Liputan6.com, Jakarta - Provinsi Aceh tengah diterpa kumpulan debu akibat sedimentasi pendangkalan sungai pascabencana banjir.
Peristiwa ini menjadi perhatian khusus bagi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), karena mengkhawatirkan kondisi kesehatan masyarakat.
Advertisement
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani mengatakan, tumpukan debu itu akan terbawa angin saat musim kemarau, maka perlu dilakukan penyiraman.
"Menjadi perhatian kami juga berkaitan dengan bencana di sana, bisa dikatakan itu lebih kepada debu. Jadi, memang setelah sedimentasi itu kan terjadi debu-debu halus itu ya, sehingga saat musim kemarau ketika kering dia akan tersapu. Kami belum secara khusus menangani ini, tetapi biasanya kalau kering itu kan seharusnya dilakukan penyiraman, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh tim yang ada di sana," kata Rasio, mengutip Antara, Jumat (23/1/2026).
Rasio juga menyoroti kualitas udara yang telah bercampur debu itu dikhawatirkan menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Lebih lanjut ia menjelaskan, partikel-partikel halus yang menyebar akibat penumpukan tanah atau lumpur menjadi salah satu permasalahan utama yang menjadi perhatian.
"Karena adanya erosi, terbawa oleh air, kan hujan ini menghancurkan ya, sehingga terjadi erosi. Kemudian material-materialnya terbawa oleh air, yang juga menyebabkan aliran sungainya itu dangkal. Kemudian partikel-partikel halus ini kan berada di sekitar pemukiman tergenang itu, baik di jalan, pengungsian, dan sebagainya," ujarnya.
Masalah Air Bersih dan Pembakaran Sampah
Selain debu, permasalahan air bersih dan pembakaran sampah di sekitar tempat pengungsian juga menjadi sorotan utama.
Oleh karena itu, KLH terus melakukan koordinasi untuk segera menangani hal tersebut.
"Selain debu, kami juga melihat ada dampak terkait dengan air bersih, kemudian juga ada masalah sampah, termasuk sampah yang terbawa oleh banjir, maupun sampah selama aktivitas pengungsian," ungkap Rasio.
Ketiga masalah ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang buruk bagi para pengungsi, terutama jika ketersediaan air bersih tidak segera dipenuhi dan pembakaran sampah semakin tak terarah.
Asap hasil pembakaran sampah dapat memperburuk kualitas udara di sekitar lokasi pengungsian. Sementara kurangnya persediaan air bersih berisiko memicu penyakit kulit dan gangguan pencernaan.
Oleh karena itu, diperlukan penanganan terpadu antara pemerintah daerah, instansi lingkungan, dan pihak terkait lainnya agar kebutuhan dasar pengungsi dapat terpenuhi serta risiko kesehatan dapat diminimalkan.
Penggunaan Water Cannon sebagai Solusi Alternatif
Untuk menangani masalah tersebut, Polres Aceh Selatan menggunakan mobil penyemprot air atau water cannon untuk membersihkan jalan.
Upaya ini dipilih guna memastikan jalan kembali bersih dan mencegah penyakit saluran pernapasan.
Wakapolres Aceh Selatan Kompol Edwin Aldro mengatakan, pembersihan dan penyiraman badan jalan dari debu sisa banjir merupakan respons langsung terhadap rekomendasi dari petugas kesehatan Polri.
"Penyiraman dan pembersihan debu ini dilakukan untuk menghilangkan debu di jalan agar masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih nyaman dan sehat. Kehadiran tim di lapangan bertujuan untuk memastikan kualitas udara kembali layak bagi aktivitas warga," jelasnya.
Ia juga mengatakan, penyemprotan dan pembersihan difokuskan di jalan protokol.
Penyemprotan bahu jalan ini bertujuan untuk menghilangkan tumpukan lumpur kering yang memicu polusi debu di sepanjang jalan utama Kabupaten Aceh Selatan.
Solusi ini diharapkan mampu menjadikan Aceh bersih kembali, serta menjaga kenyamanan dan kesehatan masyarakat.