Sektor AI Belum Masuk Fase Bubble, Ini Alasannya

Praktisi pasar modal Hans Kwee menilai sektor kecerdasan buatan (AI) belum menunjukkan tanda-tanda bubble.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 23 Januari 2026, 17:20 WIB
Fenomena AI saat ini masih jauh dari fase gelembung ekonomi. Selain karena porsi capex yang relatif rendah terhadap GDP, kinerja keuangan perusahaan sektor AI yang tetap solid serta tingginya permintaan infrastruktur menjadi penopang utama industri ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini belum menunjukkan tanda-tanda memasuki fase gelembung (bubble). Menurutnya, indikator pembentukan bubble dari sisi belanja modal atau capital expenditure (Capex) masih relatif rendah dibandingkan ukuran perekonomian global.

Hans menjelaskan, secara historis bubble industri baru biasanya terbentuk ketika porsi capex telah mencapai 2% hingga 5% terhadap Produk Domestik Bruto (GDP). Sementara saat ini, kontribusi capex AI masih jauh di bawah level tersebut.

“Perkiraan kita AI ini belum akan bubble. Kenapa AI belum akan bubble? Pertama, Capex dari AI itu baru sekitar 1% daripada GDP,” ujar Hans dalam Edukasi Wartawan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI, Jumat (23/1/2026).

Selain itu, kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor AI juga dinilai masih solid. Pertumbuhan penjualan dan laba yang berkelanjutan, serta tingginya permintaan terhadap infrastruktur pendukung seperti data center, menjadi faktor lain yang menopang prospek industri ini dalam beberapa tahun ke depan.

“Melihat hal tersebut, kita melihat AI ini belum akan bubble dalam 2 atau 3 tahun ke depan,” tuturnya.

 

Mengganggu Sebagian Besar Jenis Pekerjaan

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka melemah sebesar 12,76 poin. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Namun demikian, Hans menyoroti dampak struktural AI terhadap pasar tenaga kerja global. Ia menyebut adopsi teknologi AI berpotensi mengganggu sebagian besar jenis pekerjaan di negara maju, seiring dengan meningkatnya produktivitas dan perubahan kebutuhan keterampilan.

“Nah, di sisi yang satu, 60% pekerja di negara maju rentan terhadap perubahan besar akibat teknologi AI,” ujar Hans.

Lebih lanjut, Hans menilai transformasi teknologi juga akan mendorong pertumbuhan industri data center dan meningkatkan kebutuhan energi secara signifikan.

Konsumsi listrik untuk aktivitas berbasis AI disebut jauh lebih besar dibandingkan mesin pencari konvensional, sehingga berpotensi memicu lonjakan permintaan listrik dan energi primer, termasuk batubara dan energi baru terbarukan.

Menurutnya, tantangan ke depan tidak hanya terletak pada inovasi teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, institusi pendidikan, serta infrastruktur energi dalam menghadapi perubahan besar yang dipicu oleh AI.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya