Rossoneri sudah kebobolan 17 gol yang secara angka masih tergolong wajar. Namun, retakan di pertahanan tim asuhan Massimiliano Allegri mulai terlihat karena kesalahan-kesalahan kecil berubah menjadi hukuman besar.

Data memperlihatkan bahwa mereka justru lebih sering memberi peluang melalui pelanggaran di area terlarang. Pola ini menandakan bahwa pendekatan bertahan rendah belum sepenuhnya aman untuk jangka panjang.


Penalti yang Terlalu Sering Terjadi

Pemain Genoa, Nicolae Stanciu (kanan), bereaksi setelah gagal memanfaatkan peluang dari titik penalti pada laga Serie A/Liga Italia antara AC Milan vs Genoa di Milan, Italia, Kamis, 8 Januari 2026. (AP Photo/Antonio Calanni)

Musim ini, Milan telah memberikan tujuh penalti kepada lawan, terbanyak di Liga Italia. Mike Maignan memang mampu menepis dua di antaranya sehingga kerugian tidak sepenuhnya maksimal.

Meski demikian, angka tersebut tetap mengkhawatirkan dari sudut pandang taktik. Penalti biasanya bernilai sekitar 0,76 xG hingga 0,79 xG. Artinya, tujuh penalti setara dengan potensi lebih dari lima gol.

Pendekatan bertahan dengan blok rendah membuat bek sering berada dalam tekanan di kotak sendiri. Kesalahan kecil saat duel atau tekel berubah menjadi pelanggaran yang mahal bagi tim.

Allegri pernah menegaskan bahwa timnya harus “melakukan lompatan kualitas di lini belakang dan menjadi tak tertembus” jika ingin meraih Scudetto. Pernyataan itu menunjukkan bahwa perbaikan sektor pertahanan menjadi kebutuhan mendesak.


Ancaman bagi Ambisi AC Milan

Pelatih AC Milan Massimiliano Allegri (kiri) mengamati pemain AS Roma Gianluca Mancini yang bersiap melakukan lemparan ke dalam pada laga Serie A/Liga Italia antara Roma vs Milan di Roma, Italia, Minggu, 25 Januari 2026. (AP Photo/Gregorio Borgia)

Pada Oktober lalu, Allegri juga menyampaikan bahwa target kebobolan ideal untuk finis dua besar berada di kisaran “sekitar 25–30 gol”. Hingga kini, hampir seperlima dari batas itu sudah muncul hanya dari situasi penalti.

Rekor pertahanan terbaik Liga Italia dalam semusim adalah 15 gol, yang pernah dicapai Juventus di era Allegri. Dengan laju penalti saat ini, standar tersebut hampir mustahil dikejar oleh AC Milan.

Statistik xG memang bukan ukuran mutlak, tetapi tetap memberi gambaran kualitas bertahan sebuah tim. Ketika penalti menjadi sumber utama risiko, berarti ada persoalan struktural dalam cara menjaga area vital.

Jika kebiasaan ini tidak diperbaiki, peluang meraih gelar akan semakin tergerus oleh kesalahan sendiri. Dalam persaingan ketat Liga Italia, margin kecil sering menjadi pembeda antara juara dan sekadar penantang.

Situasi ini menuntut perubahan pendekatan tanpa mengorbankan stabilitas yang sudah dibangun. AC Milan harus menemukan keseimbangan antara bertahan rapat dan mengurangi risiko pelanggaran di kotak penalti agar ambisi tinggi mereka tetap realistis.

Sumber: Sempre Milan


Klasemen Serie A/Liga Italia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya