Liputan6.com, Jakarta - Laju pertumbuhan ekonomi Korea Selatan (Korsel) menunjukkan sinyal perlambatan pada kuartal terakhir 2025. Data awal Bank Sentral Korea (Bank of Korea/BoK) mencatat produk domestik bruto (PDB) Negeri Ginseng hanya tumbuh 1,5 persen secara tahunan (year-on-year) pada periode Oktober–Desember 2025.
Capaian ini berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,9 persen, sekaligus melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih mencatatkan pertumbuhan 1,8 persen.Demikian mengutip CNBC, Kamis (22/1/2026).
Advertisement
Perlambatan ekonomi Korea Selatan ini terjadi di tengah tekanan signifikan pada sektor-sektor utama penopang pertumbuhan, terutama investasi konstruksi dan kinerja ekspor.
Penurunan tajam aktivitas pembangunan, melemahnya investasi fasilitas, serta kontraksi ekspor kendaraan bermotor dan mesin menjadi faktor yang menggerus momentum pemulihan ekonomi. Kondisi ini hanya sebagian tertahan oleh peningkatan moderat konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, yang belum cukup kuat untuk mengimbangi pelemahan sektor riil.
Secara kuartalan (quarter-on-quarter), PDB Korea Selatan bahkan mengalami kontraksi sebesar 0,3 persen, menjadi perlambatan terdalam sejak kuartal IV 2022. Padahal, mayoritas ekonom sebelumnya memperkirakan ekonomi masih mampu tumbuh tipis sekitar 0,1 persen.
Sepanjang 2025, ekonomi Korea Selatan hanya tumbuh 1 persen, menandai laju pertumbuhan tahunan paling lambat sejak tahun 2020 saat pandemi Covid-19 menekan aktivitas ekonomi global.
Perkembangan ini menegaskan tantangan besar yang dihadapi ekonomi Korea Selatan yang sangat bergantung pada ekspor, khususnya di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan global, fluktuasi nilai tukar won, serta potensi tekanan tarif dari Amerika Serikat terhadap produk semikonduktor dan teknologi tinggi.
Di tengah tekanan sektor eksternal, konsumsi swasta masih tumbuh 0,3 persen, didorong oleh peningkatan pengeluaran jasa. Belanja pemerintah juga naik 0,6 persen, terutama untuk tunjangan perawatan kesehatan. Meski demikian, kontribusi kedua komponen ini belum cukup kuat untuk mengangkat pertumbuhan secara keseluruhan.
Investasi Konstruksi dan Fasilitas Tertekan
Berdasarkan data Bank Sentral Korea, investasi konstruksi anjlok 3,9 persen secara kuartalan, dipicu oleh penurunan aktivitas pembangunan gedung dan proyek teknik sipil. Selain itu, investasi fasilitas juga melemah 1,8 persen, terutama akibat turunnya belanja peralatan transportasi.
Dari sisi produksi, sektor manufaktur tercatat turun 1,5 persen, sementara sektor utilitas seperti listrik, gas, dan air bahkan merosot tajam hingga 9,2 persen. Pelemahan ini mencerminkan turunnya aktivitas industri secara luas pada akhir tahun.
Ekspor Menurun di Tengah Ketegangan Dagang
Kinerja ekspor Korea Selatan turut menjadi sorotan. Pada kuartal IV 2025, ekspor turun 2,1 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama akibat melemahnya pengiriman kendaraan bermotor dan mesin.
Padahal, secara tahunan, ekspor Korea Selatan masih mencatat rekor baru sebesar USD 709,7 miliar pada 2025, naik 3,8 persen berkat lonjakan ekspor semikonduktor hingga 22 persen seiring meningkatnya permintaan chip kecerdasan buatan (AI).
Namun, prospek ekspor ke depan dibayangi ketegangan tarif. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memberlakukan tarif 25 persen pada chip AI impor tertentu dan membuka peluang tarif hingga 100 persen bagi produsen Korea Selatan dan Taiwan jika tidak meningkatkan produksi di Amerika Serikat.
Inflasi Terkendali, Won Terus Melemah
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Korea Selatan tercatat 2,1 persen sepanjang 2025, turun dari 2,3 persen pada 2024 dan relatif sejalan dengan target Bank Sentral Korea sebesar 2 persen.
Pekan lalu, bank sentral memutuskan menahan suku bunga acuan di level 2,5 persen dengan fokus menjaga stabilitas keuangan, di tengah pelemahan tajam nilai tukar won dan meningkatnya arus keluar modal.
Won Korea Selatan telah melemah lebih dari 6 persen terhadap dolar AS sejak Juli 2025 dan hingga awal 2026 sudah terdepresiasi hampir 2 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.
Meski demikian, pemerintah Korea Selatan tetap optimistis. Kementerian Ekonomi dan Keuangan baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 2 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,8 persen, dengan harapan pemulihan global dan stabilisasi perdagangan dapat menopang ekonomi ke depan.