25 Januari 1990: Pesawat Avianca 052 Jatuh Akibat Kehabisan Bahan Bakar di Long Island

Keseluruhan, ada 159 penumpang serta awak pesawat saat kecelakaan terjadi.

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 25 Januari 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi kecelakaan pesawat (pexels)

Liputan6.com, Washington D.C - Pada malam musim dingin dan penuh badai, penerbangan Avianca 052 jatuh pada 25 Januari 1990 di kawasan berhutan di Long Island, New York, Amerika Serikat, setelah kehabisan bahan bakar saat akan melakukan pendaratan di bandara internasional John F. Kennedy.

Pesawat dengan keberangkatan dari Bogotá dan melalui pemberhentian di Medellín, Kolombia, itu membawa 159 penumpang dan awak. Perjalanan mereka mengalami kondisi cuaca buruk yang menyebabkan pesawat dipaksa berputar-putar di udara menunggu giliran pendaratan saat bandara internasional JFK sedang padat, dilansir dari CBS News, Minggu (25/1/2026).

Namun, komunikasi darurat yang gagal membuat kondisi pesawat tanpa bahan bakar tidak ditangani segera ini akhirnya jatuh menabrak lereng bukit berhutan meski tidak ada api saat pesawat jatuh.

Menurut Lee Dickinson, juru bicara National Transportation Safety Board (NTSB), yang dilaporkan media UPI, awak pesawat tidak secara jelas meminta pendaratan kedua secara darurat setelah upaya pendaratan pertama gagal di bandara internasional JFK akibat kekurangan bahan bakar.

Melalui komunikasi radio, pesawat tersebut hanya menyampaikan bahwa mereka akan melakukan upaya pendaratan kedua meskipun sempat dua kali menyebutkan kemungkinan pesawat kehabisan bahan bakar.

Namun, saat pengendali lalu lintas udara bertanya apakah pesawat tersebut dalam keadaan baik-baik saja, awak pesawat menjawab bahwa situasi mereka masih terkendali. Hingga akhirnya pesawat berputar-putar di udara selama satu jam 29 menit sebelum diizinkan melakukan pendekatan pendaratan pertama.

Tetapi, pendekatan tersebut gagal dan pesawat tidak berhasil mencapai landasan akibat pesawat telah lebih dulu kehabisan bahan bakar. Hal ini dikarenakan awak pesawat tidak secara jelas meminta prioritas untuk pendekatan pendaratan kedua dan mereka jatuh menabrak 30 pohon sebelum menghantam tanah.

 

 

Evakuasi dan Kesaksian Korban Selamat

Ilustrasi mayat. (Pixabay)

Evakuasi penyelamatan menjadi tantangan para petugas yang menuruni lereng curam untuk menjangkau para korban terjebak di antara puing-puing.

Dari tragedi ini, sebanyak 73 orang dinyatakan meninggal dunia dari jumlah penumpang 159 orang, sementara 86 lainnya selamat dengan sejumlah luka-luka, yang terdiri atas 21 anak—10 laki-laki dan 11 perempuan—serta 65 orang dewasa, yakni 38 pria dan 27 perempuan.

Pengalaman mengerikan ini pun diceritakan oleh Laidy Pardo yang berusia delapan tahun saat menghadapi detik-detik pesawat menabrak daratan.

"Orang-orang berteriak, ibu dan saya berdoa sepanjang waktu. Kami (juga) berpegangan tangan dan (terus) berdoa," ucapnya.

Liburan keluarga Pardo bersama ibu dan saudara laki-lakinya berakhir tragis akibat kecelakaan tersebut, di mana mereka berdua termasuk di antara 73 orang yang meninggal dunia, sementara Pardo mengalami patah di kedua kakinya.

Beberapa korban yang selamat ditemukan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, seperti Rumah Sakit North Shore University sebagai tempat perawatan bagi 21 anak selamat yang berada di bawah tanggung jawab Dr. Victor Fornari—seorang psikiater anak yang fasih berbahasa Spanyol.

Setelah 35 tahun kemudian, Pardo yang juga dirawat langsung olehnya kini menjalin hubungan dekat menjadi bagian keluarga barunya.

"Selama masa itu (di tahun berikutnya setelah kecelakaan terjadi), ketika saya merawatmu, kamu menjadi bagian dari hidup saya dan saya bagian dari hidupmu. Saya rasa ikatan itu tidak pernah benar-benar putus," kata Fornari yang mengenang masa-masa menyelamatkan Pardo dan anak-anak lainnya.

 

Pelajaran Penting dari Tragedi

Ilustrasi dokter/dok. Unsplash Hush Naidoo

Selama hampir tiga tahun, ia menjadi pembela dan pelindung bagi anak-anak yang selamat dan membantu mereka untuk terus bertahan hidup.

Bahkan kehidupan Pardo berubah, ia kini berprofesi sebagai psikolog anak dan membagikan pelajaran tentang ketahanan hidup yang dipelajari dari tragedi pesawat Avianca 052.

Dalam tragedi ini, penyelidikan menyimpulkan bahwa kecelakaan terjadi akibat kesalahan atau kekeliruan dalam komunikasi antara awak pesawat dan pengendalian lalu lintas udara.

Dari kurangnya kejelasan di dalam komunikasi terhadap kondisi darurat pada penerbangan Avianca 052 ini pun meninggalkan pelajaran penting bahwa kesalahan sekecil apa pun dalam koordinasi penerbangan dapat berakibat fatal.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya