Liputan6.com, Aceh Tamiang - Sekitar 1,5 bulan pasca banjir dan tanah longsor, masih ada sebagian warga Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh berada di pengungsian. Paling tidak, ada 129 titik pengungsian yang tersebar di enam kecamatan di Aceh Tamiang per 15 Januari 2026.
Kondisi pengungsian dengan segala keterbatasan serta banyak orang berkumpul di satu tempat dalam waktu lama memicu berbagai keluhan kesehatan. Infeksi penyakit saluran pernapasan atas (ISPA) masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang banyak ditemukan pada warga di pengungsian. Disusul diare lalu skabies atau masalah pada kulit seperti disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tamiang dr Mustakim MKes SpDPL.
Advertisement
Selain itu, ditemukan juga masalah kesehatan yang telah dimiliki pengungsi sebelumnya seperti diabetes atau hipertensi.
"Ada memang pelayanan yang di saat ini dibutuhkan untuk pelayanan penyakit kronis, yang konsisten, yang sustainable atau yang berkepanjangan," kata Mustakim ditemui di RSUD Muda Sedia Tamiang, Aceh Tamiang pada Kamis, 15 Januari 2026.
Melihat ada konsistensi kecenderungan penyakit, Mustakim telah meminta tim untuk menyiapkan obat sesuai kebutuhan di lapangan.
"Tetap kita pada titik pengungsi melakukan proses persiapan kebutuhan obat sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan," katanya.
Masalah Kesehatan Intai Warga yang Sudah Kembali ke Rumah
Bukan cuma warga di pengungsian, warga Aceh Tamiang yang sudah kembali ke rumah juga mengalami masalah kesehatan. Kondisi Aceh Tamiang yang berdebu membuat ISPA juga menempati urutan teratas masalah kesehatan yang ditemui di lapangan.
"Kasus terbanyak adalah ISPA, karena usai banjir ini banyak debu ya yang membuat masyarakat terkena ISPA," kata salah satu Tenaga Cadangan Kesehatan Batch 2, dokter Selly Famela Chasandra yang tengah bertugas melayani masyarakat di Desa Kaloi, Tamiang Hulu, Aceh Tamiang.
Selain itu, penyakit kulit, diare serta dispepsia. Dispepsia adalah sindrom gejala gangguan pencernaan bagian atas seperti nyeri ulu hati, kembung, cepat kenyang, mual, dan sensasi terbakar setelah makan.
Selain itu, keluhan khas yang banyak ditemukan pascabencana pun bermunculan. Mulai dari kaki tertancap benda tajam hingga terjatuh saat membersihkan bekas banjir.
Salah satu cerita datang dari warga Dusun Simpang Tiga, Desa Kaloi, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang bernama Elte (42). Ia terjatuh saat membersihkan rumah usai banjir surut pada akhir 2025 lalu.
"Kepleset lumpur ini pas bersih-bersih, jadinya kebanting," cerita Elte ke Liputan6.com
Cerita Elte Jalani Pengobatan Usai Terpleset Saat Membersihkan Lumpur
Elte pun sudah ke tukang urut dengan harapan nyeri yang dirasakan bisa hilang. Namun, sakit di lengan kirinya tak kunjung berkurang. "Oh sakitnya minta ampun sampai enggak bisa diangkat."
Hingga akhirnya pada Kamis, siang 15 Januari 2026 ia mendengar ada tim dokter yang mendatangi desanya tepat di Masjid Al Ikhlas. Salah satunya ada dokter spesialis neurologi yang merupakan bagian dari Tenaga Cadangan Kesehatan Batch 2 yang dikirimkan Kementerian Kesehatan memberikan pelayanan kesehatan pada warga Aceh Tamiang.
Elte pun mendapatkan penanganan dari dokter spesialis neurologi Dwi Asep Rianto Fani. Setelah menjalani pemeriksaan, Elte mendapatkan suntikan untuk mengurangi inflamasi di bahu yang timbul akibat terjatuh.
"Yang kita lakukan adalah penyuntikan obat untuk mengurangi inflamasi atau peradangan di bahunya sehingga nyerinya bisa berkurang. Sehingga ibu tersebut bisa kembali beraktivitas," tutur dokter yang biasanya berpraktik di Bangka Belitung ini.
"Di kondisi seperti ini dituntut untuk bisa membersihkan rumah, dan mencuci dan yang lain-lainnya," katanya.
Elte pun bersyukur bisa ditangani dokter spesialis tanpa perlu pergi jauh-jauh ke kota untuk menangani lengannya yang nyeri.