3 Pegawai Kementerian Kelautan Dipastikan jadi Penumpang Pesawat ATR 42-500

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyerahkan proses penumpang pesawat ATR 42-50 kepada Basarnas.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 17 Januari 2026, 21:52 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengkonfirmasi adanya tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menaiki pesawat ATR 42-500.

Pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar dinyatakan hilang kontak di Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu, 17 Januari 2026. 

Adapun Trenggono hadir dalam sesi konferensi pers di Kantor KKP pada Sabtu malam ini, untuk memberikan pernyataan soal beredarnya foto dan video terkait temuan serpihan logo KKP di  

Trenggono mengatakan, dirinya menghadiri sesi konferensi pers di Kantor KKP pada Sabtu malam ini untuk memberikan pernyataan terkait temuan serpihan logo KKP di area pegunungan. 

"Perlu kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP di pesawat tersebut yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara di wilayah pengelolaan perikanan di Republik Indonesia," ujarnya. 

Ketiga orang pegawai KKP tersebut berasal dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Antara lain, Ferry Irawan dengan pangkat penata muda tingkat 1, jabatan analis kapal pengawas. 

Kemudian, Deden Mulyana dengan pangkat penata muda tingkat 1, jabatan pengelola barang milik negara. Lalu Yoga Naufal dengan jabatan operator foto udara. 

Serahkan Pencarian ke Basarnas

Trenggono menyerahkan proses pencarian penumpang pesawat ATR 42-500 kepada Badan SAR Nasional (Basarnas), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). 

"Untuk memantau perkembangan pencarian pesawat air surveillance tersebut, terkait hal pencarian dan penyebab insiden kami serahkan seluruhnya kepada Basarnas, Knkt dan Kementerian Perhubungan," tuturnya. 

"Berdasarkan update terakhir dari Kepala Kantor SAR Nasional Makassar yang dihubungi PSDPKP, pada tanggal 17 Januari 2026 pukul 19.20 WIB, status pesawat, kru dan penumpang sedang dilakukan pencarian atau search and rescue oleh tim SAR gabungan," kata Trenggono. 

 

Hilang Kontak di Maros

Pesawat ATR 42-500 (Foto: Indonesia Air Transport)

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menerima laporan terkait hilangnya kontak (loss contact) pesawat udara jenis ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat dengan registrasi PK-THT ini dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa menyampaikan, pesawat ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta Adi Sucipto (JOG) menuju Makassar Sultan Hasanuddin (UPG), dengan Pilot in Command Capt Andy Dahananto.

Berdasarkan informasi kronologis terbaru pada pukul 04.23 UTC, pesawat diarahkan oleh Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

"Dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi," jelas Lukman, Sabtu (17/1/2026).

Lukman mengatakan, ATC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan guna membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur.

"Setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, komunikasi dengan pesawat terputus (loss contact)," ungkap dia. 

Deklarasi Fase Darurat

Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.

AirNav Indonesia Cabang MATSC segera melakukan koordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Kepolisian Resor Maros melalui Kapolsek Bandara guna mendukung langkah pencarian dan pertolongan.

"Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar telah melakukan persiapan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi," kata Lukman. 

Target Lokasi Pencarian

Usai kejadian ini, target pencarian difokuskan di pegunungan kapur Bantimurung, desa Leang-leang, Kabupaten Maros dan menjadi Posko Basarnas di dekat lokasi.

Pencarian lanjutan direncanakan dilakukan melalui penerbangan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas yang dijadwalkan pada pukul 16.25 WITA.

AirNav Indonesia saat ini juga tengah menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait kegiatan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue).

Kondisi Cuaca dan Jumlah Penumpang

Informasi awal terkait kondisi cuaca pada saat kejadian menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi cuaca di sekitar area dilaporkan sedikit berawan. Detail dan konfirmasi lebih lanjut masih dalam proses koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Adapun jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) dilaporkan sebanyak 10 orang. Terdiri atas 7 awak pesawat dan 3 penumpang," pungkas Lukman. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya