Iran Bantah Klaim Akan Eksekusi Mati Para Demonstran

Bantahan disampaikan langsung oleh menteri luar negeri Iran kepada media AS.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 15 Januari 2026, 15:32 WIB
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (14/1/2026) membantah klaim bahwa otoritas Iran berencana mengeksekusi para demonstran setelah berminggu-minggu gelombang demonstrasi melanda negara itu.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun penyiaran berbasis di Amerika Serikat (AS), Fox News, Araghchi menegaskan bahwa tidak ada rencana eksekusi di Iran.

"Tidak ada hukuman gantung, hari ini atau besok. Saya bisa mengatakan itu dengan yakin. Tidak ada rencana untuk melakukan hukuman gantung sama sekali," ujar Araghchi.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (13/1) mengatakan bahwa Washington akan mengambil tindakan yang sangat kuat apabila Iran melaksanakan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.

Trump dan sejumlah pejabat AS lainnya telah meningkatkan retorika terhadap Iran di tengah protes yang menyebar di berbagai wilayah negara itu sejak akhir bulan lalu. Demonstrasi dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi.

Araghchi juga mengklaim bahwa situasi di Iran telah kembali kondusif dan pemerintah berada dalam kendali penuh. Ia menyebut bahwa negaranya sebelumnya menghadapi operasi terorisme berskala besar.

"Kami menghadapi operasi terorisme besar sebagai kelanjutan dari perang 12 hari yang dipaksakan kepada kami oleh Israel dan AS," kata Araghchi. "Jadi, hari ke-13 perang adalah 8 Januari. Kami berada di tengah perang dan setelah tiga hari operasi terorisme, kini situasinya telah terkendali."

Pejabat Iran sebelumnya menuduh AS dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai "kerusuhan" dan "terorisme" di tengah gelombang protes tersebut.

 

Pesan Iran ke AS

Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di pusat kota Teheran, Iran, Senin, (29/12/2025). (Dok. Fars News Agency via AP)

Menanggapi laporan yang menyebutkan lebih dari 12.000 orang tewas selama aksi protes, Araghchi menolak klaim tersebut dan menyebutnya tidak berdasar dan bagian dari kampanye misinformasi. Ia menegaskan bahwa jumlah korban tewas berada pada kisaran "ratusan".

Saat ditanya mengenai jumlah pasti demonstran yang tewas, Araghchi mengatakan bahwa angka tersebut akan diumumkan segera.

Hingga kini, pihak berwenang Iran belum merilis angka resmi terkait jumlah korban jiwa maupun orang yang ditahan. Sementara itu, Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah kelompok yang berbasis di AS memperkirakan sedikitnya 2.500 orang telah tewas, termasuk demonstran dan personel keamanan, serta lebih dari 1.100 orang mengalami luka-luka.

Kelompok tersebut juga menyatakan bahwa lebih dari 18.000 orang telah ditahan. Namun, angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Saat ditanya oleh Fox News mengenai apa yang akan ia sampaikan kepada Trump, Araghchi dilaporkan mengatakan, "Jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang Anda lakukan pada bulan Juni."

"Pesan saya adalah: di antara perang dan diplomasi, diplomasi adalah jalan yang lebih baik, meskipun kami tidak memiliki pengalaman positif apa pun dengan AS. Namun demikian, diplomasi tetap jauh lebih baik dibandingkan perang," ujar Araghchi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya