Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menghasilkan sekitar 5,4 juta ton sampah plastik setiap tahun, atau sekitar 14 persen dari total timbunan sampah nasional. Dari kawasan pesisir hingga perkotaan dan pedesaan, plastik sekali pakai terus menumpuk tanpa pengelolaan yang memadai. Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya masih tergolong rendah, sehingga beban pengelolaan kerap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Ardha (33), salah satu pengelola Garduaction—komunitas yang bergerak di bidang edukasi dan pengelolaan sampah—menyebut sampah residu sebagai jenis sampah yang paling sulit ditangani. Sampah ini umumnya tidak memiliki nilai ekonomi di mata pengepul. Plastik multilayer, label botol kemasan, hingga styrofoam kerap ditolak karena sulit didaur ulang secara industri. Akibatnya, jenis sampah tersebut menjadi penyumbang utama timbunan residu yang berpotensi mencemari lingkungan.
Advertisement
Kondisi ini mendorong munculnya berbagai inisiatif berbasis komunitas yang berlokasi di Parangkusumo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. Salah satunya melalui pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai guna jangka panjang, seperti paving block. Inovasi tersebut tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi volume sampah residu, tetapi juga membuka ruang edukasi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Satu paving block saja bisa membutuhkan sekitar lima kilogram sampah residu. Artinya, ini cukup efektif untuk mengurangi sampah yang biasanya tidak tertangani,” jelas Ardha.
Gagasan pembuatan paving block dari sampah plastik menjadi bukti bahwa limbah residu tidak selalu harus berakhir di TPA. Jurnal Community Empowerment (Widodo dkk., 2018) mencatat bahwa pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan paving block mampu mengunci plastik dalam produk berumur panjang, sehingga risiko pencemaran lingkungan dapat ditekan dibandingkan produk kerajinan yang relatif cepat rusak.
Dengan teknologi yang relatif sederhana, sampah plastik dapat diolah menjadi material konstruksi yang kuat dan tahan lama. Berikut ulasan Liputan6.com tentang cara pembuatan paving block dari sampah plastik, Senin (26/1/2026).
1. Pemilahan Sampah Plastik
Tahap pertama adalah memilah sampah plastik dari keseluruhan sampah anorganik. Pemilahan ini penting untuk memastikan jenis plastik yang digunakan sesuai dengan kebutuhan proses produksi.
Ardha menekankan bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah adalah pemilahan. “Banyak sampah yang datang masih tercampur, jadi relawan harus memilah ulang. Itu butuh waktu dan tenaga,” katanya.
Dalam praktiknya, plastik yang digunakan biasanya berasal dari jenis non-biodegradable, seperti kantong plastik, kemasan multilayer, dan styrofoam, yang sulit didaur ulang secara konvensional.
2. Seleksi dan Persiapan Material
Setelah dipilah, sampah plastik dipisahkan lagi berdasarkan karakteristiknya, termasuk jenis plastik yang tidak mudah terurai. Pada tahap ini, pasir juga disiapkan sebagai bahan campuran utama.
Menurut artikel jurnal yang ditulis Widodo dkk, pasir harus diayak untuk mendapatkan fraksi kasar yang cocok sebagai agregat paving block. Tahap ini penting untuk meningkatkan kekuatan mekanis paving block yang dihasilkan.
3. Pemanasan Pasir dan Plastik
Tahap berikutnya adalah pemanasan pasir hingga suhu sekitar 300°C, kemudian plastik dimasukkan sedikit demi sedikit hingga meleleh dan tercampur merata. Proses ini bertujuan untuk menjadikan plastik sebagai perekat alami yang menggantikan semen.
Namun, Ardha mengingatkan bahwa proses pembakaran plastik perlu dikaji lebih lanjut. Ia menyatakan bahwa produksi paving block berbahan plastik masih perlu penelitian, terutama terkait dampak kesehatan dan lingkungan. “Prosesnya melibatkan pembakaran plastik, jadi perlu diteliti dampaknya bagi kesehatan dan lingkungan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan ilmiah bahwa pembakaran plastik yang tidak sempurna dapat menghasilkan dioksin, senyawa berbahaya yang berdampak pada kesehatan manusia. Oleh karena itu, proses pemanasan harus dilakukan dengan kontrol suhu dan ventilasi yang memadai.
4. Pencampuran dan Pencetakan
Setelah plastik meleleh dan tercampur dengan pasir, adonan dimasukkan ke dalam cetakan paving block. Campuran kemudian dipadatkan untuk meningkatkan kekuatan struktur.
Dalam Jurnal Community Empowerment disebutkan bahwa setelah dicetak, paving block perlu ditekan dan dibiarkan selama 24 jam hingga mengeras. Tahap ini merupakan proses curing yang menentukan kualitas akhir produk.
Tahap pencetakan ini juga dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Di Garduaction, pembuatan paving block tidak hanya bertujuan menghasilkan produk, tetapi juga menjadi media pembelajaran tentang siklus hidup sampah plastik.
5. Pengeringan dan Pengujian Kualitas
Tahap terakhir adalah pengeringan paving block dan pengujian kekuatan material. Pengujian ini penting untuk memastikan paving block aman digunakan sebagai material konstruksi.
Paving Block dari Sampah Plastik sebagai Alternatif Pengelolaan Limbah
Menurut jurnal ilmiah tentang pelatihan pembuatan paving block dari limbah plastik, Indonesia menghasilkan sekitar 5,4 juta ton sampah plastik per tahun atau sekitar 14 persen dari total sampah nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa plastik menjadi salah satu komponen sampah terbesar yang sulit terurai secara alami.
Pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block dianggap sebagai solusi yang mampu memperpanjang umur pakai plastik sehingga tidak cepat kembali menjadi sampah. Selain itu, produk paving berbahan plastik memiliki potensi ekonomi dan dapat digunakan untuk pembangunan fasilitas publik.
Hal senada juga disampaikan oleh Ardha, relawan komunitas Garduaction di pesisir Parangkusumo, Bantul. Ia menjelaskan bahwa komunitasnya tengah mengembangkan pilot project paving block berbahan sampah plastik dan styrofoam. “Satu paving block butuh sekitar lima kilogram sampah residu,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa paving block dapat menjadi strategi efektif untuk mengurangi sampah yang sulit diolah industri daur ulang.
Potensi dan Tantangan Pengembangan Paving Block Plastik
Secara teknis, paving block dari sampah plastik memiliki potensi besar sebagai solusi alternatif pengelolaan sampah residu. Produk ini mampu menyerap volume plastik yang sulit didaur ulang sekaligus mengubahnya menjadi material berumur panjang dengan nilai guna nyata.
Meski demikian, pengembangan paving block plastik tidak lepas dari berbagai tantangan. Persoalan pemilahan sampah di tingkat sumber, risiko kesehatan akibat proses pemanasan atau pembakaran plastik, serta belum adanya standar mutu produk yang seragam menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Kondisi ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara komunitas, akademisi, dan pemerintah agar inovasi ini dapat dikembangkan secara aman dan berkelanjutan.
Bagi Garduaction, pengelolaan sampah tidak semata berorientasi pada produk akhir, tetapi juga diposisikan sebagai ruang edukasi dan diskusi publik. “Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, bahwa sampah itu bukan cuma limbah, tapi bisa dikelola dan punya nilai,” kata Ardha.
Pemberdayaan warga menjadi kunci keberhasilan program daur ulang plastik. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, proses pengolahan sampah tidak hanya berfungsi sebagai solusi lingkungan, tetapi juga berkembang menjadi strategi pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjungan.
FAQ Seputar Pengelolaan Sampah Residu
1. Apa yang dimaksud dengan sampah residu?
Sampah residu adalah jenis sampah yang sulit atau tidak dapat didaur ulang, seperti plastik multilayer, styrofoam, dan kemasan sekali pakai tertentu.
2. Mengapa sampah residu sulit dikelola?
Karena jenis materialnya kompleks dan tidak memiliki nilai ekonomi bagi industri daur ulang, sehingga sering berakhir di TPA atau dibakar.
3. Apakah paving block dari sampah plastik aman digunakan?
Secara fungsi, paving block dapat digunakan, tetapi proses produksinya perlu dikontrol agar tidak menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan.
4. Apa peran masyarakat dalam pengelolaan sampah residu?
Masyarakat berperan penting dalam pemilahan sampah sejak sumbernya, karena kualitas bahan sangat menentukan keberhasilan pengolahan.
5. Selain paving block, apa alternatif pengelolaan sampah residu?
Alternatif lain meliputi ecobrick, co-processing di industri semen, dan inovasi material konstruksi berbasis limbah.