Pedagang Bakso Terancam Tutup Akibat Mogok Penjual Daging Sapi, Kerugian Tembus Miliaran

Mogok pedagang daging sapi bikin pasokan langka, pedagang bakso di Bekasi terancam tutup.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 23 Januari 2026, 21:10 WIB
Ilustrasi Jualan Bakso dan Mi Ayam. (Foto: AI)

Liputan6.com, Jakarta - Pedagang bakso di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terancam tidak bisa beroperasi akibat kelangkaan pasokan daging sapi. Kondisi ini merupakan dampak dari aksi mogok pedagang daging sapi yang berlangsung sejak Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026).

Ketua Umum Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso Indonesia (Papmiso), Bambang Haryanto, mengatakan dampak mogok sudah dirasakan sejak hari pertama. Banyak pedagang bakso yang mendatangi pasar untuk menggiling daging, namun terpaksa pulang tanpa membawa bahan baku.

“Aksi mogok pedagang daging ini berdampak pada sulitnya pedagang bakso mencari daging segar. Saat ke pasar mereka akhirnya kembali lagi, tidak jadi menggiling. Artinya, kalau teman-teman sudah tidak memiliki stok bakso, pasti hari ini tidak berjualan,” katanya dikutip dari Antara, Jumat (23/1/2026).

Menurut Bambang, jumlah pedagang mi dan bakso yang tergabung dalam Papmiso di Kabupaten Bekasi mencapai lebih dari 2.000 orang. Jika seluruh pedagang tersebut berhenti berjualan, potensi kerugian ekonomi dari perputaran usaha diperkirakan mencapai Rp2 miliar per hari.

Tidak hanya berdampak secara ekonomi, kondisi ini juga memicu kekhawatiran akan berkurangnya pasokan makanan rakyat yang terjangkau di tengah masyarakat.

 

Dampak Sosial dan Ekonomi

Aktivitas jual beli daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Jumat (5/8). Pemerintah mencabut ketentuan kewajiban importir daging untuk menyerap daging lokal sebanyak tiga persen dari total kuota impor yang diperoleh. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bambang menambahkan, secara nasional jumlah pedagang mi dan bakso mencapai sekitar 20 ribu orang. Jika dampak mogok meluas, potensi kerugian ekonomi bisa mencapai Rp 20 miliar per hari.

“Kalau secara nasional, dari total 20 ribu pedagang mi dan bakso, kerugian bisa mencapai Rp 20 miliar per hari,” ujarnya.

Ia mengaku khawatir apabila aksi mogok berlangsung penuh selama tiga hari, dampak sosial dan ekonomi akan semakin berat. Pedagang bakso kini berada dalam posisi sulit, antara kehilangan pendapatan atau tetap harus menanggung biaya operasional.

“Teman-teman yang seharusnya beroperasi akhirnya menanggung risiko. Beberapa karyawan yang dirumahkan tetap harus dikasih makan dan gaji. Ini kalau sampai tiga hari akan berdampak lebih parah lagi,” ujar dia.

Bambang juga mengingatkan janji Pilpres yang akan membenahi tata kelola niaga daging sapi demi menjaga stabilitas harga. Harapannya, pedagang bakso dapat memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau sehingga usaha mereka tetap berjalan dan kesejahteraan meningkat.

 

Permainan Klasik

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk merespons lonjakan harga daging sapi yang dinilai semakin memberatkan pedagang kecil.

“Ini kan permainan klasik yang sudah sering kali terjadi, tata kelola niaga daging sapi dikendalikan oknum-oknum pedagang besar di Indonesia. Mudah-mudahan pemerintah segera merespons supaya persoalan harga daging sapi yang mahal cepat teratasi,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Kabupaten Bekasi, Sadimin, menyebut aksi mogok selama tiga hari merupakan keputusan pengurus pusat. Tujuannya agar pemerintah segera menurunkan dan menstabilkan harga daging sapi.

“Untuk Jakarta dan Bekasi selama tiga hari tidak berjualan agar pemerintah mengetahui, bisa lebih mungkin pak, kalau tidak ada terobosan dari pemerintah,” katanya.

Sadimin menjelaskan, harga sapi hidup saat ini mencapai Rp 55 ribu per kilogram. Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga jual daging sapi di tingkat eceran yang menembus lebih dari Rp 150 ribu per kilogram.

“Kalau harga tinggi, daya beli masyarakat berkurang. Harga sapi hidup sudah Rp55 ribu, jadi dagangan harus di atas Rp 140 ribu atau Rp 150 ribu per kilogram. Kalau di bawah itu, berarti pedagang rugi,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya