Mimpi Buruk Manchester City di Norwegia: Kalah dari Bodo/Glimt, Guardiola Terjepit

Manchester City kalah 1-3 dari Bodo/Glimt di Liga Champions. Rodri dikartu merah, City terancam playoff, dan Pep Guardiola mengakui segalanya terasa salah.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 21 Januari 2026, 14:50 WIB
Kiper Manchester City, Gianluigi Donnarumma, tertunduk setelah gawangnya kebobolan tiga kali di markas Bodo/Glimt dalam laga matchday ketujuh Liga Champions 2025/2026 di Aspmyra Stadion, Bodo, Norwegia, Rabu (21/1/2026) dini hari WIB. (Fredrik Varfjell/NTB via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Masalah Manchester City berlanjut di Eropa setelah kekalahan mengejutkan 1-3 dari Bodo/Glimt pada laga Liga Champions di Norwegia. Hasil ini memperpanjang periode sulit tim asuhan Pep Guardiola.

Kekalahan tersebut datang hanya beberapa hari setelah City terpukul di derby Manchester. Di Norwegia, mereka kembali menunjukkan kerentanan yang sama, terutama di lini belakang.

Situasi ini membuat posisi City di fase liga semakin genting. Laga terakhir melawan Galatasaray kini mengarah menjadi pertandingan penentuan bagi peluang lolos otomatis ke babak 16 besar.


Malam Buruk City di Norwegia

Pemain Manchester City, Abdukodir Khusanov (kiri), dan pemain Bodo/Glimt, Fredrik Bjorkan, berebut bola dalam pertandingan Liga Champions di Norwegia, Rabu (21/1/2026). (Fredrik Varfjell/NTB via AP)

Perjalanan ke wilayah utara Norwegia berubah menjadi mimpi buruk ketika Rodri diusir pada babak kedua. Gelandang asal Spanyol itu dipastikan absen pada laga terakhir fase liga melawan Galatasaray pekan depan.

Bodo/Glimt unggul lebih dulu melalui dua gol cepat Kasper Hogh di pertengahan babak pertama. Setelah jeda, Jens Petter Hauge menambah keunggulan tuan rumah lewat tendangan keras yang membuat skor menjadi 3-0.

Rayan Cherki sempat memperkecil ketertinggalan City, namun kartu merah Rodri memupus harapan kebangkitan. Kekalahan ini membuat City terancam keluar dari delapan besar dan berpotensi harus melalui babak playoff.


Pertahanan Rapuh dan Skuad Termuda

Pemain Manchester City, Erling Haaland (kanan), dan pemain Bodo/Glimt, Jostein Gundersen, berebut bola dalam pertandingan Liga Champions di Norwegia, Rabu (21/1/2026). (Fredrik Varfjell/NTB via AP)

City sebenarnya sempat menguasai permainan dengan sirkulasi umpan pendek. Namun, seperti saat kalah di Old Trafford, garis pertahanan tinggi kembali menjadi celah yang mudah dieksploitasi.

Masalah kian kompleks karena absennya banyak pemain. Guardiola harus berangkat tanpa delapan pemain cedera, ditambah Antoine Semenyo yang tidak terdaftar di fase grup serta kapten Bernardo Silva yang menjalani skorsing.

Kondisi itu memaksa City menurunkan starting XI termuda mereka di Liga Champions. Empat pemain berusia 21 tahun atau lebih muda tampil sejak awal, termasuk bek tengah Max Alleyne yang kesulitan di debutnya dan terlibat dalam dua gol pertama tuan rumah.


Guardiola: Semuanya Berjalan Salah

Periode ini terasa kontras dengan akhir 2025, ketika City menutup tahun dengan delapan kemenangan beruntun. Memasuki 2026, mereka hanya menang dua kali dari tujuh laga dan menelan dua kekalahan beruntun.

“Kami harus bangkit,” kata Guardiola. “Hasil sejak akhir 2025 tidak bagus, baik di Premier League maupun hari ini.”

Lanjut Baca:

Guardiola mengakui laga ini seharusnya menjadi peluang besar bagi timnya. “Sekarang kami harus menatap Wolves dan Galatasaray. Hari ini adalah kesempatan luar biasa bagi kami, tetapi perasaannya seperti semuanya berjalan salah. Anda harus mencoba mengubahnya dan para pemain yang ada akan berusaha melakukannya.” Ia juga menegaskan bahwa City tidak meremehkan lawan. “Kami kalah dan sejak tahun baru ada banyak hal melawan kami. Tapi saya tahu betapa bagusnya mereka. Kami tidak meremehkan mereka. " "Musim lalu mereka sampai semifinal Liga Europa, itu masih segar dalam ingatan kami, dan kami datang tanpa beberapa pemain penting. Kami sedikit rapuh seperti pada beberapa periode musim lalu. Kami harus cepat mengubah dinamika.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya