BPBD: Fenomena Longsoran Tanah di Aceh Tengah Terus Membesar Sejak Awal 2000-an

BPBD Aceh tengah mencatat pergerakan longsoran tanah di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, telah berlangsung perlahan sejak awal2000-an dan hingga kini terus dilakukan penanganan berkelanjutan terhadap perkembangan gerakan tanah.

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 16 Januari 2026, 13:03 WIB
Foto udara suasana perkebunan milik warga yang amblas di jalan lintas Kecamatan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh, Selasa (14/1/2026). Sumber ANTARA FOTO/Abiyyu

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan fenomena pergerakan longsoran tanah di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah terus mengalami pembesaran sejak pertama kali teridentifikasi tahun 2000-an.

Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika menjelaskan bahwa dari sejumlah keterangan, tanda-tanda awal berupa lubang kecil di permukaan tanah sudah terlihat sejak awal tahun 2000-an dan terus terjadi secara bertahap.

"Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004," ujar Andalika, melansir Antara, pada Sabtu (17/1/2025).

Menurut Andalika, hingga saat ini belum terdapat literatur atau kajian ilmiah yang benar-benar menjelaskan secara pasti penyebab awal terbentuknya longsoran tanah berbentuk lubang tersebut.

Namun, dampak dari pergerakan tanah itu sudah sejak lama, termasuk adanya gangguan terhadap infrastruktur vital.

Berdasarkan laporan masyarakat, sekitar 2006, longsoran tersebut sempat memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik yang merupakan jalur penghubung Kabupaten Aceh Tengah-Bener Meriah.

Selain itu, pada 2013-2014, pemerintah juga telah melakukan rekolaksi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru.

"Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut," terang Andalika.

Kajian Geologi: Longsoran Aktif dan Berkelanjutan

Tim Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meninjau amblesan tanah di Kampung Legoknyenang, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. (Foto: Humas Badan Geologi)

Andalika menjelaskan, sebelumnya telah dilakukan kajian terkait fenomena longsoran tanah tersebut. Berdasarkan data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahunnya.

Sejak 2011, Dinas ESDM Aceh mulai melakukan pengukuran luasan skala longsoran tanah. Data terbaru pada 2025, luasan longsoran tanah mencapai lebih dari 27 ribu meter luas dan posisinya semakin mendekati jalan lintas di kawasan tersebut.

Pada 2022, tim geologi dan survei geofisika Dinas ESDM Aceh  juga pernah melakukan kajian kolaboratif bersama BPBD Aceh Tengah.

Hasil kajiannya menunjukkan bahwa longsoran tanah di Kampung Bah berada pada lapisan tanah permukaan yang memiliki zona jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah menghantarkan air.

"Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan. Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan," kata Andalika.

Andalika menjelaskan, longsoran tanah di Kampung Bah bukan merupakan amblesan tanah sinkhole klasik yang terbentuk karena adanya lubang runtuh secara tiba-tiba.

"Melainkan pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan (slow moving landslide)," ucap Andalika.

Faktor Penyebab dan Upaya Penanganan

Kesembilan daerah terdampak itu adalah Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Singkil, Gayo Lues, Aceh Selatan, dan Langsa. Tampak dalam foto, seorang pria dan seorang wanita membawa barang-barang mereka saat mengarungi banjir di jalan yang tergenang akibat hujan deras di permukiman Darul Imarah di pinggiran Banda Aceh pada Kamis 27 November 2025. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Lebih lanjut, Andalika menuturkan longsoran tanah di Kampung Bah itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Struktur tanah di lokasi tersebut tersusun dari material hasil letusan gunung api mudah tererosi, bersifat mudah jenih dan mudah bergerak,  tidak termampatkan dan berumur muda (kuarter).

Curah hujan tinggi di daerah pegunungan turut mempercepat proses erosi, sehingga memperluas area longsoran. Selain itu, kondisi lereng dan kemiringinan tanah yang curam membuat cepat tererosi.

Visualisasi longsoran tanah juga memperlihatkan bidang gelincir mendekati sudut 90 derajat membuat tanah semakin tidak stabil.

"Retakan lama menjadi jalur masuk air baru. Pada saat terjadinya hujan, air akan masuk ke celah-celah tanah dan retakan yang lama, sehingga dapat sangat mudah memperluas skala longsoran tanah," papar Andalika.

Faktor beban dinamis dan statis juga memperparah kondisi tanah. Jalan Blang Mancung-Simpang Balik merupakan jalur lalu lintas utama yang dilalui kendaraan berat, sehingga tekanan terus-menerus mempercepat pelemahan struktur tanah. Beban lainnya yang memicu penekanan pada tanah seperti power sutet dan aktivitas perkebunan warga di sekitar lokasi yang turut memberikan beban tambahan.

Aktivitas gempa bumi juga dinilai berpotensi memicu pergerakan tanah. Getaran gempa dapat menganggu kestabilan lereng, terlebih dengan meningkatnya aktivitas gempa tektonik dan vulkanis Gunung Api Burni Telong Kabupaten Bener Meriah yang berjarakk sekitar 20-35 kilometer dari lokasi.

"Namun, hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut terkait korelasi aktivitas gempa bumi dengan dampak meluasnya longsoran tanah di lokasi tersebut," katanya.

Dalam kesempatan ini, Andalika menyatakan bahwa perlu adanya rekomendasi struktural/teknis dan non-struktural lebih lanjut terkait penanganan longsoran tanahnya. Sejauh ini, menurutnya, mereka terus melakukan pemantauan berkala dan berkelanjutan terhadap perkembangan gerakan tanah.

Terkait pemukiman warga, Andalika menyebutkan bahwa jarak pemukiman terdekat sekitar satu kilometer dari titik longsoran. Hingga kini, belum ada rencana terkait relokasi bagi warga

"Perkampungan jarak lebih kurang satu km dari titik longsoran. Untuk pemukiman belum ada rencana untuk relokasi. Mungkin setelah ada kajian terbaru baru bisa disimpulkan," papar Andalika.

Ia menambahkan, koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk menentukan langkah penanganan yang paling tepat.

"Kita juga terus berkoordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas PUPR, Dinas ESDM dan OPD pemerintah lainnya terkait langkah jitu relokasi trase jalan Simpang Baling-Blang Mancung, dan keberadaan power sutet serta perkebunan masyarakat di sekitar lokasi tersebut," tutup Andalika.

                                                                                                          

 

Ternyata, selain pasukan oranye, Jakarta punya penjaga lingkungan lainnya (Liputan6.com)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya