Produksi Emas Freeport Anjlok di 2025 Dampak Longsor Grasberg

Produksi Freeport turun tajam akibat longsor tambang, namun perusahaan optimistis kapasitas kembali pulih pada semester II 2026.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 23 Januari 2026, 17:20 WIB
Evakuasi 5 Pekerja Freeport di Tambang Bawah Tanah. ANTARA/HO-PT Freeport Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa pertambangan global Freeport-McMoRan Inc (FCX) menatap tahun 2026 dengan optimisme tinggi sebagai fase pemulihan penting bagi operasionalnya di Indonesia. Setelah menghadapi tekanan besar akibat insiden longsor dan aliran lumpur di tambang bawah tanah Grasberg pada September 2025, perusahaan kini memfokuskan langkah strategis untuk mengembalikan kapasitas produksi ke level optimal.

CEO Freeport Kathleen Quirk menegaskan bahwa keselamatan dan keberlanjutan menjadi prioritas utama perusahaan. Ia menyebut proses pemulihan pasca-insiden berjalan sesuai rencana.

“Prioritas kami adalah keselamatan dan keberlanjutan. Kami berada pada jalur yang tepat untuk melakukan restart bertahap tambang bawah tanah utama, Grasberg Block Cave, yang dijadwalkan mulai beroperasi kembali pada kuartal kedua 2026,” ujar Quirk, dikutip dari laporan kinerja terbarunya Jumat (23/1/2026). 

Dampak insiden tersebut tercermin jelas pada kinerja produksi 2025. Produksi emas PT Freeport Indonesia (PTFI) pada kuartal IV 2025 tercatat hanya 61 ribu ons, turun 86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, produksi emas anjlok hampir 50 persen menjadi 937 ribu ons.

Penurunan juga terjadi pada produksi tembaga. Sepanjang 2025, PTFI membukukan produksi sekitar 1,015 miliar pon, turun 43,6 persen dibandingkan 2024. Padahal, dalam kondisi operasi normal, tambang bawah tanah Grasberg mampu menghasilkan sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun.

 

Penjualan di Atas Estimasi

PT Freeport Indonesia terus melakukan penanaman kembali (revegetasi) sebagai bagian dari proses reklamasi di kawasan tambang terbuka Grasberg yang telah ditutup sejak 2020. Foto: Nurmayanti/Liputan6.com

Meski demikian, Freeport menilai kinerja 2025 tetap menunjukkan ketangguhan. Sepanjang tahun lalu, PTFI masih mampu memproduksi sekitar 1 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas, dengan volume penjualan kuartal IV melampaui estimasi berkat pengelolaan inventaris yang efektif di tengah tingginya harga komoditas global.

Secara finansial, posisi perusahaan juga tetap solid. Kenaikan harga emas sebagai produk sampingan memberikan kredit tunai yang signifikan, sehingga membantu menekan biaya produksi tembaga dan menjaga daya saing operasional di Indonesia.

Untuk pemulihan ke depan, Freeport menargetkan tambang Grasberg Block Cave (GBC) kembali berproduksi mulai kuartal II 2026, diawali dengan aktivitas di Blok 2 dan Blok 3, disusul Blok 1 pada 2027. Perusahaan memperkirakan sekitar 85 persen kapasitas produksi normal akan pulih pada semester II 2026.

 

Hilirisasi

PT Smelting mampu memurnikan dan mengolah 1 juta ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya. (Sumber foto: Corporate Communication PT Freeport Indonesia)

Di luar tambang bawah tanah, Freeport juga terus memperkuat komitmen terhadap hilirisasi. Smelter baru PTFI di Jawa Timur telah berhasil memproduksi katoda tembaga pertama pada Juli 2025, disusul beroperasinya fasilitas pemurnian logam mulia di akhir tahun.

Ke depan, PTFI juga mengandalkan ekspansi cadangan di deposit Kucing Liar, yang kini diperkirakan menyimpan 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas. Proyek ini diproyeksikan mulai berkontribusi signifikan pada 2030 dan menopang keberlanjutan operasional hingga melampaui 2041.

Dengan rencana pengajuan perpanjangan izin tambang pada 2026, Freeport-McMoRan menegaskan posisinya untuk terus menjadi mitra strategis Indonesia dalam industri tembaga dan emas global, sekaligus menandai babak pemulihan pasca-tantangan besar di Grasberg.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya