Korban Tewas Tabrakan Kereta di Spanyol Naik Jadi 39 Orang

Upaya penyelamatan masih terus berlangsung.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 Januari 2026, 17:56 WIB
Seorang korban luka dievakuasi ke rumah sakit darurat yang dibangun di pusat olahraga di Adamuz, dekat Cordoba, di wilayah selatan Spanyol, pada Senin (19/1/2026), menyusul kecelakaan kereta cepat yang tergelincir dan bertabrakan dengan kereta lainnya. (Dok. Francisco J. Olmo/Europa Press via AP)

Liputan6.com, Madrid - Kepolisian Spanyol pada Senin (19/1/2026) menyatakan sedikitnya 39 orang dipastikan tewas dalam tabrakan dua kereta cepat yang terjadi pada Minggu (18/1) malam di bagian selatan Spanyol. 

Video dan foto yang beredar memperlihatkan gerbong-gerbong kereta yang ringsek dan terbalik di bawah sorotan lampu darurat. Para penumpang dilaporkan keluar melalui jendela yang pecah, sebagian menggunakan palu darurat untuk memecahkan kaca. Hal itu disampaikan jurnalis penyiar Spanyol RTVE Salvador Jimenez yang berada di dalam salah satu kereta yang tergelincir.

Dalam sambungan telepon dengan stasiun televisi tersebut pada Minggu, Jimenez mengatakan, "Ada momen ketika terasa seperti gempa dan kereta benar-benar keluar dari rel."

Kecelakaan terjadi ketika bagian belakang sebuah kereta yang membawa sekitar 300 penumpang pada rute dari Malaga menuju ibu kota Madrid keluar dari rel pada pukul 19.45 waktu setempat. Kereta itu, menurut operator perkeretaapian Adif, kemudian menabrak kereta lain yang melaju dari Madrid menuju Huelva.

Tabrakan terjadi di dekat Adamuz, sebuah kota kecil di Provinsi Cordoba, sekitar 370 kilometer di selatan Madrid.

Polisi Spanyol seperti dikutip dari laporan Associated Press menyebutkan 159 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, lima orang berada dalam kondisi kritis dan 24 orang lainnya dalam kondisi serius. Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente mengatakan jumlah korban tewas belum final.

Di Adamuz, sebuah pusat olahraga diubah menjadi rumah sakit darurat. Palang Merah Spanyol mendirikan pusat bantuan untuk mendukung layanan darurat serta membantu warga yang mencari informasi. Anggota Guardia Civil dan pertahanan sipil Spanyol bekerja di lokasi kejadian sepanjang malam.

 

"Kecelakaan yang Aneh"

Para penumpang menunggu di aula Stasiun Kereta Madrid, Spanyol, pada Minggu 18/1/2026), setelah pengumuman penghentian layanan akibat kecelakaan yang melibatkan dua kereta yang anjlok di Cordoba. (Dok. Carlos Lujan/Europa Press melalui AP)

Puente pada Senin pagi mengatakan penyebab kecelakaan belum diketahui. Ia menyebut insiden tersebut "sangat aneh" karena terjadi di jalur rel yang datar dan baru direnovasi pada Mei lalu. Ia juga mengatakan kereta yang keluar dari rel berusia kurang dari empat tahun.

Kereta tersebut milik perusahaan swasta Iryo, sementara kereta kedua yang menerima dampak terberat merupakan bagian dari perusahaan kereta api publik Spanyol Renfe.

Menurut Puente, bagian belakang kereta pertama tergelincir dan menabrak bagian depan kereta lainnya, sehingga dua gerbong pertama kereta Renfe keluar dari rel dan jatuh ke lereng sedalam sekitar empat meter. Ia mengatakan kerusakan terparah terjadi pada bagian depan kereta Renfe.

Ketika ditanya wartawan mengenai lamanya penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan, Puente mengatakan proses tersebut bisa memakan waktu hingga satu bulan.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban.

"Malam ini adalah malam duka yang mendalam bagi negara kita," tulisnya di platform X.

Menurut Uni Eropa, Spanyol memiliki jaringan rel terbesar di Eropa untuk kereta yang melaju lebih dari 250 kilometer per jam, dengan panjang lebih dari 3.100 kilometer.

Jaringan ini merupakan moda transportasi yang populer, berharga kompetitif, dan dikenal aman. Renfe menyebutkan lebih dari 25 juta penumpang menggunakan layanan kereta cepatnya sepanjang 2024.

Layanan kereta pada Senin antara Madrid dan kota-kota di wilayah Andalusia dibatalkan pasca kecelakaan.

Kecelakaan kereta terburuk di Spanyol pada abad ini terjadi pada 2013, ketika 80 orang tewas akibat sebuah kereta tergelincir di bagian barat laut negara itu. Penyelidikan menyimpulkan kereta tersebut melaju dengan kecepatan 179 kilometer per jam di jalur yang memiliki batas kecepatan 80 kilometer per jam saat keluar dari rel.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya