Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor 200% pada anggur dan sampanye asal Prancis. Ancaman keluar setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak bersedia bergabung dengan "Dewan Perdamaian" yang bentuk Trump untuk masalah Gaza.
Selain itu, Trump menepis pengaruh pemimpin Prancis tersebut dan mengatakan akan menggunakan sanksi perdagangan sebagai alat tawar-menawar.
Advertisement
"Yah, tidak ada yang menginginkannya karena dia akan segera meninggalkan jabatannya,” ujar Trump dikutip dari CNBC, ditulis Rabu (21/1/2026).
"Jadi, tidak apa-apa. Yang akan saya lakukan adalah, jika mereka merasa ingin bersikap bermusuhan, saya akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan sampanyenya, dan dia akan bergabung. Tapi dia tidak harus bergabung,” tegas dia.
Kelompok perdagangan AS, Wine & Spirits Wholesalers of America (WSWA), mengkritik apa yang mereka sebut sebagai "ancaman perdagangan yang bersifat menghukum."
"Komentar yang mengisyaratkan potensi tarif ekstrem—terutama ketika dikaitkan dengan isu non-perdagangan menciptakan ketidakpastian di seluruh sistem tiga tingkat,” kata Presiden dan CEO WSWA, Francis Creighton.
"Bahkan prospek pajak 200% atas barang impor mengirimkan gelombang kejut melalui rantai pasokan, kontrak, dan keputusan penetapan harga, dan pada akhirnya membahayakan pekerjaan di Amerika.”
Penjualan anggur tercatat turun selama 52 bulan berturut-turut di AS, menurut data akhir tahun 2025 WSWA. Penjualan melemah lemah, meskipun makan di restoran menyumbang lebih dari setengah total pendapatan anggur.
Namun, sampanye menonjol sebagai salah satu titik terang—mewakili hampir 17% dari pendapatan anggur bersoda dan terus meningkat—sebuah tren yang terancam oleh kemungkinan bea masuk pada produk Prancis.
Ancaman Trump Guncang Eropa
Masa jabatan presiden Macron selama lima tahun akan berakhir pada Mei 2027, dan berdasarkan hukum Prancis, ia tidak dapat mencalonkan diri lagi untuk masa jabatan ketiga.
Dewan Perdamaian adalah badan global yang disetujui Dewan Keamanan PBB pada November tahun lalu, yang dibentuk untuk mengawasi gencatan senjata Israel-Hamas.
Undangan telah dikirim kepada berbagai pemimpin dunia untuk menjadi anggota dewan, termasuk kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Trump juga menegaskan kembali rencananya untuk mengendalikan Greenland, meremehkan kemungkinan perlawanan dari Eropa.
"Saya rasa mereka tidak akan terlalu menentang,” katanya.
"Kita harus memilikinya... Mereka tidak bisa melindunginya.”
Merujuk pada klaim historis Denmark atas Greenland, Trump mengatakan para pemimpin Denmark adalah "orang-orang yang sangat baik," tetapi berpendapat bahwa kehadiran selama berabad-abad tidak memberikan kepemilikan.
"Hanya karena kapal itu pergi ke sana 500 tahun yang lalu dan kemudian pergi, itu tidak memberi Anda hak kepemilikan atas properti." Tidak jelas "kapal" mana yang dimaksud Trump.
Wall Street Anjlok
Sebelumnya, investor kembali menghidupkan strategi Sell America pada Selasa, 20 Januari 2026 yang berdampak terhadap bursa saham Amerika Serikat atau wall street. Investor melepas saham, obligasi dan dolar AS di tengah kekhawatiran tentang perselidihan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan pemimpin Eropa mengenai kepemilikan Greenland.
Mengutip CNN, Rabu (21/1/2026), indeks Dow Jones merosot 871 poin atau 1,76%. Indeks S&P 500 terpangkas 2,06%. Indeks Nasdaq terperosok 2,39%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kompak menghapus kenaikan pada 2026.
Dow, S&P, dan Nasdaq masing-masing mengalami hari terburuk mereka sejak 10 Oktober, ketika Trump mengancam akan menaikkan tarif impor dari China.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, turun 0,8% pada hari Selasa — pergerakan besar di pasar mata uang. Indeks dolar mengalami hari terburuknya sejak Agustus. Euro naik 0,65% terhadap dolar.
Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun, yang diperdagangkan berlawanan arah dengan harga, naik menjadi 4,29%. Imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun melonjak menjadi 4,92%. Kedua imbal hasil tersebut mencapai level tertinggi sejak September.
“Ini adalah ‘Jual Amerika’ lagi dalam konteks penurunan risiko global yang jauh lebih luas,” kata wakil ketua di Evercore ISI Krishna Guha, dalam sebuah catatan. “Fakta bahwa dolar jatuh sementara euro naik di tengah krisis menunjukkan bahwa investor global secara marginal berupaya mengurangi atau melindungi eksposur mereka terhadap AS yang volatil dan tidak dapat diandalkan.”
“Yang masih perlu ditentukan adalah besarnya dan durasi dinamika ini,” kata Guha.