Presiden Iran: Serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei Merupakan Deklarasi Perang

Trump menyebut Khamenei sebagai "pemimpin yang sakit".

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 Januari 2026, 11:00 WIB
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (AP)

Liputan6.com, Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap pemimpin tertinggi Iran akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap bangsa Iran. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut sudah waktunya mencari kepemimpinan baru di Iran.

Peringatan itu muncul di tengah situasi dalam negeri Iran yang dilaporkan masih tegang akibat gelombang demonstrasi besar dan pemadaman akses internet yang telah berlangsung selama 10 hari. Menurut kelompok pemantau internet Netblocks seperti dikutip dari laporan France24, akses internet sempat kembali secara terbatas pada Minggu (10/1/2026) waktu setempat sebelum kembali terputus.

Netblocks menyebut lalu lintas internet di Iran sempat meningkat setelah pemulihan singkat dan sangat terbatas pada sejumlah layanan Google dan aplikasi pesan, namun kemudian kembali menurun.

Demonstrasi di Iran pecah pada akhir Desember, dipicu kemarahan publik terhadap kesulitan ekonomi. Aksi protes kemudian berkembang menjadi protes nasional yang secara luas dipandang sebagai tantangan terbesar terhadap kepemimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Unjuk rasa mereda setelah aparat keamanan melakukan penindakan keras. Kelompok hak asasi manusia menyebut tindakan tersebut sebagai "pembantaian", yang dilakukan di bawah perlindungan pemadaman komunikasi nasional yang dimulai pada 8 Januari. Langkah itu dinilai bertujuan menutupi skala penindasan terhadap para demonstran.

Pemerintah Iran menyatakan bahwa demonstrasi awalnya berlangsung damai sebelum berubah menjadi kerusuhan. Otoritas Iran juga menuduh adanya campur tangan asing, khususnya dari AS dan Israel, yang selama ini menjadi musuh utama Teheran.

Di sisi lain, Trump, yang pada Juni lalu bergabung dengan Israel dalam perang selama 12 hari melawan Iran, sebelumnya berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer baru terhadap Teheran jika para pengunjuk rasa terus dibunuh.

Meski Washington tampak mengendurkan sikapnya, Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dalam wawancara dengan Politico pada Sabtu. Ia mengatakan sudah "waktunya mencari kepemimpinan baru di Iran".

"Ia adalah pemimpin yang 'sakit' dan seharusnya mengelola negaranya dengan baik, bukan membunuh rakyatnya sendiri," ujar Trump.

Lalu Presiden Pezeshkian kemudian menulis di platform media sosial X pada Minggu bahwa "serangan terhadap pemimpin besar negara kami sama dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran".

 

 

 

 

Informasi yang Simpang Siur

Dalam foto yang diperoleh The Associated Press ini, warga Iran dilaporkan mengikuti aksi demonstrasi anti-pemerintah di Teheran, Iran, Jumat, 9 Januari 2026. (Dok. UGC via AP)

Di tengah saling serang pernyataan antara para pemimpin di Washington dan Teheran, pejabat Iran mengklaim situasi di jalanan telah kembali kondusif. Wartawan AFP melaporkan kehadiran pasukan keamanan dengan kendaraan lapis baja dan sepeda motor di pusat Teheran.

Sekolah-sekolah di Iran dibuka kembali pada Minggu setelah ditutup selama sepekan. Dalam rapat kabinet, Pezeshkian menyatakan telah merekomendasikan kepada sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi agar pembatasan internet dicabut sesegera mungkin.

Sejumlah pengguna melaporkan telah bisa mengakses WhatsApp. Panggilan internasional keluar kembali berfungsi sejak Selasa lalu, sementara layanan pesan singkat dipulihkan pada Sabtu (17/1).

Kantor berita Fars pada Minggu melaporkan bahwa direktur utama Irancell, operator seluler terbesar kedua di Iran, diberhentikan karena gagal mematuhi keputusan pemerintah untuk memutus akses internet.

Sementara itu, aksi solidaritas terhadap para pengunjuk rasa Iran terus berlangsung di berbagai kota dunia, termasuk Berlin, London, dan Paris.

Meski akses komunikasi dibatasi, informasi tetap berhasil keluar dari Iran. Kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan munculnya berbagai kesaksian dan video yang menunjukkan dugaan kekejaman aparat keamanan.

Amnesty International menyatakan telah memverifikasi puluhan video dan laporan yang menunjukkan adanya pembantaian terhadap para demonstran oleh pasukan keamanan.

Organisasi Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengklaim telah memverifikasi kematian 3.428 pengunjuk rasa akibat tindakan aparat keamanan. Verifikasi dilakukan melalui sumber di sistem kesehatan Iran, saksi mata, serta sumber independen lainnya.

Namun, IHR memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Media internasional belum dapat mengonfirmasi angka tersebut secara independen, sementara pejabat Iran belum merilis angka resmi korban tewas.

Perkiraan lain menyebut jumlah korban meninggal lebih dari 5.000 orang, bahkan bisa mencapai 20.000 jiwa. IHR menyatakan pemadaman internet sangat menghambat upaya verifikasi independen.

Saluran oposisi Iran International yang berbasis di luar negeri mengklaim sedikitnya 12.000 orang tewas selama gelombang protes, dengan mengutip sumber senior pemerintah dan keamanan Iran. Namun, angka tersebut telah dibantah oleh lembaga peradilan Iran.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya