Liputan6.com, Jakarta - Saat menghadiri World Economic Forum (WEF) atau Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. CEO Coinbase Brian Armstrong menceritakan, seorang eksekutif puncak di salah satu dari dari 10 bank terbesar di dunia menyampaikan kepadanya kalau kripto sekarang menjadi prioritas nomor satu. Bank juga menilai kripto sebagai eksistensial.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Minggu (25/1/2026), unggahan Armsrong yang dibagikan di platform X dahulu bernama Twitter menyoroti pergeseran cara lembaga keuangan tradisional berinteraksi dengan kripto.
Advertisement
Pernyataan itu menekankan urgensi yang semakin meningkat di antara bank-bank tradisional untuk beradaptasi dengan industri kripto, terutama karena regulator global semakin mendekati penetapan aturan yang lebih jelas untuk aset digital.
Armstrong tidak menyebutkan nama bank atau eksekutif tersebut, tetapi mengatakan bahwa banyak pemimpin keuangan yang ia temui selama acara selama seminggu itu tidak hanya terbuka terhadap kripto mereka secara aktif mencari cara untuk masuk. "Sebagian besar dari mereka sebenarnya sangat pro kripto dan memanfaatkannya sebagai peluang," tulisnya.
Bagi bank yang bergantung pada jalur pembayaran tradisional, kripto mewakili tantangan sekaligus peluang.
Dorongan Tokenisasi
Seiring dengan meningkatnya momentum stablecoin dan aset yang di tokenisasi, ancaman disintermediasi semakin besar. Ada kemungkinan manajer aset global atau perusahaan fintech suatu hari nanti dapat sepenuhnya melewati bank tradisional dengan menawarkan akses langsung ke sekuritas yang di tokenisasi atau transfer berbasis stablecoin, memindahkan nilai secara instan, tanpa penundaan kliring atau perantara (pilar inti kripto).
Armstrong mengatakan, tokenisasi adalah salah satu tren yang paling banyak dibahas di Davos, yang meluas melampaui stablecoin ke ekuitas, kredit, dan produk keuangan lainnya.
Ia menunjuk pada perkiraan 4 miliar orang dewasa "tanpa perantara" di seluruh dunia yang tidak memiliki akses ke investasi berkualitas tinggi. Tokenisasi, menurut dia, dapat membantu menutup kesenjangan tersebut.
"Harapkan beberapa kemajuan besar di sini pada tahun 2026," ia menambahkan.
Regulasi CLARITY
CEO Coinbase juga mencatat dukungan politik untuk kripto di AS tampaknya semakin kuat.Ia mengutip dorongan pemerintahan Trump untuk legislasi yang berfokus pada kripto, seperti Undang-Undang CLARITY, yang bertujuan untuk menyediakan kerangka kerja regulasi untuk aset digital.
Armstrong tidak menyinggung keputusan perusahaannya untuk menarik dukungan terhadap RUU struktur pasar kripto pada menit terakhir, yang menyebabkan sidang ditunda.
Armstrong menggambarkan, pemerintahan AS sebagai "pemerintahan yang paling pro-kripto di dunia" dan mengatakan dorongan untuk aturan yang jelas sangat penting untuk menjaga daya saing AS karena negara-negara seperti Tiongkok berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur stablecoin. Tema yang juga dibahas Donald Trump selama pidatonya di Davos.
AI dan Kripto
Armstrong juga mengatakan, kecerdasan buatan (AI) dan kripto adalah dua teknologi yang paling banyak dibahas di Davos.
Meskipun di pasar modal, lonjakan AI telah mengurangi momentum kripto, Armstrong menekankan bahwa keduanya terkait erat. Agen AI, ia menuturkan, kemungkinan akan secara otomatis menggunakan stablecoin untuk pembayaran, melewati pemeriksaan identitas konvensional dan pembatasan perbankan sama sekali.
"Infrastruktur sudah ada, dan penggunaannya berkembang pesat," ia menambahkan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.